cerpen cinta

Senja masih memerah, hawa panas dan lengkingan kendaraan tengah kota menabuhkan. Sesak yang mendesak desak. Mengusik kelelahan. Seharian pikiranku disibukkan oleh pekerjaan ini. Jangan tanya mengapa aku terjun ke dunia jurnalistik yang sama sakali belum pernah ku geluti semasa kuliah dulu. Aku pun tak tahu jawabannya. Mungkin memang nasib yang menulis namaku dan pekerjaan ini dalam satu garis. Jadi aku harus berdamai pada cita-cita awal, menjadi seorang akuntan.

Yap, dulu aku mengambil jurusan akutansi pada Fakultas Ekonomi. Kalau tidak akuntan, aku mengira akan jadi seorang ekonom, pengusaha muda yang sukses atau apalah sehingga masih dapat membuat gelar sarjana ekonomiku dapat mengamalkan ilmu pasti yang kuperoleh nyaris enam tahun. Sebagai anak lelaki tertua harusnya aku malu. Adik perempuanku setahun lebih dulu menyelesaikan studinya di Fakultas Keguruan. Dan sekarang tak lain tak bukan ia bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di Sekolah Negeri. Dua tahun setelah bekerjaq ia menikah. Memiliki dua anak yang lucu-lucu dan hidup bahagia. Suaminya penyayang dan bertanggung jawab. Hidupnya penuh cinta, tapi sialnya itulah hal yang selalu di banding-bandingkan ibuku terhadap nasibku yang menyedihkan ini.

Hidupku yang masih belum jelas tanpa pendamping dengan usia kepala tiga. Sebenarnya ini bukan beban bagiku. Tapi ibuku takut aku bertransformasi menjadi homoseksual jika begini terus. Maka ibuku mulai gencar mempromosikan aku di hadapan anak gadis teman arisannya. Tapi ugh!! Dimana harga diriku terus-terusan di jodoh-jodohkan seperti ini. Kalau bicara soal tampang, aku lumayan lah, pernah lihat jacky chan atau pangeran charles ? hiks, itu sih kejauhan. Tapi sebelas duabelas lah dengan wajahku. Tinggiku juga lumayan, 173 senti bisa-bisa membuat para gadis berada di awang-awang galaksi jika bersandar di dada bidangku. Apalagi mataku yang coklat pasti akan membuat mereka blingsatan saat ku tatap dengan sejuta pesonaku. Tapi bukannya aku tak hendak segera mengakhiri masa lajangku. Aku juga ingin menikahi seorang bidadari. Tapi MASALAHNYA adalah soal hati. Aku tak ingin terburu-buru mencarinya. Butuh waktu.

Tepat pukul sepuluh malam, ketika bulan sabit yang menua memamerkan cahaya keperakannya. Menggodaku untuk menghabiskannya dengan terlelap merangkai mimpi bertemu bidadari, mengejanya dalam doa dan mendatangkannya dalam selaksa nyata. ZzZzzzz zzz, aku mulai tertidur, Terbius dalam kawah cakrawala dunia tak nyata, disana aku bertemu bidadari, cantik sekali. Berpakaian putih dengan mahkota yang berkilau. Dia tersenyum padaku. Aku menjangkaunya namun tak tersentuh. Aku berteriak memanggilnya namun tak bersuara. Tapi .. “Kring!! KRing!!”. Sial, handphone ku menjerit minta diangkat. Ingin rasanya handphone itu ku lempar ke planet Pluto agar tak menggangguku bertemu bidadari.

“halo” sapaku

“Ardi, ada razia PSK di gang belakang kantor pos, cepet diliput !!” tut..tut.. kemudian tanpa ba bi bu telepon pun di tutup sepihak.

Huh, yang benar saja! Kalau bukan tuntutan profesi, aku tak kan mengaktivkan nomorku pada jam-jam bermimpi seperti ini. Mengharukan bukan? Harus meninggalakan bidadariku demi bertemu PSK dan meliputnya. Terbayang sudah wajah-wajah perempuan yang akan ku liput.. Pasti hanya akan terlihat sekujur rambut yang tergerai menutupi wajahnya. Sekian kali aku meliput hal-hal seperti ini. Dan beritanya begitu-begitu saja. Kalau tidak PSK-nya mengulangi pekerjaannya lagi, paling-paling akan lahir PSK baru di gang yang baru pula. Dan gang gang itulah tempatku bekerja selain di kantor, Tempat Kejadian Perkara. Bekerja sebagai wartawan membuat ku terbiasa dengan semua hal yang serba mendadak, serba di deadline, dan serba tanpa koma. Dunia yang ku jalani nyaris tanpa batas. Tapi memang seperti itulah yang sebenarnya kumau, bebas tanpa batas-batas.

Tak sampai 15 menit kakiku telah berpijak pada dunia lain. Dunia yang biasanya hingar binger justru pada jam-jam istirahat. Dunia yang dikenal orang sebagai dunia malam. Di gang sempit ini masih tercium bau parfum merasuk kedalam rongga. Suara gaduh bercampur suara kendaraan SatPol PP riuh rendah. Malam yang damai telah berubah menakutkan bagi para mereka yang terjaring. Aku membidikkan lensa kamera ku pada beberapa pemandangan yang kurasa memiliki nilai berita. Kemudian bersiap menggenggam pena dan notebook untuk mencatat beberapa informasi yang akan ku peroleh dari berbagai sumber.

Lelah juga, tapi hasilnya lumayan. Jika besok pagi beritaku ini naik kehalaman depan, aku akan berbangga setengah mati pada rekan-rekan di kantor. Bukannya untuk sekadar menaikkan gengsi. Tapi maklum, beritaku yang sudah-sudah belum pernah naik ke halaman depan.

Bintang sedikit meredup ketika gang di belakang kantor pos itu telah senyap. Tak kurasakan lagi ada tanda-tanda berita yang akan ku liput disini. Tepat jam 2 pagi ketika batas lelah mataku membujuk nurani untuk pulang kerumah. Terbayang hasrat melanjutkan mimpi tertunda tadi. Tapi, eitss,, tunggu dulu. Belum lagi kunyalakan mesin motor butut ini, telingaku mendengar sayup suara tangis. Bulu kuduk ku bergidik setelah ku dapati lagi suara itu adalah suara perempuan. Sejuta nyali ku pertaruhakan untuk mencari sumber suara itu. Dan, tahu apa yang terjadi? Suara seorang nyaris seperti bidadari, cantik sekali. Sedang apa dia di tempat seperti ini tepat jam 2 pagi. Ketika ku tanya, sial! Dia malah terus menangis. Dan atas nama perikemanusiaan aku tak bisa meninggalkannya sendiri.

1 tahun kemudian…

“mas aku hamil”

Bagaimana seorang suami tidak bahagia mendengar istrinya mendeklarasikan bahwa dirinya hamil. Aku akan segera punya anak? Ah, benarkah.

Tak terbayang ketika aku memutuskan untuk menikahinya dulu. Betapa hati ku berunjuk rasa. Mengultimatum bahwa aku tidak akan pernah merasakan sakralnya selaput dara pada malam pertama jika aku menikahinya. Perempuan yang ku temukan sedang menangis di sudut gang yang terazia. Tapi sekali lagi, ini soal hati. Aku memutuskan menikahinya bukan lantaran ibuku yang uring-uringan memaksaku menikah. Juga bukan karena iba pada diriku yang masih single di ujung 30-an. Aku benar-benar merasakan sesuatu padanya, sesuatu yang tidak menuntut. Sesuatu yang ingin ku beri tanpa selaksa harapan ingin di beri. Sesuatu yang benar-benar bergejolak dan tulus. Yah, bisa dibilang sesuatu itu.. ehm..ehm.. .Cinta.

Bukankah setiap orang berhak untuk diberi kesempatan kedua atas masa lalu nya yang segelap gerhana sekalipun? Tanpa terkecuali bagi bidadariku yang datang dari dunia malam. Dan ketika aku membawakannya cahaya lilin di tengah gersang dan gempita jalan buntu yang sebenarnya tak pernah ingin ia lewati, ketika itulah aku bukan hanya telah menjadi penerang jalannya, tapi juga menjadi penerang atas hatiku sendiri. (*)

cerpen cinta

Ternyata aku memang mencintainya. Setiap malam aku memikirkan ini, dan sekarang baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin aku mengenalnya, seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, aku sangat mengagumimu. Sosok yang begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa ini. Aku, seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal, tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Aku yang terus berprestasi sepanjang masa studiku hingga sekarang berkarir, tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku itu. Sungguh, aku tak mungkin bersama dia. Apa kata dunia bila aku pacaran, dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya, di warung milik ayahnya. Sampai hari ini tiba. Keyakinanku goyah. Yah, ternyata semua prediksiku salah. Aku tak bisa melupakannya, sedetik pun. Terlebih akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis-gadis lainnya. Ada banyak pilihan buatku, gadis selevel, pintar, berkarir, dari keluarga yang disegani, tapi aku tak pernah bisa memilih. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle. Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch office managerku di kantor cabang daerah Surabaya. Dia pintar, disiplin, loyal, dan yang paling penting, dia juga berniat serius denganku. Tapi aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal, dan akhirnya aku membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnisku. Yap, istilahnya, aku jadi mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. Aneh kan? Akhirnya setelah aku mengenal Michelle, aku tahu jawabannya. Aku hanya mengagumi saja, bukan mencintai. Dan aku merasa berbeda dengan Michelle. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaanku padanya, kenyataannya, aku mengakui sekarang. Aku sedang jatuh cinta!
***
Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di jalanan yang memang sangat ramai. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menghentikan laju mobilku dan memutuskan mengikutinya. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri memandangnya. Pandanganku terus mengikutinya. Dia sibuk melayani pembeli. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja, mengantar pesanan, menerima pembayaran dari pembeli, sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Tanpa sadar, hampir dua jam aku disana memandangnya. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. Aku tetap berdiri disana, sampai pada hari ke delapan pengintaianku, aku memutuskan untuk makan di warung itu. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak pernah makan di pinggir jalan. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. Tapi toh akhirnya aku masuk juga, dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap. Dia datang, menawarkan menu andalan warungnya. Aku mengikuti sarannya, es kelapa muda dan soto babat tapi tanpa nasi, karena aku tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Dia berlalu, melayani pesananku dengan bantuan seorang lelaki paruh baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. Saat dia datang lagi dengan pesananku, aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini. Dia biasa saja, sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Sampai saat aku melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Akrab sekali. Warungnya memang masih sepi, karena mungkin memang masih terlalu pagi. Dan aku memang sengaja memilih waktu ini agar aku bisa menemukan jawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. Akhirnya aku temukan. Kesahajaannya, semangatnya, rasa percaya dirinya, keramahannya, juga senyumnya. Aku terpesona pada dirinya. Hingga berbulan-bulan aku selalu sarapan di warung itu, berkenalan dengan ayahnya. Membicarakan obrolan-obrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar, hingga cerita soal keluarganya. Ternyata ayah Michelle open mind person, berwawasan, dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. Aku tak pernah canggung dibuatnya. Dari obrolan biasa, hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Aku seakan merasa begitu dekat dengan mereka, disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle. Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya, aku tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta, hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. Tapi pagi ini, setelah semalaman aku berpikir keras, aku akan mengubahnya. Yah, aku sudah mantap pada pilihanku. Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. Studinya mandek bukan karena otak Michelle tak mampu, tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. Banyak yang dia tahu, termasuk masalah komputer. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, membuat aku semakin tak bisa melepas pesonanya. Yah, hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Dan sekarang, aku ingin sekali membuatnya bahagia. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. Karena aku yakin sanggup menafkahinya, lahir dan batin, termasuk menyekolahkan kedua adiknya. Aku semakin mantap dengan keputusan ini. Segera kupacu Soluna hijau metalikku dengan hati yang tak menentu. Kali ini aku berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle, agar dia yakin aku bisa mencukupi kebutuhan materinya. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang menjadi direktur utama perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. Aku tak berniat membohongi mereka, hanya saja aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang, tak perduli status sosial mereka. Dan itu menjadi satu bukti padaku, bahwa mereka, terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang, berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. Setelah tikungan itu aku akan segera sampai, tapi ups!!! Nyaris saja aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu. Huff!! Aku menarik nafas lega. Aku keluar, hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja, hanya agak terkejut sedikit mungkin. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya, termasuk Michelle. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. Aku heran melihatnya. Nenek itu baik-baik saja, bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Lirih juga kudengar dia menyebut namaku. Lalu datang ayah Michelle, melihat keadaan dan menenangkan Michelle. Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Aku tak mengerti. Segera saja kudekati Michelle, gadis yang ingin kunikahi itu. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Tapi seakan dia tak melihatku, berlari mendekati mobilku. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku, menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Aku heran, dan berjalan mendekat. Melihat Michelle yang masih terus menangis, juga ayahnya. Lalu aku melihat wajah itu, penuh darah, tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia adalah aku�
cerpen cinta,n cerpen persahabata cerpen

crpen cinta dari alisa

label: cerpen persahabatan, cerpen cita

Aditya dan Ardian… dua nama itulah yang selama 3 bulan terakhir mengisi hari-hariku.

Ardian…
Dia datang pada saat dimana aku sedang merasa sangat kehilangan, hari-hariku sedang membosankan dan menyedihkan. Aku baru saja putus cinta. Awal aku mengenalnya karena tidak sengaja mengirim sms. Setelah itu kami sering bertukar cerita, bertelpon ria.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu hadir dalam hatiku dan aku juga tak mengerti mengapa cinta itu datang begitu cepat. Dan yang lebih aku tak mengerti mengapa aku harus mencintainya, padahal kita tak pernah bertemu.

Aneh bukan? Tapi itulah cinta, bila cinta tidak gila itu tidak dikatakan cinta…
Cinta itu harus gila.

Entahlah, apakah dia merasa hal yang sama dengan apa yang kurasa? Aku tak tahu. Hubunganku dengan ardian tak pasti, bertemankah atau berpacarankah…
Berteman…mungkin dia akan jadi seorang teman yang baik, yang selalu mau mendengar keluh kesahku setiap hari
Berpacaran…mungkin dia akan jadi seorang pacar yang setia,
Berteman atau berpacaran aku tak peduli. Aku merasa nyaman… mendengar suaranya dan mendengar tawanya, dia selalu menjalani kehidupannya dengan santai, seolah dia tidak pernah merencanakan hidupnya esok akan bagaimana, dia biarkan hidupnya mengalir. Tapi itulah yang ku suka, tapi hal itu pula yang pada akhirnya membuat aku benci.

Ardian datang lebih awal daripada adit, mungkin jika adit datang lebih awal, aku akan jatuh cinta padanya.

Aditya…
Aku mengenalnya karena perjodohan orang tua. Saat itu aku sedang menikmati kedekatanku dengan ardian.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu datang di hati adit, aku tak mengerti mengapa adit sangat ingin menikah denganku, padahal perkenalan ini amat singkat. Entahlah, apakah aku merasa hal yang sama dengan adit? Aku tak tahu. Tapi yang pasti aku kagum akan kegigihan dan perhatian dia.

Hubunganku dengan adit juga tak pasti, yang pasti aku pernah menyakitinya karena aku menolaknya

Tapi hingga saat ini seolah dia tak menyerah untuk mengejarku..
Atau mungkin karena target hidup dia yang sudah tersusun rapi dari tahun ketahun. Dia manargetkan menikah pada tahun ini, pada usia dia yang ke 27. itulah adit, dia selalu menyusun rencana hidupnya jauh kedepan. Bahkan 10 tahun, 20 tahun kedepan sudah disusunnya secara terperinci. Tapi itulah yang membuat aku menolaknya, aku belum lama mengenalnya, aku pernah bertanya padanya, apakah saat dia menulis target hidupnya untuk menikah tahun ini, dia membayangkan wanita yang akan di nikahi itu siapa? Aku yakin, wanita yang dia bayangkan bukan aku, tapi orang lain, entah aku tak pernah mau tahu siapa wanita itu. Aku tak pernah ada dalam rencana hidup dia, karena perkenalan kita masih sangat singkat, tapi mengapa harus aku yang harus terjebak dalam target hidupnya?

Sungguh adit dan ardian adalah dua pribadi yang bertolak belakang, walaupun inisial nama mereka sama

Aku adalah seorang wanita, yang selama 3 bulan ini dilema dengan perasaanku sendiri. Secara jelas aku menjelaskan perasaanku terhadap 2 laki-laki itu pada perkenalan mereka. Aku seorang yang sangat simple dalam hal mencintai seseorang, aku selalu jatuh cinta karena hal-hal yang sederhana, tapi seringkali jatuh cinta tanpa sebuah alasan. Kadang perasaan itu datang tanpa aku tahu dan mengapa harus pada orang tersebut.

Aku sudah bosan menjalani kegagalan perjalanan cintaku, beberapa bulan sebelum aku mengenal ardian dan adit, aku memutuskan untuk menyerahkan kepada orangtuaku utuk memilih seseorang untukku, oleh karena itu mereka mengenalkanku pada adit, anak seorang teman bapak. Karena sudah terlanjur berjanji akan mencoba untuk menerima siapapun yang mereka pilih aku menyetujui untuk bertemu dan mencoba untuk mengenalnya.

Selama beberapa bulan aku mengenal mereka, aku semakin yakin akan perasaanku. Tapi saat aku menolak lamaran adit, keadaan sudah terbalik, ardian tidak lagi menginginkan aku menjadi bagian hidupnya. Aku tak tahu apakah alasan yang dia berikan adalah benar atau tidak, aku tak tahu. Saat aku menolak adit, banyak yang terluka, mama, bapak, adit, mbak tanti bahkan mungkin yang paling terluka adalah aku. Aku hanya memikirkan dan mengikuti perasaanku tanpa mau peduli perasaan orang lain, tapi apa yang aku dapat??? sekuat apapun aku meyakini perasaanku terhadapnya, toh sekarang dia mengabaikannya. Mungkin ini karma untukku…

Aku ingin sekali melupakan 2 nama itu dalam hidupku. Karena mereka membuat aku pusing. Aku merasakan apa yang adit rasa, aku merasakan bagaimana rasanya diabaikan, mengharapkan sesuatu yang tak pasti, tapi aku juga tak ingin mengabaikan perasaanku, karena hubunganku dengan ardian tak seperti yang aku harapkan. Dengan jelas dia mengatakan tidak mencintaiku, dia mungkin hanya mengganggap aku sekedar teman, seorang teman yang kesepian. Kisah ini bagaikan kisah cinta segitiga yang tak berujung. Jika aku tetap mementingkan perasaanku, ada seseorang yang terluka. Dan jika aku menerima cinta adit, aku sendiri yang akan terluka. Sampai akhirnya aku harus memutus untuk melupakan keduanya, agar tak ada yang merasa menang, agar semua merasakan perih yang sama. Tapi mungkin perih itu hanya untukku dan adit, karena kami sama-sama melibatkan perasaan yang dalam…

Entah apa yang aku harus ku ucapkan dipenghujung kisah ini, maaf atau terimakasih, yang pasti aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga dari kisah ini, aku akan mengucapakan 2 kata itu sebagai kata terakhirku. Maaf untuk semua yang secara sengaja atau tidak sengaja terluka karena masalah ini, untuk mama n bapak, maaf jika masalah ini membuat suasana kita sedikit berkurang keharmonisannya, maaf untuk adit yang sangat jelas terluka, maaf untuk ardian karena aku memaksakan sesuatu yang sudah pasti ku tahu itu tak mungkin.

Terimakasih untuk semua yang telah ikut mengukir sebuah kisah ini untukku.

Saat ini aku sedang mencoba untuk mengistirahatkan hati dan pikiranku, aku harus berusaha agar aku tak berkubang lagi pada kisah yang sama dan orang yang sama… walau sulit, aku harus bisa merelakan dan melupakan semua…
Aku ingin menuliskan sebuah puisi sebagai akhir dari kisah ini…

Mencinta…(ku menunggu)

Kadang, Tuhan yang mengetahui yang terbaik
Akan memberi kesusahan untuk menguji kita
Kadang, Ia pun melukai hati kita
Supaya hikmahnya bisa tertanam amat dalam
Jika kita kehilangan cinta..
Maka ada alasan dibaliknya
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
Namum kita tetap harus percaya
Bahwa ketika ia akan mengambil sesuatu
Ia telah siap memberi yang lebih baik…
MENGAPA MENUNGGU????
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan
Kita tak ingin tergesa-gesa…
KARENA…..
Walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tak ingin sembrono…
KARENA…..
Walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai…
Kita tak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian cinta
Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu…
BAGIKU….
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan…
Ketimbang memilih apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai
Ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidupku terlampau singkat untuk dilewatkan bersama
PILIHAN YANG SALAH
Karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius
PERLU KAU KETAHUI
Bahwa bunga tidak mekar dalam semalam
Kehidupan dirajut dalam rahim selama 9 bulan
Cinta yang agung terus tumbuh selama kehidupan ini
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal iman, keberanian dan pengharapan….
Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan
PADA AKHIRNYA TUHAN…
Dalam segala hikmah dan kasihnya….
Meminta kita menunggu….
KARENA…
Alasan yang penting!!!!!!

cerpen cinta paksam

Pelajaran Biologi itu tidak juga bisa masuk ke kepala Emy, karena sebenarnya dia memang tidak memusatkan pikirannya ke penjelasan pak Sam. Dia sibuk bermain dengan ponselnya, menulis pesan-pesan dengan pacarnya. Tertawa sendiri melihat pesan yang masuk dari pacarnya itu. Dan tanpa dia sadari pak Sam memperhatikan tingkahnya. Andini yang duduk di sebelahnya menyenggol tangan Emy karena melihat pak Sam berjalan ke arahnya. Sesaat Emy melirik Andini kesal karena mengganggu kegiatannya. Tapi setelah tahu, dia buru-buru menghentikannya dan memasukkan ponselnya kedalam selokan mejanya.“Sudah selesai menulisnya, Em?” tanya pak Sam, di sebelah bangku Emy.“Eh, belum, pak,” jawab Emy kikuk, buru-buru dia mengambil penanya dan kembali meneruskan tulisannya.Pak Sam masih berdiri di sebelah Emy, mengamatinya. Emy merasa seperti sedang dihukum karena kesalahannya. Dia melirik Andini.Andini hanya mengangkat kedua matanya. Tidak tahu harus bagaimana.“Tulisanmu bagus, Emy,” kata pak Sam tiba-tiba.“A—apa, pak,” Emy kaget mendengarnya, tidak percaya pak Sam berkata seperti itu.“Kalau tulisanmu dijadikan kaligrafi, pasti dinding di rumah akan terlihat indah.” Kata pak Sam memuji.Emy dan Andini saling melirik satu sama lain.“Teruskan menulisnya, ya,” kata pak Sam, seraya tangannya mengelus pundak Emy dan kembali berjalan ke mejanya.Emy benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia dan Andini masih saling pandang tidak mengerti. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Apa maksud pak Sam dengan semua itu?! ****“Emy,” kata Andini, ketika istirahat di kantin. “Kau tidak curiga dengan sikap pak Sam?”“Memang kenapa?” tanya Emy, menyeruput es melonnya.“Dia terlalu memperhatikanmu,” kata Andini, menyendok baksonya.“Memang kenapa dengan itu? Itu tidak ada salahnya ‘kan. Apalagi kalau aku bisa mendapatkan nilai-nilai bagus dari pak Sam, padahal aku tidak pernah memperhatikan pe-lajarannya.”“Kamu belum dengar, ya,” kata Andini, sedikit berbisik. “Minggu lalu Mira anak kelas 1-2, pindah gara-gara pak Sam.”“Gara-gara pak Sam,” kata Emy, tidak mengerti. “Bagaimana bisa?”“Awalnya pak Sam sangat perhatian pada Mira seperti yang dilakukannya padamu. Terus dia diberi nilai-nilai yang bagus. Dan akhirnya dia di bawa ke UKS—berdua saja. Kau bisa tebak apa yang di lakukannnya?”Emy mengerutkan dahi tampak berpikir.“Sehari setelah itu Mira langsung minta dipindahkan,” lanjut Andini. “Orangtuanya sebenarnya ingin menuntut pak Sam, tapi tidak ada bukti yang kuat. Jadi, pak Sam bisa lolos.”“Kalau itu memang benar, kenapa aku tidak pernah mendengarnya,”“Itu karena kau terlalu sibuk dengan pacarmu!”“Kau hanya iri,” tukas Emy.“Apa?!” Andini terkejut mendengarnya.“Kau iri karena tidak mendapatkan perhatian dari pak Sam. Dan kau iri padaku karena aku bisa mendapatkan nilai-nilai bagus darinya.”“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?” kata Andini tersinggung, nada suaranya meninggi. “Aku mencoba untuk memperingatkanmu, tapi kau justru menuduhku seperti itu. Asal tahu saja, aku bisa mendapatkan nilai bagus bukan karena dapat perhatian dari guru, tapi karena usahaku sendiri. Tidak seperti kau!”Setelah mengatakan itu semua, Andini langsung beranjak dari kursinya, dan pergi meninggalkan Emy sendirian di kantin. Emy terbengong-bengong melihatnya. Kenapa sih dengan anak itu? Begitu pikirnya.Tidak lama setelah kepergian Andini, Boby pacar Emy datang. Emy langsung men-ceritakan semua yang dikatakan Andini. Boby anak kelas 1-2, jadi mungkin dia tahu lebih detail mengenai apa yang terjadi dengan Mira.“Kurasa yang dikatakan Andini benar,” kata Boby. “Aku tidak tahu detailnya, tapi kepindahan Mira memang mendadak. Dan mengenai pak Sam, kau memang harus hati-hati. Menurutku dia memang suka memperhatikan cewek cantik.”“Jadi menurutmu aku ini cantik,” goda Emy.“Kalau kau tidak cantik, mana mungkin aku mau jadi pacarmu,” Boby balas menggoda.“Dasar cowok jahat,” kata Emy menggoda.Selanjutnya mereka berdua terhanyut dalam canda tawa dan saling menggoda satu sama lain.****Tidak bisa dipungkiri apa yang dikatakan Andini tempo hari cukup mengusik pikiran Emy. Terlebih ketika dia bertemu pak Sam, kata-katanya semakin terngiang-ngiang di kepalanya. Emy semakin waspada pada saat pelajarannya. Dia akan mengamati setiap gerak langkahnya. Benar kata Andini, pak Sam terlalu memperhatikannya. Mula-mula dia akan berjalan mengelilngi kelas, kemudian perlahan dia akan berhenti tepat di bangku Emy. Dia akan berusaha membuka pembicaraan dengan topik apa saja. Dan tidak segan-segan dia akan melontarkan pujian pada Emy. Bahkan yang menurut Emy itu sangatlah tidak perlu. Dan ketika berada di luar jam pelajaran, pak Sam selalu mencari kesempatan untuk bicara dengannya. Terkadang juga menyuruhnya ke kantor dengan alasan minta bantuannya. Sebiasa mungkin Emy ingin menghindari bertemu dengannya.“An, aku minta maaf, ya,” kata Emy, ketika istirahat di kelas. “Ternyata kau benar. Pak Sam memang terlalu memperhatikan aku.”“Tidak apa-apa, kok,” kata Andini. “Kau lebih hati-hati saja. Jangan memberikan ruang harapan bagi pak Sam.”“Tentu,” kata Emy, mantap. “Sekarang aku ke Boby dulu, ya. Aku janji tadi akan ke kelasnya.”“Mulai, deh,” “Hehe…” Emy hanya nyengir menanggapi.Kemudian dia keluar kelas. Jarak antara kelasnya dan kelas Boby berjarak lima kelas. 1-6 berada di ujung selasar, sementara kelas 1-2, kelas Boby, berada dekat ruang guru di ujung satu lagi. Jalinan hubungan antara Emy dan Boby berawal ketika ada perbaikan gedung SMU ini. Ketika itu, Emy sedang berjalan ke kelasnya lewat di bawah tangga tukang perbaikan. Tukang itu tidak sengaja menjatuhkan kayu dan nyaris mengenai kepala Emy kalau saja Boby tidak menyelamatkannya. Dari situlah hubungan mereka mulai berlanjut sampai sekarang. Meski baru tujuh bulan mereka berpacaran, tapi mereka seperti sudah pernah menikah sebelumnya.Emy melenggang dengan riang memasuki ruang kelas Boby. Matanya menyapu seisi kelas menceri-cari keberadaan Boby, tapi dia tidak bisa menemukannya. Ke mana anak itu, batin Emy bertanya-tanya. Janjinya ingin bertemu di sini, tapi kenapa tidak ada. Karena tidak menemukan Boby, Emy pun berniat mencarinya di luar. Tapi belum sampai dia berjalan beberapa langkah, terdengar namanya dipanggil.“Emy!” seru seseorang di belakangnya. Emy menoleh. Dia mendapati pak Sam berdiri di depan pintu kantor. Kemudian dia berjalan ke arahnya. “Ada apa, pak?” tanya Emy lugas.“Bapak ingin minta bantuanmu,” kata pak Sam.“Bantuan apa?”“Eh…” pak Sam tampak berpikir. “Tolong bawakan peralatan obat di kantor bapak ke UKS. Barangnya banyak, jadi bapak perlu bantuanmu.”Emy tampak waspada. UKS? Dia teringat kata-kata Andini kalau Mira pernah dibawa ke UKS. Apa yang akan dilakukan pak Sam padaku di sana?“T—tapi pak, kenapa harus saya,” kata Emy, gugup.“Ya, kalau kau keberatan bapak tidak akan memaksa,” kata pak Sam tampak kecewa. “Bapak akan cari orang lain saja.”“B—baiklah, pak. Saya pergi dulu kalau begitu.” Tanpa basa-basi lagi Emy langsung melesat pergi. Dia tidak mau berlama-lama berada di sana. Bagaimana kalau pak Sam berhasil membujuknya. Untung saja dia bisa lari. Kalau tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya.****“Kau istirahat saja dulu di sini,” saran Andini sambil memapah tubuh Emy ke UKS. Emy tertatih-tatih berjalan ke ranjang dibantu Andini. Setelah dia bisa duduk di ranjang, tangannya mengibas-ngibas lututnya untuk menghilangkan rasa nyeri yang berdenyut-denyut dari tadi. Kesalahannya juga kenapa lututnya bisa lecet. Dia terlalu bersemangat bercanda dengan Amelia saat olah raga tadi. Sementara menunggu pak Fauzan, guru olah raga datang, Amel tadi menunjukkan arloji barunya pada anak-anak. Karena penasaran, Emy juga ikut melihat. Awalnya dia hanya memegang dan melihat-lihat biasa, tapi kemudian timbul niat untuk menggodanya. Apalagi anak itu sifatnya agak cengeng dan memang dia suka sekali memamerkan barang-barang barunya. Jadi, arloji itu dibawanya pergi dan dia bilang pada Amel kalau Emy meminjamnya sampai arloji itu rusak baru dia kembalikan. Jadilah kejar-kejaran sampai membuat Emy jatuh dan lututnya lecet. Sekarang dia berada di ruang UKS dan tidak bisa mengikuti pelajaran olah raga. Menurut Emy itu justru menguntungkan karena dia bisa tiduran di sini sementara yang lain akan kecapekan berolahraga. Andini sedang mencari-cari obat anti septik di dalam kotak obat. Emy mengamati ruang UKS itu. Tidak terlalu besar, hanya cukup ditempati satu ranjang ukuran kecil dan kotak obat yang tertempel di dinding. Emy teringat cerita Andini tempo hari. Ruangan ini pernah menjadi saksi sebuah perbuatan bejat seorang guru pada muridnya. Dan dia kemarin juga hampir terjebak ke dalam ruangan sempit ini bersama pak Sam kalau saja dia tidak berhasil menghindar.“Akhirnya aku menemukannya!” seru Andini, tangannya memegang botol kecil ber-warna kuning. “Benda sekecil ini ditaruh di antara obat-obat yang berserakan itu? Benar-benar rajin orang-orang di sini.” Katanya menambahkan dengan sinis.Kemudian dia mengambil kapas dan meneteskan obat itu ke luka Emy. Lutut Emy ber-jingkat-jingkat menerimanya.“Aduh pelan-pelan, dong,” kata Emy sedikit merintih.“Ini sudah pelan, Non,” kata Andini. “Kau sendiri sih yang cari masalah, kenapa kau membuat lututmu seperti ini.”Emy memutar bola matanya. Andini masih terus meneteskan obat anti septik itu ke lututnya.“Sudah,” kata Andini. “Kau istirahat saja dulu di sini sampai pergantian pelajaran berikutnya.”“Ok, deh,” Emy berkata dengan semangat, seakan dia sangat menikmati lututnya sakit.“Dasar,” kata Andini menggelengkan kepala. Dan setelah dia mengembalikan obat anti septik ke dalam kotak obat, dia keluar meninggalkan Emy sendiri.Emy merebahkan tubuhnya di ranjang, kemudan dia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia mulai menulis pesan ke Boby. ‘Aku ada di UKS, lututku lecet. Kamu ke sini dong temenin aku.’ Begitu tulisnya. Kemudian dia mengirim pesan itu, dan tidak sampai tiga menit pesan balasan diterima Emy. ‘Ok,’ begitu bunyinya.Emy memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Selama menunggu Boby datang, dia berpikir sambil menatap langit-langit. Di sini sangat sepi. Ruangan ini memang letaknya agak jauh dari kelas-kelas lain. UKS terletak di sebelah gudang dan kelas baru yang masih dibangun. Pasti akan menyenangkan berada di sini bersama Boby seorang diri. Emy sudah membayangkan sesuatu yang dilampau batas. Terdengar ketukan dari luar. Tubuhnya langsung terduduk tegak. Itu pasti Boby, pikirnya. Cepat sekali, padahal jarak antara UKS dan kelasnya lumayan jauh. Tapi dia tidak peduli. Dia senang Boby datang lebih cepat.“Masuklah,” seru Emy. “Aku sudah menunggumu dari tadi.”Pintu ruang UKS terbuka pelan. Seseorang keluar dari balik pintu. Emy langsung terbelalak. Dia bukan Boby, tapi pak Sam! Tubuhnya langsung mengejang ketakutan.Pak Sam tersenyum, berdiri menatap Emy. Kemudian dia menutup pintu dan me-nguncinya. Dia memasukkan kunci pintu itu ke saku. Emy semakin ketakutan melihatnya.“Halo, Emy,” katanya. “Kau sedang menunggu seseorang? Pasti pacarmu, Boby.”“Ma—maaf, pak,” kata Emy tergagap. “apa yang bapak lakukan di sini?”“Kau tidak usah takut. Aku ke sini hanya ingin menjengukmu. Aku melihatmu tadi masuk kemari dibantu oleh temanmu. Jadi, apa salahnya bapak menjengukmu. Kebetulan bapak juga sedang kosong.”Pak Sam berjalan mendekat. Emy mendorong dirinya merapat ke dinding. Apa yang akan dilakukannya? Emy ketakutan setengah mati.Pak Sam mengulurkan tangannya ke Emy, “Boleh aku melihat lukamu,” belum sampai Emy mengizinkannya pak Sam sudah memegang lutut Emy yang terluka. Tubuh Emy gemetar tidak keruan.“Lukamu tidak parah,” kata pak Sam mengamati luka Emy.Ingin sekali Emy menyingkirkan tangan itu.Lalu tiba-tiba dirasakan Emy tangan pak Sam mulai naik ke atas lututnya, kemudian semakin tinggi ke pahanya dan terus merayap ke atas di balik roknya.Emy langsung mendorong tubuh pak Sam menjauh. Pak Sam tampak kaget, dan raut wajahnya langsung berubah marah.“Kau jangan sok jual mahal, Emy,” kata pak Sam. “Kau sebenarnya juga meng-inginkannya, bukan?”Emy menggelengkan kepalanya keras-keras.“Dengan gayamu yang menggoda dan rokmu yang minim itu, setiap laki-laki pasti ingin menelanjangimu. Jadi, kau jangan sok suci!” Pak Sam kembali meneruskan niatnya, tapi Emy dengan gesit langsung menghindar meski dengan menahan rasa nyeri berdenyut-denyut di lututnya. Dia langsung berlari dengan terpicang-pincang ke arah pintu.“Tolong…!! Tolong…!!!” Emy menggedor-gedor pintu itu dengan sekuat tenaganya.“Percuma kau minta tolong,” kata pak Sam. “tidak ada yang akan mendengarmu. UKS ini tempatnya jauh dari kelas lain.”Tapi, Emy tidak peduli. Dia terus menggedor-gedor pintu dan berteriak minta tolong. Boby pasti akan segera datang. Dia tadi akan kemari.“Tolong…!!”“Emy?!” terdengar suara dari luar. Itu seperti suara Boby.“Boby tolong aku,” seru Emy dengan terisak. “keluarkan aku dari sini!”“Ada apa?!” suara Boby terdengar panik.“Tolong keluarkan aku dari sini!”“Baiklah, aku akan minta bantuan pak Kamto untuk mengeluarkanmu!” Boby terdengar menjauh. Pak Kamto adalah petugas kebersihan di sekolah ini. Mungkin Boby ingin meminta kunci duplikatnya pada pak Kamto.Sementara itu setelah sudah tidak terdengar suara Boby lagi, pak Sam membuka pintu UKS dan lari keluar. Emy tidak percaya melihatnya. Dia benar-benar bajingan.Tidak beberapa lama kemudian, Boby dan pak Kamto datang. Boby tampak terkejut melihat pintu UKS sudah terbuka dan melihat Emy menangis meringkuk di lantai.Begitu melihat Boby datang, Emy langsung berhambur memelukanya. Kemudian setelah dia merasa lebih tenang, Emy menceritakan semua kejadian tadi di UKS.Boby tampak berang. Dia langsung melapor ke kepala sekolah. Tapi, tanggapan kepala sekolah sangat mengecewakan. Dia terkesan membela pak Sam dengan berdalih tidak ada bukti dan saksi yang kuat seperti kasus Mira waktu itu. Boby sempat marah, beradu pendapat, dan mengobrak-abrik ruang kepala sekolah begitu mendengar jawabannya. Hal itu memicu Boby untuk memprovokasi teman-temannya untuk berdemo menuntut pak Sam. Mereka membawa poster-poster dengan gambar karikatur pak Sam yang ber-tanduk dan mempunyai ekor. Dan yang lain membawa sebuah papan bertuliskan ‘Turunkan Harga dji-SAM-soe!’ disertai dengan teriakan-teriakan slogan tersebut berkali-kali di depan kantor sekolah. Semua penghuni sekolah itu menonton mereka beramai-ramai, meng-acuhkan pelajaran mereka.Dan setelah beberapa jam mereka melakukan demo, akhirnya kepala sekolah memberi keputusan, setelah mengadakan rapat dengan guru-guru yang lain. Mereka memutuskan untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Bahkan mereka akan mengerahkan tim penyidik jika perlu. Tapi hal itu tidak sampai dilakukan, karena ternyata tidak hanya Emy saja yang bersaksi dan yang pernah diperlakukan tidak senonoh oleh pak Sam. Ada tiga temannya yang juga pernah diperlakukan seperti itu, bahkan ada juga kakak kelasnya yang ikut bersaksi bahwa pak Sam pernah mengancamnya kalau dia melaporkan perbuatannya pada kepala sekolah. Setelah mendengar penuturan dari para murid yang menjadi korban kebejatan pak Sam, akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk mengeluarkan pak Sam dengan tidak hormat. Dan kejadian tersebut akan menjadi pelajaran bagi para murid dan guru-guru yang lain.
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini

cerpen cinta

cerpen cinta, cerpen cinta
Pagi hari, di kediaman keluarga darmawan…..
“Ya….. masa Dinda ke skul harus naik angkot sich, Bun?”
”Hari ini Pak Kosim nggak bisa ngantar. Karena anak nya lagi sakit, dan semalam dia izin pulang. Udah, sekali-kali kamu berangkat naik angkot, napa? Buruan sana berangkat, ntar kamu telat lho!!!”
”Ya udah dech….Dinda pergi dulu ya, Bun!”

Hari ini adalah hari yang menjengkelkan bagi Dinda. Karena supirnya harus nemani anaknya di rumah sakit. Alhasil dia harus berangkat ke skul naik angkot.

”Duh Bunda ne, kenapa nggak nyari orang lain sich buat nganterin aku, terpaksa dech aku naik angkot. Mana panas lagi.”
Saat dia lagi sibuk mengoceh, tiba-tiba muncul cowok yang cakep banget duduk tepat di sebelah Dinda. Dan jantung Dinda hampir aja copot saat tu cowok senyum dengannya.

Dinda ngerasaain perasaan yang lega dan semua kekesalannya hilang seketika. Karena senyum cowok itu sangat manis, apalagi ditambah dengan sorot matanya yang teduh banget, yang dapat menutupi rasa sakit yang udah lama tertahankan olehnya.
Seharian ini kerja Dinda hanya senyum-senyum sendiri, bundanya aja malah nganggap kalo Dinda kesambet setan halte bus.

”Duh….tu cowok manis banget ya…… saat gue liat mukanya, gue ngerasa kalo beban gue naik bus itu musnah semua. Sapa ya nama tu cowok? Rasanya gue pengen banget kenalan ama tu cowok. Py gue malu. Hm…. gue kasih nama “Teduh” aja dech… Coz matanya tu teduh banget. And mulai besok gue bakalan naik bus dech… coz gue pengen ngeliat muka tu cowo lagi” pikir Dinda yang masih nggak berhenti memikirkan cowok tadi, dan akhirnya dia tidur sambil berharap bisa menemukan cowok itu di mimpi indahnya.

Paginya….
“Bun, Dinda pergi skul dulu ya…!!!” pamit Dinda sambil mencium pipi bundanya
“Lho Din, kamu nggak nunggu Pak Kosim dulu?”
”Nggaklah Bun, hari ini Dinda pengen naik bus aja….da Bunda,” ucap Dinda sambil berlari meninggalkan rumahnya.
Sesampainya di halte bus…..
”Duh si teduh mana ya? Kok belom datang sich?” batin Dinda gelisah karena sang pujaan hati belum juga menampakkan batang hidungnya.

Tapi baru saja Dinda gelisah dengan pertanyaan yang ada di hatinya, tiba-tiba muncul seorang cowok yang bermata teduh. Cowok itu tersenyum dan menyapa Dinda.
”Hei….. Kamu baru naik bus ya?” sapa cowok itu yang berhasil membuat Dinda terpaku.
”Lho koq diam?”
”Eh….sorry…. tadi kamu bicara apa?”
”Aku tanya, kamu baru naik bus ya? Soalnya aku baru ngeliat kamu semalam”.
”Ha…, oh iya…..nam…..” belum Dinda menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba bus yang menuju ke sekolah Dinda datang.
”Eh… tu bus kamu udah datang”.
”Oh iya….hm… aku berangkat duluan ya…,” pamit Dinda yang dibalas dengan senyuman teduh itu lagi. Dan rasanya langkah Dinda berat banget buat ninggalin ”teduh” nya itu.

***

Sudah sebulan Dinda bertemu dengan cowok pujaan hatinya itu. Tapi nggak pernah sekalipun dia berani berkenalan dengan ”teduh”. Jangankan berkenalan, menyapa saja dia tak berani. Sampai akhirnya suatu hari Dinda memberanikan diri untuk berkenalan dengan ”teduh” hari ini. Tapi orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Dan Dinda nggak sadar kalo itu adalah pertemuan terakhir dengan ”teduh” nya itu.

***

Seminggu sudah Dinda menanti sang pujaan hati, tapi ”teduh” tak kunjung datang. Dan seminggu pula Dinda melewati hari-harinya dengan tidak bersemangat. Berbeda saat dia baru bertemu dengan ”teduh”.
Suatu pagi, saat ia menunggu bus untuk terakhir kalinya. Kursi yang biasa di duduki ”teduh” sudah di duduki oleh seseorang. Tapi seseorang itu bukan teduh melainkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya dan mukanya juga sangat mirip dengan seseorang yang sangat dirindukan Dinda. Tapi dari raut mukanya, tampak sekali kalo beliau sedang bersedih. Tiba-tiba ibu itu menyapa Dinda dengan ramah:

” Lagi nunggu bis ya, Dek?” sapanya ramah
”Iya Bu….”
”Kalo anak saya masih hidup, dia mungkin duduk di sini dan nungguin bus juga kayak kamu!”
”Lho….memangnya anak ibu kemana?”
”Anak saya udah nggak ada lagi. Dia udah pergi jauh dan nggak akan pernah kembali lagi”.
”Maksud Ibu dia pindah ke luar kota ya?”
“Bukan nak, dia udah meninggal dunia”.
”Oh…maaf ya Bu….”
”Nggak apa-apa koq dek….. dia tu punya mata yang teduh sekali, setiap orang yang melihatnya pasti bakal tenang dan lega.”
”Sayang ya Bu, sayang saya tak bisa melihat mukanya. Tapi dari cerita ibu, saya ngerasa dia mirip banget ama seseorang.”
”Hm…..kebetulan saya selalu membawa fotonya.” jawab ibu itu sambil menyerahkan foto anaknya.
”Oh ya…. sebelumnya ibu ingin minta tolong sama kamu, bisa nggak kamu membantu ibu?”
”Apa yang bisa saya bantu Bu?”

”Di belakang foto itu, anak saya menuliskan surat terakhirnya. Dan dia berpesan agar surat itu diberikan kepada seorang cewek yang bernama Dinda. Kalo adek kenal, saya minta tolong sekali supaya adik bisa menyampaikannya kepada Dinda.” pesan terakhir ibu itu dan langsung meninggalkan Dinda dengan perasaan binggung dan deg-deg-an, karena ia takut kalo cowok itu ternyata……….

”Halo Dinda….mungkin kamu bertanya-tanya mengapa aku tahu namamu…. itu karena aku sengaja melihat namamu….. Andai saja aku masih hidup, ingin rasanya aku berkenalan denganmu. Ingin rasanya aku lebih dekat denganmu, tapi aku tak berdaya menahan sakitnya kepalaku ini. Sekarang aku percaya dengan cinta pada pandangan pertama, karena aku ngerasa aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu. Tapi aku ngggak punya keberanian buat ngungkapinnya.

Karena kita belum saling kenal, tapi sekarang aku lega, karena sebelum aku meninggal, aku bisa mengungkapkan perasaan ku ini, walaupun hanya lewat sepucuk surat. Dan sekarang aku bisa meninggalkan dunia ini tanpa beban memendam perasaan ini lagi. Terima kasih karena kamu bisa mengajari aku tentang rasanya jatuh cinta. Dan menambahkan semangatku untuk hidup lebih lama.
Dariku Reza”.

Saat melihat foto dan membaca surat itu, air mata Dinda tak dapat di tahan lagi. Ia merasa lemas saat melihat sosok pria yang memiliki mata teduh itu. Sepasang mata yang membuatnya menanti selama sebulan. Membuatnya rela panas-panasan menunggu angkot, dan membuatnya selalu bersemangat melewati hari. Lalu dinda membaca surat terakhir dari teduh
Sekarang sosok itu hanya dapat tersenyum abadi, tapi tak dapat disentuh dan diajak berbicara. Dan sekarang dinda hanya bisa menangis dan menyesali kepergian ”teduh” bersama dengan rasa cintanya yang tak kan bisa tersampaikan selamanya.

Tiara Adinda
SMA Negri 1 Pekanbaru

cerpen cinta, cinta lokasi

label, cerpen cinta, cerpen persahabatan

Sudah seminggu ini, setiap pagi cowok dan cewek itu duduk di bangku taman. Meski tak saling berpegangan tangan, mereka tampak akrab dan saling mencintai. Sebenarnya, sebagai penggemar olahraga pagi, sudah cukup lama mereka saling mengenal. Tapi baru seminggu ini mereka berpacaran. Mungkin, ini juga bisa disebut sebagai ‘cinta lokasi’. Benih-benih cinta muncul dan berkembang di lokasi di mana mereka hampir setiap hari berolahraga. Rupanya, dari seringnya mereka bertemu, bertegur sapa, dan berbicara, maka tumbuhlah rasa cinta di antara dua manusia itu. Maka di suatu pagi yang cerah, setelah selesai berolahraga pagi, Dicky –demikian nama cowok itu– mendekat dan langsung ‘menembak’; menyatakan cintanya pada Joan, si cewek. Meski dengan berpura-pura malu, Joan menerima cinta Dicky. Maka resmilah sejak pagi itu mereka ‘jadian’.

Pagi itu, dua sejoli itu duduk di bangku taman. Berdua mereka sedang merancang acara ulang tahun Dicky yang sekaligus akan dimanfaatkan sebagai pengumuman bahwa mereka benar-benar jadian. Mereka berencana akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah Dicky, dengan mengundang teman-teman sesama penggemar olahraga pagi di taman itu. Bagaimanapun, berakhirnya masa jomblo ini harus dirayakan. Sudah berbilang tahun Dicky dan Joan menjadi jomblo dengan kisah sedihnya masing-masing.

Setelah ditetapkan waktu dan berapa orang yang akan diundang, mereka berdua bangkit dan berjalan menuju mal tak terlalu jauh dari situ. Mereka hendak membeli perlengkapan pesta seperti piring karton, sendok garpu plastik, sedotan, balon udara, topi kerucut, kertas warna-warni, kue tart, dan juga lilin-lilin kecil sebanyak 79 batang.

Saat membayar di kasir, Dicky berbisik mesra di telinga Joan, “Pasti kasir itu menyangka, barang-barang yang kita beli itu untuk cucu-cucu kita.”

Joan tersenyum dan mencubit lengan Dicky. Sepasang kakek-nenek itu tampak mesra sekali.

cerpen

Ini bukan cerpen cinta, tapi cerita ini wajib dibaca

Sepasang suami istri (seperti pasangan lain di kota2 besar meninggalkan anak2 diasuh pembantu rumah tangga sewaktu bekerja).
Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Ia sendirian di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya...karena mobil itu berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini!!!..."

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga terkejut. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan, "Saya tidak tahu..tuan." "Kamu di rumah sepanjang hari, apa saja yang kamu lakukan?" hardik si istri.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yang membuat gambar itu ayahhh..cantik kan..!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.
Si ayah yang sudah kehilangan kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya pada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab si pembantu ringkas. Kasih minum Panadol saja," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur, ia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik..Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.
Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap, dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan..." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut... "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan lagi...

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata istrinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah..ibu..Dita tidak akan melakukannya lagi... Dita tidak mau lagi ayah pukul. Dita tidak mau jahat lagi...Dita sayang ayah...sayang ibu.", katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah...kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil? Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?.. Bagaimana caranya Dita mau bermain nanti?.. Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi." katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata2 anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun apa yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski ia sudah meminta maaf.

Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran batin sampai suatu saat sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan ia wafat diiringi tangis penyesalan yang tak bertepi.

Namun...si anak dengan segala keterbatasannya dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya...

"Sering dalam hidup kita bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu...dan tanpa kita sadari tindakan itu dapat membawa penyesalan seumur hidup kita...
So...berpikirlah dahulu sebelum bertindak!!!"

cerpen cinta,ternyata bukan kenyataan

Oleh: Ambar Widowati

Aku dan Arin adalah sepasang sahabat. Kami bersahabat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku sangat kagum pada sosok Arin. Dia bukan cuma persahabatan yang baik, tapi juga pintar. Dia selalu membantu jika aku kesusahan mengatasi soal-soal pelajaran.

Suatu hari, Arin terlihat sangat pucat. Dia menggigil kedinginan. Aku sudah berusaha menanyainya, tapi tetap saja Arin tidak mau mengaku.

"Aku nggak pa-pa kok, Din. Percaya deh! Mungkin cuma masuk angin!" kata Arin meyakinkanku.

"Mending kamu ke UKS saja deh!! Muka kamu tuh pucat banget. Kalo ternyata bukan masuk angin gimana? Ntar malah bikin repot orang tua kamu!"

Akhirnya Arin menuruti nasihatku. Di UKS, Arin menolak diberi obat. Katanya, dia alergi sama obat yang nggak pernah dikonsumsi. Alhasil, Arin hanya diberi minyak kayu putih dan petugas UKS menyuruhnya tiduran. Aku segera menelepon Pak Badri, sopir Arin. Beberapa menit kemudian, Pak Badri datang.

"Makasih ya, Non, sudah jagain Non Arin," kata Pak Badri ramah. "Iya, sama-sama, Pak. Tolong langsung anterin Arin ke rumah ya! Trus, langsung suruh dia minum obat. Oia, jangan lupa suruh dia makan dulu!" "Aduh, Non Dina nih benar-benar perhatian ya sama Non Arin. Nyonya saja kalah lho, Non!"

"Ah, Pak Badri bisa saja! Ini kan sudah kewajiban Dina sebagai teman Arin. Ya sudahlah, Pak, ati-ati ya di jalan!"

"Mari, Non!" Bel pulang sekolah berbunyi. Aku segera mencari tebengan pulang. Maklum, biasanya kan aku bareng Arin karena rumah kami searah. Untunglah ada Edo yang baik hati mengantarkan aku pulang sampai rumah. Tapi dengan syarat, aku mengganti uang bensin. Dasar perhitungan! Dalam hati aku bersorak riang karena apa yang menjadi impianku terkabul. Aku pulang bareng Edo, gebetanku.

"Arin tadi kenapa, Din?" aku langsung terbangun dari lamunanku. Nggak tahu tuh! Tadi sih katanya cuma masuk angin, tapi kok sampai pucat gitu !
"Oh, kirain dia kenapa gitu…"
"Kenapa apanya?"
"Ha?! Oh…nggak….nggak kenapa-kenapa…. Eh, Din sudah nyampe nih!!"
"Tenkyu ya, Do! Uang bensinnya besok saja di sekolah! Aku lagi nggak bawa duit nih!"
"Beres! Ya sudah, aku pulang dulu ya, Din!"
"Ati-ati ya, Do! Daaahhh!!!"

Siang ini terasa panas sekali. Aku merebahkan diri di kasur tercintaku. Lumayan kalo bisa tidur. Soalnya, nanti sore aku ada les. Tak lama kemudian ponselku berdering. "Sialan!! Siapa sih siang-siang gini nelepon? Duh, mataku tinggal 5 watt lagi!" umpatku dalam hati.

"Halo Din…. Lagi ngapain nih? Ntar les kan? Aku jemput ya?" suara Edo terdengar begitu nyaring. "Oh kamu, Do! Ganggu orang tidur saja! Iya, aku les. Kenapa? Mau nebengin aku lagi?" ujarku setengah sadar.
"Tahu saja! Sekalian ambil duit bensin gitu lho! He he."
"Dasar perhitungan!! Kamu jemput aku jam berapa?" kataku sambil menahan rasa ge-er ditambah ngantuk.
"Gimana kalo jam 3-an?"
"Ya terserah kamu deh!!"
"Ya sudah! Wait for me ya, Din! Met tidur…" suara Edo terdengar sangat manja. Rasa kantuk yang sedari tadi melandaku langsung hilang begitu saja. Aku masih terngiang-ngiang suara Edo. Ahhh….indahnya dunia! He he he… Aku pun segera pergi mandi meskipun tahu sekarang masih pukul 13.45. Tapi, nggak pa-pa, demi Edo….

Seusai mandi aku mengecek ponselku, "1 message received." Aku membukanya. Ternyata dari Arin. "Din, aq ijinin g’ msuk les y! Aq mau ke dokter. Tenkyu, Din." Singkat, padat, dan jelas.
"He-eh, ntar aq ijinin. Tp ntar jgn lupa kasih kbr ya! Oia, aq td pulang nebeng Edo lho! Whuuaa, senangnya! Ntr aq les jg dijemput ma dia! Wish me luck ya, Rin! Hehe… =)" Setelah membalas SMS Arin, aku segera berganti pakaian. "Arin sakit apa ya?" batinku.

"Dinaaa!" suara Edo terdengar sangat nyaring dari luar.
"Iya bentar. Aku masih ganti baju!" "Waahh, ikut dong!!! He he…."
"Kurang ajar!!" Sepuluh menit kemudian aku selesai berganti pakaian. Aku segera menghampiri Edo di teras. "Udah siap? Kita berangkat sekarang?"
"Nggak… besok saja! Ya iyalah sekarang! Aneh…."
"Tapi ganteng kan?? He he he!" Aku berusaha menyimpan raut muka yang aku tahu pasti sekarang sudah merah kayak tomat.
"Sudah ahh!! Nggak penting banget!" jawabku sebisa mungkin terlihat biasa.
"Nih helmnya! Pegangan ya!"
"Iih! Maunya!"
Di jalan aku menceritakan SMS Arin tadi siang.
"Euumm, gimana kalo ntar pulang les kita mampir ke rumah Arin dulu?"
"Ayo! Tapi gak pakai nambah duit bensin ya!"
"Beres!"

Sesampai di tempat les, aku menonaktifkan ponsel. Maklum, peraturan di tempat lesku ini sangat ketat. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mending aku matiin dulu ponselku.

Dua jam berlalu….
"Teeeettt!!!" bel akhir pelajaran berbunyi. Aku bergegas membereskan bukuku dan langsung menghampiri Edo di kelas IPS.
"Rez, Edo mana?" tanyaku pada Reza alias Echa, salah seorang teman sekelas
"Edo? Tuh, lagi merenung. Kayaknya dia habis dapat berita spektakuler gitu!" jawab Reza dengan gaya khasnya, melambai alias kayak banci.
"Hush! Ngaco! Emang berita apa?"
"Yeee…. Mana eike tahu!! Bukan urusan eike! Dia kan bukan cowok eh cewek eike! Salah sendiri kenapa selama ini Aa’ Edo mesti ngacangin Echa! Echa kan jadi sebel!" jawab Reza sekenanya. Dasar banci….batinku.
"Do, kamu kenapa? Ada masalah? Kok kayaknya bad mood gitu?" Edo diam.
"Do, kamu kenapa sih? Aneh banget! Perasaan tadi kamu ceria banget deh, trus tiba-tiba jadi diem kayak gini. Emang kenapa sih, Do? Cerita dong! Sapa tau aku bisa bantu kamu!" ujarku.
"Mending, kamu baca saja sendiri," kata Edo sambil menyerahkan ponselnya kepadaku. "Hah?! Nggak mungkin!! Ini pasti bohong!!! Aku tau kalian berdua pasti ngerjain aku! Ini nggak mungkin kan, Do?!!" aku lepas kontrol. Tak terasa air mata mulai mengalir dari mataku.
"Sumpah, Din!! Aku nggak bo’ong! Tadinya sih aku mengira itu cuma lelucon Pak Badri! Kamu tahu sendiri kan kalo Pak Badri doyan banget ngerjain orang? Tapi rasanya nggak mungkin kalo dia bikin lelucon sampai kelewatan kayak gini! Apalagi sampai ngorbanin majikannya sendiri!"
"Tapi nggak mungkin, Do!!! Nggak mungkin," aku semakin tersedu-sedu.
Edo berusaha menenangkanku. "Kalo kamu masih nggak percaya, mending kita sekarang pergi ke rumah Arin. Dari situ kita bakal tahu berita ini benar atau nggak!"

Di jalan aku benar-benar tidak tenang. Apa mungkin perasaanku benar? Bahwa aku akan kehilangan, ahh… nggak mungkin! Perasaanku berontak. Antara percaya atau tidak dengan berita itu. Sesuatu yang aku takutkan benar-benar terjadi. Di teras rumah Arin banyak sekali karangan bunga. Para tetangga datang sambil mengucapkan rasa belasungkawa. Aku benar-benar kehilangan sahabat yang aku cintai.

"Ariiiiiinnnnnn," aku tak kuasa menahan tangis.
"Tenang, Din. Tenang…. Ini sudah takdir. Sabar Din," Edo terus menenangkanku.
"Tapi nggak mungkin, Do! Aku masih nggak percaya!" Tiba-tiba suara yang sudah sangat aku kenal memanggilku.
"Dina, Dina." Aku menoleh. Dan, buukkk!!! Bantal empuk menghampiri mukaku dengan mulus. "Heh! Bangun! Jam berapa nih, Non? Katanya mau berangkat bareng? Ini kok malah enak-enakkan tidur!!! Wake up!!! Wake up!!!" suara Arin membangunkanku.
"Ya ampun, Arin! Bukannya kamu sudah, whuuaaa… Ariiiinnnn!!!" aku langsung memeluk Arin. Arin cuma bengong. "Heh! Dasar gila!! Kamu kenapa sih?? Pasti mimpiin aku ya? He he…."
"Iya, aku mimpiin kamu. Duh, ngeri sendiri aku…." "Mimpi apa sih, Din? Mimpi aku kawin sama Brad Pitt, Beckham, atau Orlando Bloom? He he he," kata Arin kepedean.
"Yah, kalo itu sih aku juga mau! Bukan mimpi juga nggak pa-pa! Malah senang aku!" "Yaaa, trus mimpi apa dong?" tanya Arin penasaran.
"Euumm, kayaknya nggak perlu aku ceritain deh! Yang penting sekarang kamu ada di samping aku selamanya…. Dan yang lebih penting lagi, goodbye nightmare. He he!"
"Dasar orang gila!"

Penulis adalah pelajar SMAN 10 Surabaya.

cerpen persahabatan Kado Empat Cewek

Oleh : Boim Lebon

“Ya, saya tawarkan diary ini dengan harga awal dua puluh ribu rupiah!” teriaknya lantang.

Keempat cewek ini kompak banget. Dina, Rina, Tina, dan Mirna ke mana-mana selalu berempat.
Kalo ke kantin pasti ketemu dengan empat cewek ini, ke perpustakaan juga begitu, ke lapangan basket juga, bahkan sampai ke kamar kecil sekali pun pasti ada empat makhluk-makhluk manis ini. Aku sih geleng-geleng kepala aja setiap kali bertemu mereka.
Mereka kerap aku undang ke acara OSIS, dan enaknya, kalau yang satu mau, yang lainnya pasti ikutan. Jadi lumayan, ngundang satu dapat empat. He he he, kayak sale aja.
Tapi belakangan, aku melihat ada perubahan pada keempat cewek kompak itu. Mereka memang masih ke mana-mana berempat, tapi di raut wajah mereka ada yang berubah, tak lagi tersenyum bersama, melainkan seperti menyimpan misteri sendiri-sendiri. Ada apa ya?
Rupanya, setelah aku dapat info dari salah seorang dari mereka, diam-diam empat cewek ini lagi naksir seorang cowok. Salah satu dari mereka yaitu Dina, bercerita kepadaku.
Katanya, yang awalnya naksir, Mirna, tapi karena sudah kebiasaan, yang lainnya ikut memperhatikan sang cowok dan ujung-ujungnya empat-empatnya jadi ikutan naksir. Tentu aja, yang begini nggak bisa dilakukan secara bersamaan. Masalah cinta nggak kenal istilah kompak-kompakan. Karena jatuh cinta adalah masalah hati, dan yang namanya hati punya rahasia sendiri-sendiri. Iya kan?
Dan jujur aja, untuk yang kayak begini aku nggak bisa ngasih solusi apa-apa, wong aku sendiri nggak pernah naksir orang, kok. Apalagi sampe jatuh cinta. Paling aku bilang pada Dina, sebaiknya konsentrasikan diri pada pelajaran, nanti masalah itu bisa terlupakan dengan sendirinya. Tapi Dina bilang, justru ia nggak bisa belajar dengan konsentrasi kalau nggak ingat sama cowok itu. Duile segitunya!
Tapi besoknya aku dengar dari Dina lagi kalo keempat cewek itu sudah membuat kebulatan tekad.
“Hmm, gini deh, kalo kita mau memepertahankan kebersamaan kita, di antara kita tidak ada yang boleh naksir sama cowok itu lagi!” cerita Dina padaku.
“Setuju!” teriak tiga lainya, masih menurut cerita Dina.
Hmm, menurutku hebat. Mereka lebih memilih kebersamaan daripada harus pecah gara-gara seorang cowok ganteng.
Tapi apa iya mereka bisa kompak begitu? Rasanya kalau untuk naksir-naksiran, siapa pun nggak ada yang bisa dipercaya. Buktiin, deh. Soalnya sekarang si Dina, mendatangiku lagi dan bilang bahwa dia betul-betul tidak bisa melupakan bayangan si cowok itu.
“Dia ulang tahun, boleh nggak saya ngasih kado?” ujarnya memohon pendapatku.
“Ya, kalo cuma mau ngasih kado sih boleh-boleh aja. Kenapa tidak?” Ucapku.
“Hmm, jadi nggak apa-apa?”
“Emangnya kenapa?” pancingku
“Ya, kita kan udah janjian nggak mau naksir cowok itu lagi?”
“Memberi kado kan bukan menunjukkan bahwa kita naksir?”
“Tapi,” kata Dina dalam hatinya (kok aku bisa tau suara hatinya? He he he) “Aku ngasih kado ini karena sebetulnya masih naksir dia, dan sulit sekali melupakannya. Eh kamu janji ya, jangan bilang-bilang ke ketiga temanku itu kalo aku ngasih kado ke cowok itu.” sergah Dina lagi.
“Apa pernah aku cerita-cerita?” kayaknya dia nggak percaya sama reputasiku.
“Enggak, sih?”

***

Besoknya keempat cewek itu sudah mulai akrab lagi. Tapi pada hari yang sama, tepatnya di sore harinya, cowok yang mereka taksir itu datang kepadaku. Katanya dia mau melelang barang-barang yang merupakan kado-kado dari hasil pemberian beberapa orang. Hasil lelangnya itu akan disumbangkan ke kegiatan OSIS sekolah. Wah, boleh juga, tuh.
“Barangnya apa aja?” tanyaku.
Kemudian aku bersama teman-teman pengurus OSIS, diajak ke sebuah mobil yang terparkir di luar pagar sekolah. Ketika bagasinya dibuka, aku lihat banyak sekali barang yang ia tawarkan tapi masih berupa bungkusan kado.
“Yang mana yang mau dilelang?” tanyaku sedikit terheran.
“Semuanya….” jawab si si cowok kiyut itu.
Karena semua masih dibungkus dalam kertas kado, kita tidak tahu jangan-jangan ada hadiah yang sangat mahal harganya? Atau jangan-jangan ada yang isinya bom? He he he
“Nggak diperiksa dulu, atau dipilih-pilih yang mana yang kira-kira bisa dilelang dan yang mana yang bisa digunakan untuk pribadi?”
Si cowok cakep ini menekankan, “semuanya, dan tidak perlu diperiksa.”
Wah, wah, hebat juga nih cowok. Dalam hatiku, enak sekali jadi cowok ganteng ya, tiap ultah banyak yang ngasih kado. Padahal setahuku si cowok ini nggak bikin pesta, kado terus aja mengalir.
Aku tentu saja beterima kasih padanya. Si cowok ini lumayan sosial. Dia nggak gitu aktif di OSIS, tapi setahuku dia lumayan sering hadir di acara-acara OSIS. Diam-diam aku sempat memperhatikan sosoknya, dan menurutku sih wajar aja banyak orang (terutama cewek-cewek di sekolah ini) yang berusaha menarik perhatiannya dengan memberikan kado pada HUT-nya itu. Selain orangnya cakep, mudah bergaul, murah senyum, nggak sombong, dan ya itu tadi, punya jiwa sosial yang tinggi.
“Aku sudah bilang kepada mereka, bahwa kado-kado ini bebas aku apain aja, dan sekarang aku mau lelang,” ujar si cowok sebelum meninggalkan ruang OSIS. “Kalo dilelang, kita bisa dapat harga lebih tinggi, selain itu uang yang masuk bisa lebih mudah dimanfaatkan daripada kado-kado yang masih berupa barang. Misalnya ada yang ngasih kado jam tangan, nah buat apa jam tangan itu, mau ditaroh di dinding ruang OSIS?” Katanya sambil nyengir.
Aku manggut-manggut. Betul juga. Soalnya aku nggak gitu tahu isi kado-kado itu, sih. Makanya tadi kan aku ngasih saran supaya diperiksa dulu isinya. Ternyata dia berniat untuk melelang semuanya.
Akhirnya aku bersama pengurus OSIS sepakat bikin acara lelang. Semua anak sekolah diperbolehkan datang. Sehari sebelum lelang aku bikin pengumuman.
“Eh, lelang barang kado ultah? Apa maksudnya?” tanya Dina kaget.
Aku menceritakan kejadiannya, dan tentu saja Dina makin kaget. “Tapi… nama pengirim kadonya disebutin nggak?” ujarnya sedikit ketakutan.
“Ya, enggak tau juga, ya, soalnya dia sendiri yang mau ngelelang barang-barang itu…” ujarku.
Dina manggut-manggut.
Pada kenyataanya, si cowok menyebutkan semua barang-barang yang dilelang berikut nama si pemberi barang, karena dia hapal betul nama-nama si pemberi hadiah itu. Misalnya saja ketika ia mengangkat sebuah diary mungil, dia langsung bilang terima kasih pada Anti, yang sudah memberikan buku itu, tapi bukannya bermaksud merendahkan pemberian itu, tapi justru dengan melelangnya, diary ini jadi lebih berarti, “Ya, saya tawarkan diary ini dengan harga awal dua puluh ribu rupiah!” teriaknya lantang.
Maka serentaklah orang-orang (kebanyakan cewek-cewek) mengangkat tangan, yang memberi harga variatif, mulai dua puluh lima ribu, lalu tiga puluh ribu, lalu lima puluh ribu, sampai ada seseorang yang berani membelinya dengan harga, “Seratus ribu!”
“Ada lagi?” pancing si cowok.
Tidak ada lagi yang menunjuk tangan kecuali Anti. Lalu Anti maju ke depan dan menyerahkan uang seratus ribu pada si cowok, dan mengambil diary mungil itu. Dia mendekati si cowok dan meminta tanda tangan pada diary tersebut. Lalu memeluk diary itu dengan hangat.
Aneh, aku betul-betul geleng-geleng kepala. Bukunya sendiri yang dijadikan kado lalu dibelinya lagi dengan harga tinggi. Hi hi hi.
“Selanjutnya ada jam tangan, ini pemberian dari persahabatan saya Dina… saya lelang dengan memulai penawaran… dua ratus ribu…”
Kejadian selanjutnya mirip dengan yang pertama tadi, meskipun banyak orang yang berebut angkat tangan dengan aneka penawaran harga, tapi ujung-ujungnya justru si pemilik barang itulah yang memberi penawaran harga tertinggi. Sudah bisa dipastikan Dina mengambil jam tangan itu dengan perasaan senang.
Setelah itu si cowok menyebutkan barang pemberian Rina, Tina, Mirna dan yang lainnya. Ya, semua barang akhirnya terjual lebih mahal dari harga aslinya. Perkiraan si cowok tepat, uang lebih banyak terkumpul dan lebih mudah digunakan untuk pengembangan kegiatan OSIS serta berbagai macam kegiatan lainnya.
“Terima kasih ya, “ ucapku pada si cowok itu. Si cowok tersenyum setelah meyerahkan sejumlah uang.
Sementara kulihat keempat cewek kompak itu di pojokan sedang menimang barang-barangnya masing-masing.
“Kamu ternyata ngasih kado ya ke cowok itu?” ujar Mirna ke Dina.
“Kamu juga,” sergah Dina.
“Ssst, sudahlah, kamu juga ikutan ngasih kado, kan?” ujar Tina.
“Iya, berarti kita udah nggak kompak lagi. Diam-diam kita masih memperhatikan dia, memberikan kado, untung kadonya dilelang, jadinya ketahuan, coba kalo nggak dilelang, pasti diam-diam kita masih naksir terus ke dia,” beber Rina.
“Jadi gimana, dong?” tanya Dina
“Kita udah nggak jujur lagi. Percuma aja kompak-kompakan selama ini,” imbuh Rina.
Selanjutnya mereka berempat meninggalkan pojokan itu dengan langkah-langkah gontai. Hmm, apa yang akan terjadi dengan mereka? Apakah mereka akan bubaran setelah kejadian ini? Bercerai-berai untuk meneruskan persaingan mendapatkan perhatian si cowok cakep itu? Hmm, entahlah, yang jelas keempat cewek kompak itu terus saja melangkah.

***

Keesokan harinya, aku melihat keempat cewek itu tampil bersama dan nampak lebih heboh, mereka bergaya bak model-model majalah yang mau fashion show, bahkan sebelum sampai ke sekolah, keempat kembar siam itu, katanya mampir ke salon dulu untuk touch up! Wah, wah…
Di kantin, ketika hendak jajan, aku sempat berpapasan dengan Dina, dia bilang katanya genk-nya mau bersaing secara sehat dan alamiah, “pokoknya setiap hari tampil kinclong, ‘ntar siapa yang dipilih ama si cowok cakep, itulah yang beruntung,” terangnya. “Yyyuuukkk …!“
Aku cuma bisa melongo.

Sumber : Aneka Yess Online

serpen cinta dan persahabatan

Acara televisi sore ini tak satupun membuat aku tertarik. Kalau sudah begini aku bingung entah apa yang harus aku lakukan. Tio bersama Sany kekasihnya, sahabatku Ricky entah kemana? Mall, bioskop ataupun perpustakaan, bukan tempat yang aku suka, apalagi mesti pergi sendirian.

mmm…Pantai.

Ya pantai. kayaknya hanya pantailah, tempat yang mampu membuat aku merasa damai dan tak aneh jika aku pergi sendirian.

Kuambil jaket, lalu kusamber kunci dan pergi menuju garasi. Kukendarai mobil mama yang nganggur di sana. Papa dan mama lagi keluar kota, jadi aku bisa keluar dan mengendari mobilnya dengan leluasa.

Terik panas masih menyengat, walaupun waktu sudah menjelang sore. Namun tak membuat manusia-manusia di Ibukota berhenti beraktivitas meskipun di bawah terik matahari yang mampu membakar kulit. Jalan-jalan macet seperti biasanya. Dipenuhi mobil dari merek ternama ataupun yang sudah tak layak dikendarai.

Lalu di depan kulihat pemandangan lain lagi. Pedagang kaki lima duduk lesu menunggu pelangannya.
Krisis yang melanda membuat banyak orang hati-hati melakukan pengeluaran, bahkan untuk membeli jajan pasar.Walaupun tak seorang yang menghampirinya, namun dia tetap semangat menyapa orang-orang yang lewat dan akhirnya ada juga satu pembeli yang menuju arahnya.

Sekilas kulihat orang itu kok mirip sekali dengan Ricky. Kugosok-gosok mataku, menyakinkan pandanganku. Kutepikan mobilku, lalu aku berhenti di tepi jalan itu. Dengan setengah berlari, aku mengejar sosok itu.

Ah…kendaraan sore ini banyak sekali, sehingga membuat aku kesulitan untuk menyeberang jalan ini. Tapi akhirnya terkejar juga, dengan nafas tersengal-sengal, kujamah bahunya.

“Ky!” seruku tiba-tiba, sehingga membuatnya terkejut.

“Anda siapa?” tanya Ricky pura-pura tak mengenalku.

“Ky. Sekalipun kamu jadi gembel , aku akan tetap menggenalmu.” jelasku mendenggus kesal.

“Sudahlah, Sophia, jangan membuat aku terluka lagi.” tukasnya begitu sinis seraya beranjak pergi.

“Ky…Ky…knapa kamu tak pernah mau mendengarkan penjelasanku!” teriakku sekeras-kerasnya. Namun bayangan Ricky semakin menjauh dan akhirnya tak kelihatan.

***

Ricky, Tio dan aku adalah sahabat karib dari kecil. Setelah tumbuh besar, aku tetap mengganggap Ricky adalah sahabat terbaikku, tapi Ricky punya rasa berbeda dari persahabatan kami. Yang aku cintai adalah Tio. Ini yang membuat Ricky menjauhiku. Tapi yang Tio cintai bukan aku, tapi Sany, teman sekelasnya.

Cinta, sulit di tebak kapan dan di mana berlabuh!

Banyak orang tak bisa terima, jika cintanya ditolak, tapi bukankah cinta tak mungkin dipaksa?

Tak mendapatkan cinta Tio, tak membuatku menjauh darinya, tapi aku akan tetap menjadi sahabat baiknya. Walaupun ada sedikit rasa tidak puas, kadang rasa cemburu menganggu hati kecilku, saat kutahu untuk pertama kali, orang yang Tio cintai adalah orang lain.

Aku harus bisa menerima keputusannya , walaupun terasa berat . Bukankah, kebahagian kita adalah melihat orang yang kita cintai hidup berbahagia, baik bersama kita atau tidak?

Tapi tidak dengan Ricky, dia lebih memilih, meninggalkanku, mengakhiri persahabatan manis kami. Pergi dan aku tak pernah tahu kabarnya. Tapi apapun yang terjadi, aku akan selalu berharap suatu saat kami akan dipertemukan lagi.

Karena bagiku, cinta dan persahabatan adalah dua ikatan yang sama. Ikatan yang tak satupun membuat aku bisa memilih satu diantaranya.

***

Sudah seminggu, setiap hari, aku datang kepersimpangan ini. Berharap bisa melihat sosok Ricky lewat disekitar sini lagi. Tapi, Ricky hilang bagai ditelan bumi. Aku hampir putus asa.

Aku sudah capek menunggu, akhirnya aku bangun dan ingin beranjak pergi. Knapa tiba-tiba, indera keenamku, memberiku insting, kalau Ricky ada di sekitarku.

Kubalikan kepala, kulihat sosok Ricky setengah berlari menyeberang jalan di belakang posisiku. Aku berlari menggejar sosok itu. Kuikuti dia dari belakang. Aku pingin tahu dimana dia berada sekarang.

Akhirnya kulihat Ricky, masuk ke sebuah gang kecil, kuikuti terus , sampai akhirnya dia masuk ke sebuah rumah yang sangat sederhana.

“Knapa Ricky lebih memilih hidup disini, daripada di rumah megah orangtuanya?”

”Knapa dia, tinggalkan kehidupannya, yang didambakan banyak orang?”

”Knapa semua ini dia lakukan?”

“Knapa?”

Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku.

Setelah dia masuk kurang lebih 10 menit, aku masih berdiri terpaku dalam lamunanku, dengan pertanyaan-pertanyan yang jawabanya ada pada Ricky. Aku dikejutkan suara seekor anak anjing jalanan, yang tiba-tiba menggonggong.

Aku memberanikan diri memencet bel di depan rumahnya itu.

“Siapa?” terdengar suara dari balik pintu.

Aku diam, tak memberi jawaban. Setelah beberapa saat aku lihat Ricky pelan-pelan membuka pintu. Nampak keterkejutannya saat melihatku, berada di depannya.

“Ky…boleh aku masuk?” tanyaku hati-hati.

“Maukah kamu memberikan sahabatmu ini, segelas air putih.” ujarku lagi.

Tanpa bicara, Ricky mengisyaratkan tangannya mempersilahkan aku masuk. Aku masuk keruangan tamu. Aku terpana, kulihat rumah yang tertata rapi. Rumah kecil dan sederhana ini ditatanya begitu rapi, begitu nyaman. Kulihat serangkai bunga matahari plastik terpajang di sudut ruangan itu.

“Ricky, kamu tak pernah lupa, aku adalah penggagum bunga -bunga matahari.” gumanku.

Dan sebuah akuarium yang di penuhi ikan berwarna-warni, rumput-rumput dari plastik dan karang-karang di dalamnya. Ricky tahu betul aku penggagum keindahan pantai dan laut. Walaupun hal-hal ini dulunya, setahuku, kamu tak menyukainya. Kulihat juga banyak foto persahabatan kami yang di bingkainya dalam bingkai kayu yang sangat indah, terpajang di dinding ruang tamu ini.

Bulir-bulir air mataku, perlahan-lahan mulai tak mampu aku bendung. Aku benar-benar terharu dengan semua yang Ricky lakukan. Begitu besar cinta Ricky buatku. Kupeluk dia, yang aku sendiri tak tahu, apakah pelukan ini adalah pelukkan seorang sahabat ataupun sudah berubah menjadi pelukan yang berbeda?

Ricky kaget, namun akhirnya dia membalas pelukanku, dan memelukku lebih erat lagi , seakan-akan ingin menumpahkan segala rindu yang sudah hampir tak terbendung dalam hatinya.

Kami menghabiskan sore ini dengan berbagi cerita, pengalaman kami masing-masing selama perpisahan yang hampir 2 tahun lamanya dan akhirnya Ricky mengajakku makan, ke sebuah restoran kecil yang sering dikunjunginya seorang diri, di dekat rumahnya. Terdengar alunan tembang-tembang romatis , suasana hening, membuat kami terbuai dalam hangatnya suasana malam itu.

***

Sekarang Ricky sudah tahu, Tio sudah bersama Sany. Kami sekarang menjadi 4 sekawan. Sany juga telah menjadi anggota genk kami.

Ternyata setelah aku mengenalnya lebih lama, Sany adalah sosok yang sangat baik hati, menyenangkan, ramah dan peduli dengan sahabat. Ah…menyesal aku tak mengenalinya lebih dalam sejak dulu.

“Ky , biarlah semua berjalan apa adanya, mungkin cinta akan pelan-pelan muncul dari hatiku.” ujarku suatu hari, saat Ricky mengungkit masalah ini lagi.

“Oke, aku akan selalu menunggumu. Sampai kapapun. Karena tak akan ada seorangpun yang mampu membuatku jatuh cinta . Hanya kamu yang mampu membuat aku damai, tenang dan bahagia.” jelasnya panjang lebar

Sekarang aku memiliki tiga orang sahabat baik. Tak akan ada lagi hari-hariku yang kulalui dengan kesendirian, kesepian dan kerinduan.

Hampir setiap akhir pekan, kami menghabiskan waktu bersama, ke pantai, ke puncak ataupun hanya sekedar berkaroke di rumah sederhana Ricky. Hidup dengan tali persahabatan yang hangat, membuat hidup semakin berarti dan lebih bahagia.

***

Waktu berjalan begitu cepat. Tiga tahun sudah berlalu. Kebaikan-kebaikan Ricky mampu membuat aku merasa butuh dan suka akan keberadaannya di sampingku. Rasa itu pelan-pelan tumbuh tanpa kusadari dalam hatiku.

Aku jatuh hati padanya setelah melalui banyak peristiwa. Cinta datang, dalam dan dengan kebersamaan.

Apalagi dengan sikap dan perbuatan yang ditunjukannya. Membuat aku merasa, tak akan ada cinta laki-laki lain yang sedalam cinta Riky.

Sekarang Ricky bukan hanya kekasih yang paling aku cintai tapi juga seorang sahabat sejati dalam hidupku.

cerpen cinta, indahnya persahabatan

"Vit, kamu jadi nggak ikut les basket,"ujarku."Jadi dong! kalau kamu Tar?" tambah Vita."Jadi dong,"jawabku. Sehabis kita berbicara akhirnya aku mengeluarkan bola basketku dari gudang rumah dan mengajak Vita main basket di lapangan basket. Vitapun langsung lari ke lapangan basket, begitu juga aku. Vita pun langsung merebut bola basket dari aku, dan memulai main basket. Di saat pertama aku selalu menang, tapi semakin lama nilai kita seri. Vita dan aku biasanya bermain basket tanpa lelah dan tanpa berhenti juga lama. Sampai - sampai sore datang dan kita harus pulang ke rumah masing - masing. Ibu langsung memerintahkan aku untuk makan sore.

Keesokan harinya, aku dan Vita berangkat naik sepeda sama - sama."Eh, Vit tahu nggak"ujar ku dipotong Vita,"Tahu apa????"."Makanya diam dulu"jawabku."Ternyata besok libur"ujarku lagi."Yeeeee"kata Vita senang. Sampai di sekolah mereka bertemu sahabat - sahabatnya, yaitu Keyla, Jos dan Robert. Sambil sama - sama ke kelas mereka berbicara tentang les basket. Ternyata Jos dan Keyla tidak ikut soalnya mereka harus mendapatkan les tambahan dari sekolah setiap hari. Dikelas mereka sering berbicara tentang les basket, mereka memang bandel. Tapi kami itu tetap pintar walaupun suka bandel(hehehe).
Kring,kring,kring, bel berbunyi. Waktunya pulang. Aku dan Vita lansung bersama - sama kerumah untuk mengerjakan tugas bersama - sama. Kami harus membuat dalam waktu 1 minggu proyek tentang olahraga yang kami senangi. Kami memilih olahraga basket pastinya. Kami memakai alat komputer, printer dan scanner. Dan kami membutuhkan kertas, kertas asturo dan gunting. Kami membuat dengan santai. Kami juga harus menerangkan proyek kita didepan kelas. Setelah hampir selesai kami memutuskan untuk main basket karena di luar cerah dan berawan. Aku mengambil bola basketku dan langsung keluar.
Akhirnya minggu depan datang kami harus menerangkan proyek kami kami mendapatkan giliran nomor 4. Pada saat bagianku aku sangat merasa takut dan hampir menangis karena terlalu malu. Vita menghampiriku dia menghiburku agar aku semangat. Tapi aku pun harus tampil. Karena dihibur Vita hatiku langsung merasa tiidak malu lagi. Akhirnya kami tampil dengan baik dan mendapatkan nilai yang sempurna. Sekarang aku tahu betapa "Indahnya Persahabatan". Sekarang aku selalu tidak malu karena sahabat - sahabatku selalu siap membantu.

cerpen persahabatan

pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini

by joe

cerpen cinta semarga

tiba2 tanganku menyentuh tanganya. tanpa sadar aku mengengamnya erat2.



dia gemetaran, dengan pelan dia berbalik ke arahku. air mata menbasahi pipinya.



" kamu menangis, kanapa?"



aku melepaskan tanganya."aku pengen mati" dia menarik tanganku dan meletakkanya di bahunya, " kamu mau bersumpah demi tuhan kalau kamu tak mencintaiku". aku gemetaran tanpa terasa air mata mengalir di pipi." kita satu marga" dia melepas tanganku " pertanyaanku bukan itu"



aku memeluknya dengan erat " aku tak akan bisa hidup tanpamu, aku sayang engah mati sama kamu, aku ingin memilikimu"



lama dekapan itu tak terlepaskan , ait mata menalir di sela2 kesunyian.



gerimis mulai turun, tiba2 dia berlutut dan dia mengajal aku untuk berlutut, tanganku di pengang erat2,dia memandang ke atas dengan air mata yang terus mengalir. tanganku di pegang semakin erat." tuhan jika memang cinta ini adalah haram maka ijinkanlah petirmu menyabar kami, samba...r kami...."



nantungku seakan pecah,,, nadiku terhenti. lupandang wajahnya. dan satu hal petir tiada menyambar.



"tuhan mengijinkan kita untuk bersatu,,"katanya pelan







tiba2 suara gertakan terdengar.aku terkejut kala melihat ayahnya berdiri di depan kami" dasar durhaka,,,anak kurang ajar..pulang cepat" dengan cepat dia menghajarku,,, suara erualan mengiringgi pukulan yang menghantam dadaku.aku di tarik ke lokasih perumahan, kemudian kami berdua di ikat di sebuah pohom jambu dr depan rumah sang kepala desa.



semua warga berkumpul dan bergantian meludahi wajah kami.



kutukan demi kutukan terarah ketelinga kami. ,malam itu kami di ikat sampai pagi di tengah derasnnya hujan. aku melihat dia tersenyum sebelum aku tertidur lelap dalam psungn itu.



sekitar jam 3 pagi ada seseorang yang datang menghampiti, mamaku,pelan2 dia membuka ikatanku " pergi dan bawalah ia jauh dari sini".



kami berlari mengarungi hujan lebat, berjalan di hutan yang sunyi.



3 hari perjalanan kami sampai dis ebuah desa kecil di seberang gunung.aku mengendong dia yang telah lemah. " bertahanlah kita sudah smpai"



hari itu aku sedikit lega. sebuah keluarga menerima kami. namun itu bukanlah akhir dari semua derita.



satu bulan kemudian aku mendengat kabat kalau ibuku di pncung di desa.



aku terkaget dan satu minggu setelah itu beberapa penduduk desa datang ke desa kam. meyadari itu aku membawanya kabur menjauh dari bahaya namun sayang sebelum jauh sebuah anak panah telah menembus bahu kekasihku. aku berlari mencoba mengendongnyam namun rasanya aku tak kuat lagi.



darah mengalir deras membasahi punggungku " bertahanlah sayang"



"tinggalkan aku pergilah jauh,,," dia berucap pelan." tidak aku tak akan meningalkanmu". di sebuah jembatan aku terhenti, kuliha penduduk desa sudah mendekat. aku kehabisan tenaga. kupandang pelan aus sungai yang deras, mataku mencucutkan air mata, kupandang keatas" tuhan engkau mengijinkan cinta ini, jagalah aku dan kekasih hatiku."



dangan doa itulah aku meloncat kedalam sungai.



sebelum sampai kesungai aku sempat mendengr kutukan2 itu lagi.



dalam derasnya air sungai aku tetap memegang tanganya. kuliha matanya terbuka. dan darah mengalir menberi warna pada air sungai itu.



ku peluk dia erat erat, didalam air terinat jelas ketika aku menciumnya. terasa indah.



kami terhanyut begitu lama hingga disuatu tempat kami tersangku dan bisa menyingkir ke pingiran sungai.



kutaril dia ke pingiran, kucoba menarik panah namun dia merintih kesakitan.



kulihat matanya terbua mulutnya berucap pelan" nikahi aku sekarang"



aku berteriak keras kueluk dia dan kumenciumnya. " dalam nama mu yang telah menciptakan cinta berkatmu mengalir tanpa pendeta, maka aku berucap berkat darimu menyetuhkan kami dakam percintaan, dan mulai sekarang kami adalah satu yang tudak akun terpisahkan kecuali oleh maut."



lupeluk dia sekali lagi ' aku tak kuat lag sayang,, terimakasih atas cintamu..



pelan2 matanya tertutup distulah untuk terakhirkalinya aku mendengar suaranya. dia pergi untuk selamanya.

Sayang aku datang dan duduk menemanimu si sini. Akan kucoba menghiburmu dengan lagu2 merdu tentang cinta. Akan kucoba meniuplan nafas kerinduaan lewat lantunan irama lagu.


lihatlah aku sayang aku kini terduduk tak berdaya, mulutku penuh dengan kata2 cinta yang tertunda, namun sampai sekarang aku bekum menemukan penganti mu, dan aku tahu aku tidak akan perna bisa mengantikamu.


sayang semalam aku baru dari sekolah kita, sekolah kita waktu sma dulu. Banyak hal telah berubah bungga2 indah yang dulu kau tanamin di taman kelas kita kita telah layu. Namun kupu2 yang dulu berterbangan masih tetap ada di sana meskipun tiada lagi bunga. Sayang aku masih ingat ketika kau dilempar kapur oleh guru karna lau ngantuk. Saat itu aku tertawa terbahal. Katna pada saat itu aku benci padamu karna perasaan cinta yang tak mungkin kuungkapkan. Pertama kali aku merasa bahwa kau juga sayang padaku, itu ketika diadakanya lomba dangsa antar kelas di sekolah kita, dan aku senang bangat bisa berpasangan denganmu. Aku merasakan tanganmu gemetaran memegang bahuku. Irama lagu yang sangat indah sungguh sampai sekarang gerakan dance yang kita pelajari selama dua bulan masih tersusun rapi di kepalaku. Sesekali kalau aku merindukanmu maka aku akan berdansa sendirian sambil membayangkanmu.


sayang aku juga masih ingat ketika kita pernah dihukum lomcat kodok keliling lapangan, waktu itu aku tahu kalau kau tida membawa baju praktekmu, sebenarya waktu itu aku bawah baju namun aku sembunyian biat kita dihukum sama2. Dan aku senang bangat menjadi seekor kodok bersamamu. Waktu itu kita hanya sebatas teman yang saling mencintai.


satu hal yang selalu aku rindukan saat-saat duduk berdua di depan sekolah setelah semua orang pada pulang. Kau tidak akan penah lupa dengan bontot kecilmu yang selalu kita habiskan berdua.


aku rahu beberapa orang yang perna melihat kita terlalu dekat curiga dengan kedekatan kita itu. Namun aku tidak peduki yang kupikirkan saat itu aku mencintamu, dan mungkin aku tidak akan pernah bisa memilikimu atau mengatakan cinta padamu. Meskipun aku mulai sadar kalau kau juga sayang padaku.


sayang kini semua itu tinggal kenangan, kenangan yang tak akan mungkin kembali lagi, saat2 tertawa, menangis, tersenyum dan terdiam semuanyan indah kla bersamamu. Satu hal yang selalu aku bawah dalam doalu kuharap engkau tenang bersama dia di alam sana. Salam bahagia sayang, aku akan tetap disini, duduk menemanimu, aku tidak akan meningalkanmu lagi, aku akan tertidur disini, dan aku berharapa kau tidak akan pernah terbangun lagi. Tapi sebentar sayang saya minum dulu...biar nanti aku tidak kehausan. Minuman bergambat tengkorank ini akan terasa manyenangkan, dan aku akan tenang hingga aku berjumpa denganmu. Selamat bertemu wahai kekasihku....

cerpen cinta, dalam perjamuan cinta

Penulis : Dr. Taufiq El-Hakim "Cinta."Ya. Cinta. Kata itu tiba-tiba terlontar dengan derasnya dari mulut si Gadis bagiakan peluru yang muntah dari selongsong senapan. Sangat cepat, meyakinkan, dan langsung menembus jantung sasaran. "Cinta?" kata ketiga lelaki itu serempak, persis seperti ucapan aamiin yang keluar dari mulut orang-orang yang sedang shalat berjamaah. "Ketahuilah, cinta sangat penting bagi kalian semua. Cinta sangat penting bagi seorang wartawan. Anda, hai Wartawan, apa anda akan membantah bahwa berita paling menghebohkan di abad keduapuluh adalah cinta Raja Inggris kepada Lady Simpson, cinta yang membuatnya harus turun dari singgasana kerajaannya? Anda, wahai Penyair, apa Anda hendak membantah bahwa cintalah yang menyebabkan terjadinya Perang Troya dan memberi inspirasi Homerus untuk membuat syair perang yang selalu dikenang sepanjang zaman? Anda, wahai Musisi, apa Anda hendak membantah kenyataan bahwa sejak ditemukannya seruling dan biola, maka keduanya tak pernah berhenti menyenandungkan lagu cinta?"kata si Gadis. "Ya.Kau benar!" Si Gadis terdiam sejenak, diam kemenangan. Sementara ketiga lelaki di depannya hanya bisa terpaku. Namun tidak lama kemudian, ketiga lelaki itu serempak bertanya, "Dan bagaimana dengan kamu?" "Aku!?" kata si Gadis gugup dan bingung. Apakah mereka sudah gila? Seorang perempuan seperti dirinya yang sudah mengerti tentang cinta masih perlu ditanya lagi tentang kepentingannya terhadap cinta? Sesaat si Gadis menenangkan diri kemudian berkata, "Cinta? Aku tidak tahu apa arti cinta? Hai Wartawan, dan kau, wahai Penyair dan Musisi, coba katakan padaku tentang arti cinta? Siapa yang bisa memberikan jawaban yang tepat untukku, dialah yang bisa menjadi kekasihku!" Si Gadis menundukkan kepalanya untuk bersiap mendengar pendapat mereka tentang arti cinta. Sementara ketiga lelaki itu berebut untuk berpendapat terlebih dulu, demi meraih anugerah terbesar; menjadi kekasih idaman hati si Gadis.