cerpen cinta segi empat

Ku letakan gelas yang masih terisi setengah coklat panas. Kembali ku hisap rokoku ketika tangan Rendy memegang lembut tangan Nabila. ”Hem, mesrah sekali!” Bisiku dalam hati. Jujur aku sangat cemburu. Aku sadar bahwa aku sangat sayang kepada Nabila, tapi aku tak mau menghancurkan persahabatan kami. Karena sudah dari semester satu sampai saat ini kami berteman. Dulu Rendy dan Nabila tidak pacaran, tapi mungkin karena akrab dan seringnya ketemu jadinya mereka pacaran deh. Jadi ingat waktu dulu nih, waktu hujan-hujan di sebuah restoran prancis, aku dan Nabila janjian buat ketemuan. Niatku dalam hati sih ingin mengungkapkan cintaku, tetapi ketika aku baru mau mulai berkata dia langsung berkata, ”Aku udah jadian sama Rendy tadi siang.” Memang hatiku sangat hancur saat itu, tetapi aku sadar bahwa persahabatan adalah segala-galanya. Lamunanku terbuyar saat lembut tangan Nabila mencubit lembut lenganku. Aku terperanjat dan langsung salah tingkah. ”Lagi ngelamunin apa nih?” Nabila berkata dengan manis sambil tangannya menarik-narik sedotan dari gelas yang dia pegang. ”Nggak, aku lagi mikirin mata kulia nih!” Jawabku dengan agak gugup. ”Pasti lagi ngelonjor tuh, alias ngelamun jorok!!! Ia kan?” Ketus Rendy dengan suara besar dan agak terbahak. Aku hanya bisa diam dan kembali menyedot coklat panas yang sudah dingin sambil memandangi Rendy dan Nabila tertawa mesrah. Saat tepat jam 4 sore, kami pulang ke rumah. Seperti biasa, Nabila pulang sendiri dan aku bersama Rendy pulang ke kos-kosan kami. Di tengah perjalanan tiba-tiba rendy mengajak aku ngomong serius. Dalam hati aku bertanya, ”Rendy mau ngomongin apa? Jarang-jarang dia serius kaya gini.” ”Rik, gua besok mau pulang ke Surabaya.” Rendy berkata dengan nada rendah. ”Ngapain lo ke Surabaya, kulia aja belum selesai?!” Aku menjawab sambil menyalakan rokoku yang kedua. ”Gua mau nerusin usaha bokap ki! Bokap udah sakit-sakitan!” Rendy bicara dengan agak serak, sepertinya dia menahan sesuatu. Aku tidak menanggapi langsung, aku asyik melihat anak kecil di depanku sedang meniup sedotan pelastik sambil mengosok-gosokan kepalanya ke pundak ibunya. ”Gua serius!!!” Teriak Rendy mengagetkanku. ”Sory gua ngelamun” Jawabku mencari alas an. ”Terus?” Rendy bertanya dengan wajah serius. ”Terus apanya?” Aku bertanya balik karna bingung. Jujur aku baru sekali ini melihat Rendy kaya gini. Selama ini dia orangnya ketimpringan, suka ketawa-ketiwi, dan rame banget deh!! Dalam catatan pertemanan aku sama Rendy, tidak pernah dia serius seperti ini. ”Nabila” Jawab Rendy dengan agak lemas sambil mengusap rambutnya yang sedari tadi kusut. ”Kenapa Nabila?” Aku bertanya lagi. ”Gua nggak mungkin mbawa Nabila” Rendy berkata sambil membuka kaca angkot yang kami tumpangi. Tiupan angin segar seketika masuk dari kaca jendela. ”Terus Nabila gimana?” Aku kembali bertanya. Tadinya aku nggak serius, tetapi setelah mendengar nama Nabila aku langsung tanggap dan serius. Aku nggak tau setiap aku mendengar nama itu hatiku jadi bergetar. Aku selalu cemburu ketika aku ngedengar cowo lain menyebut nama itu. ”Gua mau nitipin Nabila ke lo” Rendy berkata sambil melihat ke lantai angkot. Rambutnya yang berantakan dan panjang melambai-lambai di tiup angin dari jendela mobil. ”Dititipin sama gua?” Aku kembali bertanya. Jujur aku sangat senang mendengar kata itu. Dalam hati aku ingin sekali Rendy cepat pulang ke Surabaya agar aku bisa berdua bersama Nabila. Ia, hanya berdua saja. Memang kalau dirasa aku sangat jahat, tetapi itulah yang ada dalam hatiku saat ini. Aku langsung membayangkan aku bersama Nabila berjalan berdua, makan berdua, mengerjakan tugas bersama dan ”Hoi!!!!!! Ngelamun aja lo!!!!!!” Teriakan Rendy mengagetkan aku. Rupanya dari tadi Rendy berbicara tetapi tidak aku dengarkan. ”Lo ngomong apaan?” Tanyaku lagi. ”Gua ngomong jangan bilang-bilang ke Nabila kalau besok gua bakal pergi. Lo boleh bilang saat gua sudah berangkat. Dan jangan suruh dia untuk ngehubungi gua karena gua nggak mungkin akan balik ke sini lagi.” Rendy bicara sambil mengambil uang kertas dari saku celananya. ”Kenapa?” Aku kembali bertanya. ”Soalnya pas sampai di sana gua di tunangkan.” Rendy berkata sambil mengetok atap angkot karena kami sudah sampai. Jedak-jeduk jantungku mengiringi langkahku. Aku tak habis piker, kenapa keadaan bisa seperti ini? Dulu aku berpikir bahwa aku nggak bisa sama sekali memiliki Nabila, tetapi bila keadaannya seperti ini, harapan itu spontan muncul kembali dan mengusik setiap pikiran diri. Aku tersentak ketika aku dikejutkan oleh suara perempuan di hadapanku. Rupanya kami bertabrakan. ”Kalau jalan liat-liat dong!!!” Suaranya terdengar melengking di telingaku. Kupandangi saja sosok di depanku yang sedang memungut buku di lantai kos. ”Maaf” aku berkata sambil ikut membantu memunguti buku yang sedari tadi berantakan. Sosok itu berdiri sambil merapikan buku-buku di kedua tangannya. Aku baru sadar bahwa dia sangat cantik. Kulitnya yang putih mulus, bibirnya yang merah dan alisnya yang berbaris rapi di atas kedua matanya sangat mempesona. Dalam hati aku bertanya, ”Siapa dia?” Mungkin dia keponakannya ibu kos. Ah daripada penasaran, lebih baik aku tanyakan langsung kepadanya. ”Kamu keponakannya ibu kos ya?” Aku bertanya agak sedikit gugup. ”Aku anak kos baru.” Dia bicara dengan nada rendah. ”Oh anak baru…” Aku berkata dengan santainya. Dia berlalu di depanku dan kurasakan aroma sejuk menusuk penciumanku. ”Aroma Mawar!” pikirku dalam hati. Saat sosok indah itu menghilang di balik pintu aku baru sadar kalau aku sangat gembira. Aku berkenalan dengan gadis yang sangat cantik dan tanpa disengaja aku tinggal satu atap dengannya. Dan bodohnya lagi aku belum tau namanya. Ah sudahlah, nanti juga bertemu lagi, lagi pula diakan tinggal di sini. Aku berlalu meninggalkan ruangan tengah, dan menerobos gorden yang setenga terbuka. Aku langsung naik ke kasur dan meloncat-loncat. ”Asyik!!!!! gua ketemu cewe cakep!!!!” aku meneriakan kata-kata itu. Di muka pintu aku melihat ibu kos memelototiku. ”Dasar anak brengsek!!!! Kaya anak kecil aja, lo kira gua beli kasur nggak pake duit apa? Kasur gua diinjek-injek pakek sepatu!!!” Aku hanya bisa diam dan menunduk sambil tidak menghiraukan ocehan demi ocehan dari ibu kos. ”Dasar nenek sihir!” jeritku dalam hati. Aku melepaskan sepatuku dan membiarkan ibu kos mengoceh di depan pintu. Lama dia mengoceh, dan setelah puas dia berlalu meninggalkanku. Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang ditutupi seprei yang lusuh. Mungkin sudah tiga minggu aku tak mencuci seprei ini. Bayangan Nabila tiba-tiba mencul di pelupuk mataku yang setengah terpejam. Dia menggapai-gapaikan tangannya ke arahku. Aku datang menyongsongnya, dan kami bertemu ditengah taman yang indah. ”Ki, aku sayang padamu.” ”Nabila, akupun begitu.” ”Ki, aku ingin memilikimu!” ”Aku juga.” Ku lihat Nabila memejamkan matanya dan tak sabar aku ingin memeluknya. Dengan penuh kasih sayang aku mencium halus keningnya dan dia kembali membuka kedua matanya yang mulai berkaca. ”Tapi kita tak mungkin bersatu!” bisiknya seakan tidak terdengar. ”Kenapa tidak?” belum sempat aku melanjutkan, jarinya yang harum menutup bibirku. ”Walaupun Rendy pergi, aku tak mungkin dapat kau miliki” Aku baru mau bertanya tapi dia menutup mulutku lagi. ”Karena aku…” Aku dikagetkan oleh suara Rendy yang berteriak di telingaku. ”Hoi, sauuuuuuuur!!!!” Aku sangat kesal, tega-teganya dia membangunkan aku, padahal aku sedang bermimpi indah. ”Hoi coi, udah magrib! Masa lo mau tidur mulu! Shalat donk!!!!” Rendy kembali berteriak. Aku hanya bisa diam dan berusaha bangkit. Kulihat jam dinding, ”Sudah jam enam!” seruku dalam hati. Aku bangkit dan mengambil handuk yang tergantung di balik pintu. Kulihat lagi gambar porno yang ada di balik pintu, ”Seksi abis” pikirku dalam hati. Aku bergegas menuju kamar mandi dan kubanting pintu kamarku supaya Rendy kesal, tapi kayanya dia fine-fine aja tuh sambil tertawa lirih. Ku gosok-gosok mataku yang masih agak kabur sambil tanganku menenteng handuk merah. Bila melihat handuk ini aku teringat Nabila, karena dia yang memberikan handuk ini kepadaku. Saat aku diospek, aku disiram oleh seniorku, sehingga aku harus mandi di kampus. Tetapi aku tidak bawah handuk, dan dengan penuh kasih sayang ”menurutku”, Nabila meminjamkan handuknya kepadaku. Lamunanku terbuyar saat kepalaku menyentuh sesuatu. ”Aduh!!!!” kepalaku terkena jemuran ibu kos. Aku menyandarkan tubuhku ke dinding, dan sayup-sayup kudengar langkah kaki mendekat ke arahku. ”Kamu nggak apa-apa?” Suara itu, aku kenal suara itu! ”Pasti anak baru itu!” seruku dalam hati. Sepontan rasa sakit itu hilang dan berubah menjadi perasaan yang tak karuan. Sosok itu muncul di hadapanku. ”Masih cantik” bisiku dalam hati. Gadis itu hanya dibalut oleh handuk hijau tua yang bermotif garis-garis biru, anting-antingnya yang berwarna putih perak dan bertahta permata yang berkerlap-kerlip sangat tampak di kulitnya yang putih dan mulus. ”Kamu?…” dia tidak jadi berkata. ”Kenapa?” aku balik bertanya. ”Tidak apa-apakan?” dia berkata seraya tangannya mengusap benjolan yang ada di keningku. Aku dapat merasakan tangan itu. Ya, sangat halus! Itulah kata-kata yang bisa ku utarakan. Kunikmati sentuhan tangan itu, dan dengan liarnya aku memandangi tubuh yang hanya dibalut oleh handuk itu. ”Mau kuambilkan obat?” lamunanku buyar saat dia berkata. ”Engg… nggak usa! Lagipula aku mau mandi nih!” aku berkata sambil ikut menggosok benjolan yang ada di keningku. Sebenarnya aku bukan ingin menggosok benjolan itu, tetapi aku ingin memegang tangan itu. Dia melepaskan tangannya dari keningku, tetapi tanganku tetap memegang tangannya. ”Maaf” dia berkata sambil melepaskan tangannya dari tanganku. Aku agak malu, tapi langsung kubuang rasa itu. Dengan penuh percaya diri aku menanyakan namanya. ”Nama kamu siapa?” ”Aldila” dia menjawab dan balik bertanya kepadaku. Tapi belum sempat dia bertanya aku menjawab, ”Riki!” aku mengucapkan itu sambil menyodorkan tanganku. Sambil tersenyum dia menyambut tanganku dan sekali lagi aku bisa merasakan halusnya tangan itu. ”Nama kamu cantik!” dan aku menambahkan dalam hati ”Secantik orangnya.” Dia hanya tersenyum seraya berkata, ”Terima kasih!” ”Oh ya, katanya mau mandi, tuh aku udah selesai makai kamarmandinya!” dia berkata sambil berlalu dan berbelok di ujung lorong. Aku tidak langsung menuju ke kamar mandi, tetapi aku melihat dia menghilang, dan sebelum menghilang dia tersenyum seraya melambaikan tangannya kepadaku, dan aku membalas lambayan tangan itu. Tanpa sadar, handukku terlepas dari tubuhku dan ku lihat Aldila tertawa sambil berlalu dari ujung lorong. Aku terkejut dan kulihat aku masih memakai celana pendek. ”Alhamdulillah” bisiku dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala dan bergegas menuju kamar mandi. Aku membuka pintu kamar mandi dan terdengar suara nyaring yang mengilukan saat pintu itu kututup. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil aku mengamati benda di pojok bak mandi. ”Hemh, ada sabun cair, punya siapa nih!” aku bergegas mengambil botol sabun yang berwarna merah dan membuka tutupnya. ”Wangi mawar, berarti ini punya Aldila, asyik gua pakai ah!!!” Aku menyiram tubuhku dan bersiul-siul kecil. Setelah aku selesai mandi, aku dikagetkan oleh Rendy yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Dia sepertinya agak bingung melihatku. ”Ngapain lo senyum-senyum?” Rendy bertanya sambil menenteng handuk yang tak layak itu. ”Ada deh, mau… tau… aja deh!!!!” aku tertawa dan berlalu dari hadapan Rendy dan kulihat rendy menutup pintu yang nyaring mengilukan itu. Aku teringat sesuatu, oh ya, aku ingin mengembalikan sabun cair milik Aldila, ya hitung-hitung pdkt gitu! Saat aku tiba di depan pintu kamar Aldila, dia sedang asyik membaca buku. Aku dapat melihat ekspresinya saat aku datang. Di samping tempat tidurnya aku melihat koper yang belum dibuka. ”Lagi baca apaan?” Tanyaku basa-basi sambil duduk di kasur yang empuk dan rapi. ”Nggak!” jawabnya sambil menyembunyikan bukunya ke dalam pelukannya. Sekilas aku berpikir, aku ingin menjadi buku yang dipeluk itu. ”Ada apa?” tanyanya curiga. ”aku mau ngembaliin sabun cair kamu yang ketinggalan di kamar mandi.” Jawabku tanpa ekspresi. ”Oh, makasihya, tapi ngomong-ngomong kamu wangi sabunku, kamu make sabunku ya?” dia berkata sambil tertawa kecil dan kulihat dia menaro bukunya di bawah tempat tidur. ”oh, dikit!!!” aku menjawab sambil menyerakan botol sabun tersebut. Kulihat dia mengambil botol sabun itu dari tanganku, dan nampak jelas cincin yang terpahat di jari manisnya berkilauan. ”Makasih” dia berkata manis sekali, hingga tak tahan jiwa ini melihatnya. Aku mengangguk sambil mataku menatap tepat ke wajahnya dan aku tak tau siapa yang memulai, kami telah berpelukan dan bercumbu di atas kasur yang rapi itu. Setelah itu aku hanya bisa diam membisu. Aku duduk di samping tempat tidur sambil menunduk menatap lantai kamar Aldila. Aku tak habis piker mengapa aku melakukan hal terlarang itu. Di dalam pengelihatanku yang tak bertumpu itu aku menangkap bayangan buku yang ditaroh Aldila di bawah tempat tidur. Dengan perlahan aku meraih buku itu. Pelan dan dengan tatapan kosong mataku menjelajahi buku itu, ”Oh, rupanya ini buku porno!” aku bergumam dalam hati. ”Pantas saja Aldila sangat bergairah.” Pikirku dalam hati. Kembali kupandangi tubuh Aldila yang berbaring di atas tempat tidur yang tadi rapi tapi kini sudah sangat lusuh. Dia tampak cantik dalam keadaan apapun, termasuk saat tidur. Tapi sekali lagi aku menyayangkan kejadian ini, ”mengapa ini bisa terjadi?” aku bertanya dalam hati. Aku mencium kening Aldila dan bergegas meninggalkan kamarnya. Kumasuki kamarku dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur yang berantakan. Kulihat gambar porno itu masih setia menjaga pintu kamarku. ”Dari mana aja lo?” Rendy bertanya sambil merapikan barang-barangnya. Aku tak menghiraukan Rendy, aku masih mengingat kejadian yang baru saja aku alami. ”Ki, gua nitip Nabila ya!” Rendy bicara dengan nada renda, matanya menatap tepat ke wajahku sambil mengeratan tali yang membalut barang-barangnya. Sejenak aku terkesiap, Nabila! Aku melupakan Nabila. Aku merasa aku menghianati hatiku dengan kebodohan yang baru aku lakukan. ”Ren, lo percayain aja Nabila ama gua, pasti gua akan menjaganya.” Aku berkata sambil bangkit dan menepuk pundak Rendy. ”Gua tau lo pasti bisa Ki, karena lo emang sahabat gua. Tapi gua harap lo bisa nggantiin posisi gua di hati Nabila.” Rendy berkata sambil tangannya dirangkulkan kepundaku. Aku diam sekejap, sampai keluar kata-kata spontan, ”Ok man, gua akan berusaha menjadi lo di hati Nabila.” Aku tau maksud Rendy, dia menyerahkan Nabila sepenuhnya kepadaku. Di sisi lain aku gembira, tapi di lain sisi aku merasa ditampar oleh keputusan Rendy, karena aku merasa sangat berdosa kepada Rendy, Nabila dan Aldila. Dalam hati aku menangis, sampai tangisanku tertahan saat Rendy menjemput kopernya dan berpamitan kepadaku. ”Man, gua pergi, gua harap lo bisa pegang janji lo. Ok!” Rendy merangkulku erat dan aku hanya bisa diam. ”Ok Ren, lo ati-ati ya di Surabaya, gua do’ain lo sukses abis di sana.” Aku berkata dengan agak terbata dan Rendy meninggalkanku sambil mencopot gambar porno yang ada di belakang pintu kamar kosku. ”Benda ini harus disingkirin” Rendy berkata dan berlalu. Diluar ku dengar Rendy berpamitan kepada ibu kos dan sayup-sayup kudengar ibu kos menangis. ”Nenek sihir bisa nangis juga!” Seruku dalam hati. Setelah itu aku dikagetkan oleh suara ketukan di pintu kamarku. Dengan malas kubuka pintu yang suda tidak didampingi oleh gambar porno itu lagi, dan betapa kagetnya aku saat aku lihat siapa yang datang. Aldila berdiri tepat di depan pintu dengan berpakaian rapi serta koper yang duduk disebelah tempat dia berdiri. ”Rik maafin aku ya,” aku mendengar ucapan itu seraya berbisik. ”Memangnya kenapa Dil? Kamu…” belum sempat aku menjawab, Aldila menutup mulutku dengan jemarinya yang dihiasi cincin bertahtakan permata. ”Aku harus pergi.” ”Tapi mengapa?” Aku bertanya tak mengerti. Belum sempat Aldila menjawab, Rendy berjalan ke arah kami seraya berkata, ”Sayang kita berangkat sekarang yok!” Rendy berkata sambil merangkul pundak Aldila. Aku tercengang, aku bingun dengan keadaan sekarang ini. ”ki, ini Aldila tunangan Gua. Cantik kan?” Rendy berkata seraya mengelus cincin di jari manis Aldila. ”Ini cincin pertunangan kami!” Dia menambahkan. ”Ayo sayang kita berangkat! ki gua balik ya!!!!” Rendy dan Aldila berlalu menuju pintu keluar kosku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa terdiam, tak percaya dengan apa yang aku alami. Aku melihat Aldila menatap sedih ke arahku, dan sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu. Lama aku berdiri di muka pintu, aku tak tau pasti sudah berapa lama aku dalam kebisuan, hingga akhirnya aku dikagetkan oleh ibu kos yang menepuk pundaku. ”Kenapa, lo pengen kawin kaya Rendy ya?” Aku tak memperdulikan ucapannya. Aku memasuki kamar dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pikiranku tak karuan. Aku masih memikirkan apa yang telah terjadi. ”Pertama Rendy menitipkan Nabila kepadaku, lalu aku bertemu dengan Aldila, lalu aku melakukan itu dengan Aldila, lalu Rendy meminta agar Nabila menjadi kekasihku, lalu Aldila adalah tunangannya Rendy, lalu……. Aku tersentak dari bayangan-bayangan yang menyelimuti diriku saat aku melihat Aldila di sudut kanan pelupuk mataku. Dia tersenyum manis dan memanggilku mesrah. ”Riki!” Dengan bergegas aku menghampirinya. Aku merasakan aroma mawar itu, dan tanpa kusadari aku telah berhadapan dan berpegangan tangan dengannya. ”Aku hanya ingin memberi tau bahwa sebaiknya kamu lupakan apa yang terjadi tadi. Anggaplah itu dosa termanis yang pernah kau lakukan. Dan….” Sayup-sayup kudengar suara ibu kos. ”Rupanya sudah pagi!” seruku dalam hati. Aku bergegas mandy dan berpakaian. Hari ini aku ingin bertemu Nabila. Memang benar kata Aldila dalam mimpiku, bahwa sebaiknya aku menganggap semua kejadian tadi malam tidak pernah terjadi. Aku meninggalkan kamarku saat kulihat jam dinding menunjukan pukul sembilan, dan ketika melihat kebelakang pintu aku agak canggung karena si Porno penjaga pintu sudah tidak ada. Sesampainya di kampus, aku langsung mencari Nabila. Mataku yang liar mencari dari sudut ke sudut, dan akhirnya aku menemukan Nabila sedang duduk di koridor kelas sambil membaca buku. ”Nabila” kataku pelan. Nabila hanya menatapku sebentar dan tersenyum. ”Rendy mana?” ”Kamu belum tau?” aku balik bertanya dan kami saling berpandangan dan Ku lihat wajah Nabila agak bingung. ”Memangnya ada apa?” Lalu aku menceritakan semuanya, bahwa Rendy telah pulang ke Surabaya dan dia akan menikah dengan Aldila, tetapi aku tidak menceritakan perihal aku dengan Aldila tadi malam. Mendengar ceritaku wajah Nabila mendadak pucat, pandangannya kosong, tetapi tidak meneteskan air mata. ”Kamu tidak apa-apa?” Lalu Nabila memelukku.” Aku merasakan getaran lain di pelukan itu. Mungkin menurut Nabila itu pelukan biasa, tetapi bagiku ini sangat berharga. Aku mulai mendengar isak tangis dari Nabila yang semakin lama semakin kencang. Aku melepaskan pelukan kami dan berusaha menenangkannya. ”Nabila, kamu jangan sedih. Walaupun tidak ada Rendy di sini, bukankah masih ada aku?” ”Aku tidak sedih karena tidak ada Rendy!” ”Lalu?” Aku bertanya penuh harap. Dalam hati aku berkata, ”Apa yang terjadi? Mengapa kepergian Rendy tidak membuatnya sedih? Lalu apa yang membuatnya sedih?” Pertanyaan itu melintas begitu saja. ”Kenapa Bil?” aku mendesak. Lalu ku dekap Nabila yang menangis lebih keras, dan ia berkata dengan agak terbata, ”Aku hamil!” Otakku hampir meledak saat kudengar kata-kata itu. Dalam hati aku mengutuk Rendy, ”bisa-bisanya Rendy meninggalkan nabila pada saat dia hamil. ”Apakah Rendy tau kalau kamu hamil?” aku bertanya agak gugup sambil menarik rumput liar di depanku. ”Belum, hari ini aku baru ingin memberitaunya.” Otakku berputar mencari jalan keluar. ”Rendy sudah tidak mungkin kembali ke sini, dan dia telah menyerahkan Nabila sepenuhnya kepadaku.” Pikirku dalam hati. Lalu dengan tegas aku berkata, ”Baik, aku mau bertanggung jawab!” Nabila agak kaget mendengar pernyataanku, sejenak dia berpikir dan selanjutnya dia memeluku sambil menangis. Keputusan ini bukan semata karena Rendy dan cintaku kepada Nabila, tetapi ini menyangkut masa depan Nabila dan persahabatan kami. Satu tahun telah berlalu. Kini statusku adalah suami Nabila dan aku bekerja di perusahaan ayahnya. Perkawinan kami sangat bahagia, walaupun kami tau anak kami yang pertama bukan hasil dari hubungan kami. Aku mengaduk-aduk berkas-berkas yang ada di meja kerjaku. Aku mencari sepucuk surat yang ditaroh sekertarisku. Tiba-tiba pandanganku berhenti saat aku melihat amplop putih di atas buku jurnalku. Perlahan aku buka dan mulai ku baca. Surabaya, 24-8-2005 Dear Riki, Apa kabar lo? Gua harap lo baik-baik sama kaya gua di sini. Oh ya, gua dengar lo udah nikah dengan Nabila dan udah punya anak ya? Cerdas juga lo! Dalam hati aku berkata, ”Dia tidak tau kalau itu anaknya!” Lalu aku mengambil kaca mata, karena tulisan Rendy mulai berantakan dan tak jelas di mataku. Bagaimana Nabila, apa dia masih cantik? Gua harap lo bisa membahagiakan Nabila. Ok! Oh ya, tepat saat gua nulis surat buat lo, anak gua yang pertama lahir! Laki-laki dan ganteng. Tapi gua amat-amati mirip banget ama lo. Mungkin ibunya ngeliatin photo lo mulu saat ngidam. Udah dulu ya sobat, kita sambung lain waktu. Regards Di dalam amplop, aku menemukan dua photo, yang satu photo pernikahan Rendy dan Aldila, dan yang satu lagi photo bayi yang sangat tampan. Aku mengamati photo bayi itu, ”Benar kata Rendy, dia sangat mirip denganku!” seruku dalam hati, dan aku mengambil kesimpulan bahwa dia adalah anakku. Aku tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Anak Rendy ada padaku, dan anaku ada pada Rendy. Ya, ini sangat lucu cekali! Ini bagaikan cinta segi empat antara dua keluarga. Ah sudahlah, kenangan ini biar kupendam dalam hati. Yang jelas hidupku akan kujalani bersama istriku tersayang yang sangat ku sayangi! Selesai Jakarta, 29 Maret 2006

No Responses

Leave a Reply