Sabtu, 26 September 2009

cerpen cinta

Ternyata aku memang mencintainya. Setiap malam aku memikirkan ini, dan sekarang baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin aku mengenalnya, seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, aku sangat mengagumimu. Sosok yang begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa ini. Aku, seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal, tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Aku yang terus berprestasi sepanjang masa studiku hingga sekarang berkarir, tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku itu. Sungguh, aku tak mungkin bersama dia. Apa kata dunia bila aku pacaran, dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya, di warung milik ayahnya. Sampai hari ini tiba. Keyakinanku goyah. Yah, ternyata semua prediksiku salah. Aku tak bisa melupakannya, sedetik pun. Terlebih akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis-gadis lainnya. Ada banyak pilihan buatku, gadis selevel, pintar, berkarir, dari keluarga yang disegani, tapi aku tak pernah bisa memilih. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle. Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch office managerku di kantor cabang daerah Surabaya. Dia pintar, disiplin, loyal, dan yang paling penting, dia juga berniat serius denganku. Tapi aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal, dan akhirnya aku membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnisku. Yap, istilahnya, aku jadi mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. Aneh kan? Akhirnya setelah aku mengenal Michelle, aku tahu jawabannya. Aku hanya mengagumi saja, bukan mencintai. Dan aku merasa berbeda dengan Michelle. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaanku padanya, kenyataannya, aku mengakui sekarang. Aku sedang jatuh cinta!
***
Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di jalanan yang memang sangat ramai. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menghentikan laju mobilku dan memutuskan mengikutinya. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri memandangnya. Pandanganku terus mengikutinya. Dia sibuk melayani pembeli. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja, mengantar pesanan, menerima pembayaran dari pembeli, sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Tanpa sadar, hampir dua jam aku disana memandangnya. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. Aku tetap berdiri disana, sampai pada hari ke delapan pengintaianku, aku memutuskan untuk makan di warung itu. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak pernah makan di pinggir jalan. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. Tapi toh akhirnya aku masuk juga, dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap. Dia datang, menawarkan menu andalan warungnya. Aku mengikuti sarannya, es kelapa muda dan soto babat tapi tanpa nasi, karena aku tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Dia berlalu, melayani pesananku dengan bantuan seorang lelaki paruh baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. Saat dia datang lagi dengan pesananku, aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini. Dia biasa saja, sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Sampai saat aku melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Akrab sekali. Warungnya memang masih sepi, karena mungkin memang masih terlalu pagi. Dan aku memang sengaja memilih waktu ini agar aku bisa menemukan jawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. Akhirnya aku temukan. Kesahajaannya, semangatnya, rasa percaya dirinya, keramahannya, juga senyumnya. Aku terpesona pada dirinya. Hingga berbulan-bulan aku selalu sarapan di warung itu, berkenalan dengan ayahnya. Membicarakan obrolan-obrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar, hingga cerita soal keluarganya. Ternyata ayah Michelle open mind person, berwawasan, dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. Aku tak pernah canggung dibuatnya. Dari obrolan biasa, hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Aku seakan merasa begitu dekat dengan mereka, disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle. Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya, aku tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta, hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. Tapi pagi ini, setelah semalaman aku berpikir keras, aku akan mengubahnya. Yah, aku sudah mantap pada pilihanku. Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. Studinya mandek bukan karena otak Michelle tak mampu, tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. Banyak yang dia tahu, termasuk masalah komputer. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, membuat aku semakin tak bisa melepas pesonanya. Yah, hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Dan sekarang, aku ingin sekali membuatnya bahagia. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. Karena aku yakin sanggup menafkahinya, lahir dan batin, termasuk menyekolahkan kedua adiknya. Aku semakin mantap dengan keputusan ini. Segera kupacu Soluna hijau metalikku dengan hati yang tak menentu. Kali ini aku berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle, agar dia yakin aku bisa mencukupi kebutuhan materinya. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang menjadi direktur utama perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. Aku tak berniat membohongi mereka, hanya saja aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang, tak perduli status sosial mereka. Dan itu menjadi satu bukti padaku, bahwa mereka, terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang, berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. Setelah tikungan itu aku akan segera sampai, tapi ups!!! Nyaris saja aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu. Huff!! Aku menarik nafas lega. Aku keluar, hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja, hanya agak terkejut sedikit mungkin. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya, termasuk Michelle. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. Aku heran melihatnya. Nenek itu baik-baik saja, bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Lirih juga kudengar dia menyebut namaku. Lalu datang ayah Michelle, melihat keadaan dan menenangkan Michelle. Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Aku tak mengerti. Segera saja kudekati Michelle, gadis yang ingin kunikahi itu. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Tapi seakan dia tak melihatku, berlari mendekati mobilku. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku, menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Aku heran, dan berjalan mendekat. Melihat Michelle yang masih terus menangis, juga ayahnya. Lalu aku melihat wajah itu, penuh darah, tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia adalah aku�
cerpen cinta,n cerpen persahabata cerpen

Senin, 14 September 2009

crpen cinta dari alisa

label: cerpen persahabatan, cerpen cita

Aditya dan Ardian… dua nama itulah yang selama 3 bulan terakhir mengisi hari-hariku.

Ardian…
Dia datang pada saat dimana aku sedang merasa sangat kehilangan, hari-hariku sedang membosankan dan menyedihkan. Aku baru saja putus cinta. Awal aku mengenalnya karena tidak sengaja mengirim sms. Setelah itu kami sering bertukar cerita, bertelpon ria.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu hadir dalam hatiku dan aku juga tak mengerti mengapa cinta itu datang begitu cepat. Dan yang lebih aku tak mengerti mengapa aku harus mencintainya, padahal kita tak pernah bertemu.

Aneh bukan? Tapi itulah cinta, bila cinta tidak gila itu tidak dikatakan cinta…
Cinta itu harus gila.

Entahlah, apakah dia merasa hal yang sama dengan apa yang kurasa? Aku tak tahu. Hubunganku dengan ardian tak pasti, bertemankah atau berpacarankah…
Berteman…mungkin dia akan jadi seorang teman yang baik, yang selalu mau mendengar keluh kesahku setiap hari
Berpacaran…mungkin dia akan jadi seorang pacar yang setia,
Berteman atau berpacaran aku tak peduli. Aku merasa nyaman… mendengar suaranya dan mendengar tawanya, dia selalu menjalani kehidupannya dengan santai, seolah dia tidak pernah merencanakan hidupnya esok akan bagaimana, dia biarkan hidupnya mengalir. Tapi itulah yang ku suka, tapi hal itu pula yang pada akhirnya membuat aku benci.

Ardian datang lebih awal daripada adit, mungkin jika adit datang lebih awal, aku akan jatuh cinta padanya.

Aditya…
Aku mengenalnya karena perjodohan orang tua. Saat itu aku sedang menikmati kedekatanku dengan ardian.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu datang di hati adit, aku tak mengerti mengapa adit sangat ingin menikah denganku, padahal perkenalan ini amat singkat. Entahlah, apakah aku merasa hal yang sama dengan adit? Aku tak tahu. Tapi yang pasti aku kagum akan kegigihan dan perhatian dia.

Hubunganku dengan adit juga tak pasti, yang pasti aku pernah menyakitinya karena aku menolaknya

Tapi hingga saat ini seolah dia tak menyerah untuk mengejarku..
Atau mungkin karena target hidup dia yang sudah tersusun rapi dari tahun ketahun. Dia manargetkan menikah pada tahun ini, pada usia dia yang ke 27. itulah adit, dia selalu menyusun rencana hidupnya jauh kedepan. Bahkan 10 tahun, 20 tahun kedepan sudah disusunnya secara terperinci. Tapi itulah yang membuat aku menolaknya, aku belum lama mengenalnya, aku pernah bertanya padanya, apakah saat dia menulis target hidupnya untuk menikah tahun ini, dia membayangkan wanita yang akan di nikahi itu siapa? Aku yakin, wanita yang dia bayangkan bukan aku, tapi orang lain, entah aku tak pernah mau tahu siapa wanita itu. Aku tak pernah ada dalam rencana hidup dia, karena perkenalan kita masih sangat singkat, tapi mengapa harus aku yang harus terjebak dalam target hidupnya?

Sungguh adit dan ardian adalah dua pribadi yang bertolak belakang, walaupun inisial nama mereka sama

Aku adalah seorang wanita, yang selama 3 bulan ini dilema dengan perasaanku sendiri. Secara jelas aku menjelaskan perasaanku terhadap 2 laki-laki itu pada perkenalan mereka. Aku seorang yang sangat simple dalam hal mencintai seseorang, aku selalu jatuh cinta karena hal-hal yang sederhana, tapi seringkali jatuh cinta tanpa sebuah alasan. Kadang perasaan itu datang tanpa aku tahu dan mengapa harus pada orang tersebut.

Aku sudah bosan menjalani kegagalan perjalanan cintaku, beberapa bulan sebelum aku mengenal ardian dan adit, aku memutuskan untuk menyerahkan kepada orangtuaku utuk memilih seseorang untukku, oleh karena itu mereka mengenalkanku pada adit, anak seorang teman bapak. Karena sudah terlanjur berjanji akan mencoba untuk menerima siapapun yang mereka pilih aku menyetujui untuk bertemu dan mencoba untuk mengenalnya.

Selama beberapa bulan aku mengenal mereka, aku semakin yakin akan perasaanku. Tapi saat aku menolak lamaran adit, keadaan sudah terbalik, ardian tidak lagi menginginkan aku menjadi bagian hidupnya. Aku tak tahu apakah alasan yang dia berikan adalah benar atau tidak, aku tak tahu. Saat aku menolak adit, banyak yang terluka, mama, bapak, adit, mbak tanti bahkan mungkin yang paling terluka adalah aku. Aku hanya memikirkan dan mengikuti perasaanku tanpa mau peduli perasaan orang lain, tapi apa yang aku dapat??? sekuat apapun aku meyakini perasaanku terhadapnya, toh sekarang dia mengabaikannya. Mungkin ini karma untukku…

Aku ingin sekali melupakan 2 nama itu dalam hidupku. Karena mereka membuat aku pusing. Aku merasakan apa yang adit rasa, aku merasakan bagaimana rasanya diabaikan, mengharapkan sesuatu yang tak pasti, tapi aku juga tak ingin mengabaikan perasaanku, karena hubunganku dengan ardian tak seperti yang aku harapkan. Dengan jelas dia mengatakan tidak mencintaiku, dia mungkin hanya mengganggap aku sekedar teman, seorang teman yang kesepian. Kisah ini bagaikan kisah cinta segitiga yang tak berujung. Jika aku tetap mementingkan perasaanku, ada seseorang yang terluka. Dan jika aku menerima cinta adit, aku sendiri yang akan terluka. Sampai akhirnya aku harus memutus untuk melupakan keduanya, agar tak ada yang merasa menang, agar semua merasakan perih yang sama. Tapi mungkin perih itu hanya untukku dan adit, karena kami sama-sama melibatkan perasaan yang dalam…

Entah apa yang aku harus ku ucapkan dipenghujung kisah ini, maaf atau terimakasih, yang pasti aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga dari kisah ini, aku akan mengucapakan 2 kata itu sebagai kata terakhirku. Maaf untuk semua yang secara sengaja atau tidak sengaja terluka karena masalah ini, untuk mama n bapak, maaf jika masalah ini membuat suasana kita sedikit berkurang keharmonisannya, maaf untuk adit yang sangat jelas terluka, maaf untuk ardian karena aku memaksakan sesuatu yang sudah pasti ku tahu itu tak mungkin.

Terimakasih untuk semua yang telah ikut mengukir sebuah kisah ini untukku.

Saat ini aku sedang mencoba untuk mengistirahatkan hati dan pikiranku, aku harus berusaha agar aku tak berkubang lagi pada kisah yang sama dan orang yang sama… walau sulit, aku harus bisa merelakan dan melupakan semua…
Aku ingin menuliskan sebuah puisi sebagai akhir dari kisah ini…

Mencinta…(ku menunggu)

Kadang, Tuhan yang mengetahui yang terbaik
Akan memberi kesusahan untuk menguji kita
Kadang, Ia pun melukai hati kita
Supaya hikmahnya bisa tertanam amat dalam
Jika kita kehilangan cinta..
Maka ada alasan dibaliknya
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
Namum kita tetap harus percaya
Bahwa ketika ia akan mengambil sesuatu
Ia telah siap memberi yang lebih baik…
MENGAPA MENUNGGU????
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan
Kita tak ingin tergesa-gesa…
KARENA…..
Walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tak ingin sembrono…
KARENA…..
Walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai…
Kita tak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian cinta
Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu…
BAGIKU….
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan…
Ketimbang memilih apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai
Ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidupku terlampau singkat untuk dilewatkan bersama
PILIHAN YANG SALAH
Karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius
PERLU KAU KETAHUI
Bahwa bunga tidak mekar dalam semalam
Kehidupan dirajut dalam rahim selama 9 bulan
Cinta yang agung terus tumbuh selama kehidupan ini
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal iman, keberanian dan pengharapan….
Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan
PADA AKHIRNYA TUHAN…
Dalam segala hikmah dan kasihnya….
Meminta kita menunggu….
KARENA…
Alasan yang penting!!!!!!

Rabu, 09 September 2009

cerpen cinta paksam

Pelajaran Biologi itu tidak juga bisa masuk ke kepala Emy, karena sebenarnya dia memang tidak memusatkan pikirannya ke penjelasan pak Sam. Dia sibuk bermain dengan ponselnya, menulis pesan-pesan dengan pacarnya. Tertawa sendiri melihat pesan yang masuk dari pacarnya itu. Dan tanpa dia sadari pak Sam memperhatikan tingkahnya. Andini yang duduk di sebelahnya menyenggol tangan Emy karena melihat pak Sam berjalan ke arahnya. Sesaat Emy melirik Andini kesal karena mengganggu kegiatannya. Tapi setelah tahu, dia buru-buru menghentikannya dan memasukkan ponselnya kedalam selokan mejanya.“Sudah selesai menulisnya, Em?” tanya pak Sam, di sebelah bangku Emy.“Eh, belum, pak,” jawab Emy kikuk, buru-buru dia mengambil penanya dan kembali meneruskan tulisannya.Pak Sam masih berdiri di sebelah Emy, mengamatinya. Emy merasa seperti sedang dihukum karena kesalahannya. Dia melirik Andini.Andini hanya mengangkat kedua matanya. Tidak tahu harus bagaimana.“Tulisanmu bagus, Emy,” kata pak Sam tiba-tiba.“A—apa, pak,” Emy kaget mendengarnya, tidak percaya pak Sam berkata seperti itu.“Kalau tulisanmu dijadikan kaligrafi, pasti dinding di rumah akan terlihat indah.” Kata pak Sam memuji.Emy dan Andini saling melirik satu sama lain.“Teruskan menulisnya, ya,” kata pak Sam, seraya tangannya mengelus pundak Emy dan kembali berjalan ke mejanya.Emy benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia dan Andini masih saling pandang tidak mengerti. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Apa maksud pak Sam dengan semua itu?! ****“Emy,” kata Andini, ketika istirahat di kantin. “Kau tidak curiga dengan sikap pak Sam?”“Memang kenapa?” tanya Emy, menyeruput es melonnya.“Dia terlalu memperhatikanmu,” kata Andini, menyendok baksonya.“Memang kenapa dengan itu? Itu tidak ada salahnya ‘kan. Apalagi kalau aku bisa mendapatkan nilai-nilai bagus dari pak Sam, padahal aku tidak pernah memperhatikan pe-lajarannya.”“Kamu belum dengar, ya,” kata Andini, sedikit berbisik. “Minggu lalu Mira anak kelas 1-2, pindah gara-gara pak Sam.”“Gara-gara pak Sam,” kata Emy, tidak mengerti. “Bagaimana bisa?”“Awalnya pak Sam sangat perhatian pada Mira seperti yang dilakukannya padamu. Terus dia diberi nilai-nilai yang bagus. Dan akhirnya dia di bawa ke UKS—berdua saja. Kau bisa tebak apa yang di lakukannnya?”Emy mengerutkan dahi tampak berpikir.“Sehari setelah itu Mira langsung minta dipindahkan,” lanjut Andini. “Orangtuanya sebenarnya ingin menuntut pak Sam, tapi tidak ada bukti yang kuat. Jadi, pak Sam bisa lolos.”“Kalau itu memang benar, kenapa aku tidak pernah mendengarnya,”“Itu karena kau terlalu sibuk dengan pacarmu!”“Kau hanya iri,” tukas Emy.“Apa?!” Andini terkejut mendengarnya.“Kau iri karena tidak mendapatkan perhatian dari pak Sam. Dan kau iri padaku karena aku bisa mendapatkan nilai-nilai bagus darinya.”“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?” kata Andini tersinggung, nada suaranya meninggi. “Aku mencoba untuk memperingatkanmu, tapi kau justru menuduhku seperti itu. Asal tahu saja, aku bisa mendapatkan nilai bagus bukan karena dapat perhatian dari guru, tapi karena usahaku sendiri. Tidak seperti kau!”Setelah mengatakan itu semua, Andini langsung beranjak dari kursinya, dan pergi meninggalkan Emy sendirian di kantin. Emy terbengong-bengong melihatnya. Kenapa sih dengan anak itu? Begitu pikirnya.Tidak lama setelah kepergian Andini, Boby pacar Emy datang. Emy langsung men-ceritakan semua yang dikatakan Andini. Boby anak kelas 1-2, jadi mungkin dia tahu lebih detail mengenai apa yang terjadi dengan Mira.“Kurasa yang dikatakan Andini benar,” kata Boby. “Aku tidak tahu detailnya, tapi kepindahan Mira memang mendadak. Dan mengenai pak Sam, kau memang harus hati-hati. Menurutku dia memang suka memperhatikan cewek cantik.”“Jadi menurutmu aku ini cantik,” goda Emy.“Kalau kau tidak cantik, mana mungkin aku mau jadi pacarmu,” Boby balas menggoda.“Dasar cowok jahat,” kata Emy menggoda.Selanjutnya mereka berdua terhanyut dalam canda tawa dan saling menggoda satu sama lain.****Tidak bisa dipungkiri apa yang dikatakan Andini tempo hari cukup mengusik pikiran Emy. Terlebih ketika dia bertemu pak Sam, kata-katanya semakin terngiang-ngiang di kepalanya. Emy semakin waspada pada saat pelajarannya. Dia akan mengamati setiap gerak langkahnya. Benar kata Andini, pak Sam terlalu memperhatikannya. Mula-mula dia akan berjalan mengelilngi kelas, kemudian perlahan dia akan berhenti tepat di bangku Emy. Dia akan berusaha membuka pembicaraan dengan topik apa saja. Dan tidak segan-segan dia akan melontarkan pujian pada Emy. Bahkan yang menurut Emy itu sangatlah tidak perlu. Dan ketika berada di luar jam pelajaran, pak Sam selalu mencari kesempatan untuk bicara dengannya. Terkadang juga menyuruhnya ke kantor dengan alasan minta bantuannya. Sebiasa mungkin Emy ingin menghindari bertemu dengannya.“An, aku minta maaf, ya,” kata Emy, ketika istirahat di kelas. “Ternyata kau benar. Pak Sam memang terlalu memperhatikan aku.”“Tidak apa-apa, kok,” kata Andini. “Kau lebih hati-hati saja. Jangan memberikan ruang harapan bagi pak Sam.”“Tentu,” kata Emy, mantap. “Sekarang aku ke Boby dulu, ya. Aku janji tadi akan ke kelasnya.”“Mulai, deh,” “Hehe…” Emy hanya nyengir menanggapi.Kemudian dia keluar kelas. Jarak antara kelasnya dan kelas Boby berjarak lima kelas. 1-6 berada di ujung selasar, sementara kelas 1-2, kelas Boby, berada dekat ruang guru di ujung satu lagi. Jalinan hubungan antara Emy dan Boby berawal ketika ada perbaikan gedung SMU ini. Ketika itu, Emy sedang berjalan ke kelasnya lewat di bawah tangga tukang perbaikan. Tukang itu tidak sengaja menjatuhkan kayu dan nyaris mengenai kepala Emy kalau saja Boby tidak menyelamatkannya. Dari situlah hubungan mereka mulai berlanjut sampai sekarang. Meski baru tujuh bulan mereka berpacaran, tapi mereka seperti sudah pernah menikah sebelumnya.Emy melenggang dengan riang memasuki ruang kelas Boby. Matanya menyapu seisi kelas menceri-cari keberadaan Boby, tapi dia tidak bisa menemukannya. Ke mana anak itu, batin Emy bertanya-tanya. Janjinya ingin bertemu di sini, tapi kenapa tidak ada. Karena tidak menemukan Boby, Emy pun berniat mencarinya di luar. Tapi belum sampai dia berjalan beberapa langkah, terdengar namanya dipanggil.“Emy!” seru seseorang di belakangnya. Emy menoleh. Dia mendapati pak Sam berdiri di depan pintu kantor. Kemudian dia berjalan ke arahnya. “Ada apa, pak?” tanya Emy lugas.“Bapak ingin minta bantuanmu,” kata pak Sam.“Bantuan apa?”“Eh…” pak Sam tampak berpikir. “Tolong bawakan peralatan obat di kantor bapak ke UKS. Barangnya banyak, jadi bapak perlu bantuanmu.”Emy tampak waspada. UKS? Dia teringat kata-kata Andini kalau Mira pernah dibawa ke UKS. Apa yang akan dilakukan pak Sam padaku di sana?“T—tapi pak, kenapa harus saya,” kata Emy, gugup.“Ya, kalau kau keberatan bapak tidak akan memaksa,” kata pak Sam tampak kecewa. “Bapak akan cari orang lain saja.”“B—baiklah, pak. Saya pergi dulu kalau begitu.” Tanpa basa-basi lagi Emy langsung melesat pergi. Dia tidak mau berlama-lama berada di sana. Bagaimana kalau pak Sam berhasil membujuknya. Untung saja dia bisa lari. Kalau tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya.****“Kau istirahat saja dulu di sini,” saran Andini sambil memapah tubuh Emy ke UKS. Emy tertatih-tatih berjalan ke ranjang dibantu Andini. Setelah dia bisa duduk di ranjang, tangannya mengibas-ngibas lututnya untuk menghilangkan rasa nyeri yang berdenyut-denyut dari tadi. Kesalahannya juga kenapa lututnya bisa lecet. Dia terlalu bersemangat bercanda dengan Amelia saat olah raga tadi. Sementara menunggu pak Fauzan, guru olah raga datang, Amel tadi menunjukkan arloji barunya pada anak-anak. Karena penasaran, Emy juga ikut melihat. Awalnya dia hanya memegang dan melihat-lihat biasa, tapi kemudian timbul niat untuk menggodanya. Apalagi anak itu sifatnya agak cengeng dan memang dia suka sekali memamerkan barang-barang barunya. Jadi, arloji itu dibawanya pergi dan dia bilang pada Amel kalau Emy meminjamnya sampai arloji itu rusak baru dia kembalikan. Jadilah kejar-kejaran sampai membuat Emy jatuh dan lututnya lecet. Sekarang dia berada di ruang UKS dan tidak bisa mengikuti pelajaran olah raga. Menurut Emy itu justru menguntungkan karena dia bisa tiduran di sini sementara yang lain akan kecapekan berolahraga. Andini sedang mencari-cari obat anti septik di dalam kotak obat. Emy mengamati ruang UKS itu. Tidak terlalu besar, hanya cukup ditempati satu ranjang ukuran kecil dan kotak obat yang tertempel di dinding. Emy teringat cerita Andini tempo hari. Ruangan ini pernah menjadi saksi sebuah perbuatan bejat seorang guru pada muridnya. Dan dia kemarin juga hampir terjebak ke dalam ruangan sempit ini bersama pak Sam kalau saja dia tidak berhasil menghindar.“Akhirnya aku menemukannya!” seru Andini, tangannya memegang botol kecil ber-warna kuning. “Benda sekecil ini ditaruh di antara obat-obat yang berserakan itu? Benar-benar rajin orang-orang di sini.” Katanya menambahkan dengan sinis.Kemudian dia mengambil kapas dan meneteskan obat itu ke luka Emy. Lutut Emy ber-jingkat-jingkat menerimanya.“Aduh pelan-pelan, dong,” kata Emy sedikit merintih.“Ini sudah pelan, Non,” kata Andini. “Kau sendiri sih yang cari masalah, kenapa kau membuat lututmu seperti ini.”Emy memutar bola matanya. Andini masih terus meneteskan obat anti septik itu ke lututnya.“Sudah,” kata Andini. “Kau istirahat saja dulu di sini sampai pergantian pelajaran berikutnya.”“Ok, deh,” Emy berkata dengan semangat, seakan dia sangat menikmati lututnya sakit.“Dasar,” kata Andini menggelengkan kepala. Dan setelah dia mengembalikan obat anti septik ke dalam kotak obat, dia keluar meninggalkan Emy sendiri.Emy merebahkan tubuhnya di ranjang, kemudan dia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia mulai menulis pesan ke Boby. ‘Aku ada di UKS, lututku lecet. Kamu ke sini dong temenin aku.’ Begitu tulisnya. Kemudian dia mengirim pesan itu, dan tidak sampai tiga menit pesan balasan diterima Emy. ‘Ok,’ begitu bunyinya.Emy memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Selama menunggu Boby datang, dia berpikir sambil menatap langit-langit. Di sini sangat sepi. Ruangan ini memang letaknya agak jauh dari kelas-kelas lain. UKS terletak di sebelah gudang dan kelas baru yang masih dibangun. Pasti akan menyenangkan berada di sini bersama Boby seorang diri. Emy sudah membayangkan sesuatu yang dilampau batas. Terdengar ketukan dari luar. Tubuhnya langsung terduduk tegak. Itu pasti Boby, pikirnya. Cepat sekali, padahal jarak antara UKS dan kelasnya lumayan jauh. Tapi dia tidak peduli. Dia senang Boby datang lebih cepat.“Masuklah,” seru Emy. “Aku sudah menunggumu dari tadi.”Pintu ruang UKS terbuka pelan. Seseorang keluar dari balik pintu. Emy langsung terbelalak. Dia bukan Boby, tapi pak Sam! Tubuhnya langsung mengejang ketakutan.Pak Sam tersenyum, berdiri menatap Emy. Kemudian dia menutup pintu dan me-nguncinya. Dia memasukkan kunci pintu itu ke saku. Emy semakin ketakutan melihatnya.“Halo, Emy,” katanya. “Kau sedang menunggu seseorang? Pasti pacarmu, Boby.”“Ma—maaf, pak,” kata Emy tergagap. “apa yang bapak lakukan di sini?”“Kau tidak usah takut. Aku ke sini hanya ingin menjengukmu. Aku melihatmu tadi masuk kemari dibantu oleh temanmu. Jadi, apa salahnya bapak menjengukmu. Kebetulan bapak juga sedang kosong.”Pak Sam berjalan mendekat. Emy mendorong dirinya merapat ke dinding. Apa yang akan dilakukannya? Emy ketakutan setengah mati.Pak Sam mengulurkan tangannya ke Emy, “Boleh aku melihat lukamu,” belum sampai Emy mengizinkannya pak Sam sudah memegang lutut Emy yang terluka. Tubuh Emy gemetar tidak keruan.“Lukamu tidak parah,” kata pak Sam mengamati luka Emy.Ingin sekali Emy menyingkirkan tangan itu.Lalu tiba-tiba dirasakan Emy tangan pak Sam mulai naik ke atas lututnya, kemudian semakin tinggi ke pahanya dan terus merayap ke atas di balik roknya.Emy langsung mendorong tubuh pak Sam menjauh. Pak Sam tampak kaget, dan raut wajahnya langsung berubah marah.“Kau jangan sok jual mahal, Emy,” kata pak Sam. “Kau sebenarnya juga meng-inginkannya, bukan?”Emy menggelengkan kepalanya keras-keras.“Dengan gayamu yang menggoda dan rokmu yang minim itu, setiap laki-laki pasti ingin menelanjangimu. Jadi, kau jangan sok suci!” Pak Sam kembali meneruskan niatnya, tapi Emy dengan gesit langsung menghindar meski dengan menahan rasa nyeri berdenyut-denyut di lututnya. Dia langsung berlari dengan terpicang-pincang ke arah pintu.“Tolong…!! Tolong…!!!” Emy menggedor-gedor pintu itu dengan sekuat tenaganya.“Percuma kau minta tolong,” kata pak Sam. “tidak ada yang akan mendengarmu. UKS ini tempatnya jauh dari kelas lain.”Tapi, Emy tidak peduli. Dia terus menggedor-gedor pintu dan berteriak minta tolong. Boby pasti akan segera datang. Dia tadi akan kemari.“Tolong…!!”“Emy?!” terdengar suara dari luar. Itu seperti suara Boby.“Boby tolong aku,” seru Emy dengan terisak. “keluarkan aku dari sini!”“Ada apa?!” suara Boby terdengar panik.“Tolong keluarkan aku dari sini!”“Baiklah, aku akan minta bantuan pak Kamto untuk mengeluarkanmu!” Boby terdengar menjauh. Pak Kamto adalah petugas kebersihan di sekolah ini. Mungkin Boby ingin meminta kunci duplikatnya pada pak Kamto.Sementara itu setelah sudah tidak terdengar suara Boby lagi, pak Sam membuka pintu UKS dan lari keluar. Emy tidak percaya melihatnya. Dia benar-benar bajingan.Tidak beberapa lama kemudian, Boby dan pak Kamto datang. Boby tampak terkejut melihat pintu UKS sudah terbuka dan melihat Emy menangis meringkuk di lantai.Begitu melihat Boby datang, Emy langsung berhambur memelukanya. Kemudian setelah dia merasa lebih tenang, Emy menceritakan semua kejadian tadi di UKS.Boby tampak berang. Dia langsung melapor ke kepala sekolah. Tapi, tanggapan kepala sekolah sangat mengecewakan. Dia terkesan membela pak Sam dengan berdalih tidak ada bukti dan saksi yang kuat seperti kasus Mira waktu itu. Boby sempat marah, beradu pendapat, dan mengobrak-abrik ruang kepala sekolah begitu mendengar jawabannya. Hal itu memicu Boby untuk memprovokasi teman-temannya untuk berdemo menuntut pak Sam. Mereka membawa poster-poster dengan gambar karikatur pak Sam yang ber-tanduk dan mempunyai ekor. Dan yang lain membawa sebuah papan bertuliskan ‘Turunkan Harga dji-SAM-soe!’ disertai dengan teriakan-teriakan slogan tersebut berkali-kali di depan kantor sekolah. Semua penghuni sekolah itu menonton mereka beramai-ramai, meng-acuhkan pelajaran mereka.Dan setelah beberapa jam mereka melakukan demo, akhirnya kepala sekolah memberi keputusan, setelah mengadakan rapat dengan guru-guru yang lain. Mereka memutuskan untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Bahkan mereka akan mengerahkan tim penyidik jika perlu. Tapi hal itu tidak sampai dilakukan, karena ternyata tidak hanya Emy saja yang bersaksi dan yang pernah diperlakukan tidak senonoh oleh pak Sam. Ada tiga temannya yang juga pernah diperlakukan seperti itu, bahkan ada juga kakak kelasnya yang ikut bersaksi bahwa pak Sam pernah mengancamnya kalau dia melaporkan perbuatannya pada kepala sekolah. Setelah mendengar penuturan dari para murid yang menjadi korban kebejatan pak Sam, akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk mengeluarkan pak Sam dengan tidak hormat. Dan kejadian tersebut akan menjadi pelajaran bagi para murid dan guru-guru yang lain.
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini

cerpen cinta

cerpen cinta, cerpen cinta
Pagi hari, di kediaman keluarga darmawan…..
“Ya….. masa Dinda ke skul harus naik angkot sich, Bun?”
”Hari ini Pak Kosim nggak bisa ngantar. Karena anak nya lagi sakit, dan semalam dia izin pulang. Udah, sekali-kali kamu berangkat naik angkot, napa? Buruan sana berangkat, ntar kamu telat lho!!!”
”Ya udah dech….Dinda pergi dulu ya, Bun!”

Hari ini adalah hari yang menjengkelkan bagi Dinda. Karena supirnya harus nemani anaknya di rumah sakit. Alhasil dia harus berangkat ke skul naik angkot.

”Duh Bunda ne, kenapa nggak nyari orang lain sich buat nganterin aku, terpaksa dech aku naik angkot. Mana panas lagi.”
Saat dia lagi sibuk mengoceh, tiba-tiba muncul cowok yang cakep banget duduk tepat di sebelah Dinda. Dan jantung Dinda hampir aja copot saat tu cowok senyum dengannya.

Dinda ngerasaain perasaan yang lega dan semua kekesalannya hilang seketika. Karena senyum cowok itu sangat manis, apalagi ditambah dengan sorot matanya yang teduh banget, yang dapat menutupi rasa sakit yang udah lama tertahankan olehnya.
Seharian ini kerja Dinda hanya senyum-senyum sendiri, bundanya aja malah nganggap kalo Dinda kesambet setan halte bus.

”Duh….tu cowok manis banget ya…… saat gue liat mukanya, gue ngerasa kalo beban gue naik bus itu musnah semua. Sapa ya nama tu cowok? Rasanya gue pengen banget kenalan ama tu cowok. Py gue malu. Hm…. gue kasih nama “Teduh” aja dech… Coz matanya tu teduh banget. And mulai besok gue bakalan naik bus dech… coz gue pengen ngeliat muka tu cowo lagi” pikir Dinda yang masih nggak berhenti memikirkan cowok tadi, dan akhirnya dia tidur sambil berharap bisa menemukan cowok itu di mimpi indahnya.

Paginya….
“Bun, Dinda pergi skul dulu ya…!!!” pamit Dinda sambil mencium pipi bundanya
“Lho Din, kamu nggak nunggu Pak Kosim dulu?”
”Nggaklah Bun, hari ini Dinda pengen naik bus aja….da Bunda,” ucap Dinda sambil berlari meninggalkan rumahnya.
Sesampainya di halte bus…..
”Duh si teduh mana ya? Kok belom datang sich?” batin Dinda gelisah karena sang pujaan hati belum juga menampakkan batang hidungnya.

Tapi baru saja Dinda gelisah dengan pertanyaan yang ada di hatinya, tiba-tiba muncul seorang cowok yang bermata teduh. Cowok itu tersenyum dan menyapa Dinda.
”Hei….. Kamu baru naik bus ya?” sapa cowok itu yang berhasil membuat Dinda terpaku.
”Lho koq diam?”
”Eh….sorry…. tadi kamu bicara apa?”
”Aku tanya, kamu baru naik bus ya? Soalnya aku baru ngeliat kamu semalam”.
”Ha…, oh iya…..nam…..” belum Dinda menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba bus yang menuju ke sekolah Dinda datang.
”Eh… tu bus kamu udah datang”.
”Oh iya….hm… aku berangkat duluan ya…,” pamit Dinda yang dibalas dengan senyuman teduh itu lagi. Dan rasanya langkah Dinda berat banget buat ninggalin ”teduh” nya itu.

***

Sudah sebulan Dinda bertemu dengan cowok pujaan hatinya itu. Tapi nggak pernah sekalipun dia berani berkenalan dengan ”teduh”. Jangankan berkenalan, menyapa saja dia tak berani. Sampai akhirnya suatu hari Dinda memberanikan diri untuk berkenalan dengan ”teduh” hari ini. Tapi orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Dan Dinda nggak sadar kalo itu adalah pertemuan terakhir dengan ”teduh” nya itu.

***

Seminggu sudah Dinda menanti sang pujaan hati, tapi ”teduh” tak kunjung datang. Dan seminggu pula Dinda melewati hari-harinya dengan tidak bersemangat. Berbeda saat dia baru bertemu dengan ”teduh”.
Suatu pagi, saat ia menunggu bus untuk terakhir kalinya. Kursi yang biasa di duduki ”teduh” sudah di duduki oleh seseorang. Tapi seseorang itu bukan teduh melainkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya dan mukanya juga sangat mirip dengan seseorang yang sangat dirindukan Dinda. Tapi dari raut mukanya, tampak sekali kalo beliau sedang bersedih. Tiba-tiba ibu itu menyapa Dinda dengan ramah:

” Lagi nunggu bis ya, Dek?” sapanya ramah
”Iya Bu….”
”Kalo anak saya masih hidup, dia mungkin duduk di sini dan nungguin bus juga kayak kamu!”
”Lho….memangnya anak ibu kemana?”
”Anak saya udah nggak ada lagi. Dia udah pergi jauh dan nggak akan pernah kembali lagi”.
”Maksud Ibu dia pindah ke luar kota ya?”
“Bukan nak, dia udah meninggal dunia”.
”Oh…maaf ya Bu….”
”Nggak apa-apa koq dek….. dia tu punya mata yang teduh sekali, setiap orang yang melihatnya pasti bakal tenang dan lega.”
”Sayang ya Bu, sayang saya tak bisa melihat mukanya. Tapi dari cerita ibu, saya ngerasa dia mirip banget ama seseorang.”
”Hm…..kebetulan saya selalu membawa fotonya.” jawab ibu itu sambil menyerahkan foto anaknya.
”Oh ya…. sebelumnya ibu ingin minta tolong sama kamu, bisa nggak kamu membantu ibu?”
”Apa yang bisa saya bantu Bu?”

”Di belakang foto itu, anak saya menuliskan surat terakhirnya. Dan dia berpesan agar surat itu diberikan kepada seorang cewek yang bernama Dinda. Kalo adek kenal, saya minta tolong sekali supaya adik bisa menyampaikannya kepada Dinda.” pesan terakhir ibu itu dan langsung meninggalkan Dinda dengan perasaan binggung dan deg-deg-an, karena ia takut kalo cowok itu ternyata……….

”Halo Dinda….mungkin kamu bertanya-tanya mengapa aku tahu namamu…. itu karena aku sengaja melihat namamu….. Andai saja aku masih hidup, ingin rasanya aku berkenalan denganmu. Ingin rasanya aku lebih dekat denganmu, tapi aku tak berdaya menahan sakitnya kepalaku ini. Sekarang aku percaya dengan cinta pada pandangan pertama, karena aku ngerasa aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu. Tapi aku ngggak punya keberanian buat ngungkapinnya.

Karena kita belum saling kenal, tapi sekarang aku lega, karena sebelum aku meninggal, aku bisa mengungkapkan perasaan ku ini, walaupun hanya lewat sepucuk surat. Dan sekarang aku bisa meninggalkan dunia ini tanpa beban memendam perasaan ini lagi. Terima kasih karena kamu bisa mengajari aku tentang rasanya jatuh cinta. Dan menambahkan semangatku untuk hidup lebih lama.
Dariku Reza”.

Saat melihat foto dan membaca surat itu, air mata Dinda tak dapat di tahan lagi. Ia merasa lemas saat melihat sosok pria yang memiliki mata teduh itu. Sepasang mata yang membuatnya menanti selama sebulan. Membuatnya rela panas-panasan menunggu angkot, dan membuatnya selalu bersemangat melewati hari. Lalu dinda membaca surat terakhir dari teduh
Sekarang sosok itu hanya dapat tersenyum abadi, tapi tak dapat disentuh dan diajak berbicara. Dan sekarang dinda hanya bisa menangis dan menyesali kepergian ”teduh” bersama dengan rasa cintanya yang tak kan bisa tersampaikan selamanya.

Tiara Adinda
SMA Negri 1 Pekanbaru