cerpen cinta semarga

tiba2 tanganku menyentuh tanganya. tanpa sadar aku mengengamnya erat2.



dia gemetaran, dengan pelan dia berbalik ke arahku. air mata menbasahi pipinya.



" kamu menangis, kanapa?"



aku melepaskan tanganya."aku pengen mati" dia menarik tanganku dan meletakkanya di bahunya, " kamu mau bersumpah demi tuhan kalau kamu tak mencintaiku". aku gemetaran tanpa terasa air mata mengalir di pipi." kita satu marga" dia melepas tanganku " pertanyaanku bukan itu"



aku memeluknya dengan erat " aku tak akan bisa hidup tanpamu, aku sayang engah mati sama kamu, aku ingin memilikimu"



lama dekapan itu tak terlepaskan , ait mata menalir di sela2 kesunyian.



gerimis mulai turun, tiba2 dia berlutut dan dia mengajal aku untuk berlutut, tanganku di pengang erat2,dia memandang ke atas dengan air mata yang terus mengalir. tanganku di pegang semakin erat." tuhan jika memang cinta ini adalah haram maka ijinkanlah petirmu menyabar kami, samba...r kami...."



nantungku seakan pecah,,, nadiku terhenti. lupandang wajahnya. dan satu hal petir tiada menyambar.



"tuhan mengijinkan kita untuk bersatu,,"katanya pelan







tiba2 suara gertakan terdengar.aku terkejut kala melihat ayahnya berdiri di depan kami" dasar durhaka,,,anak kurang ajar..pulang cepat" dengan cepat dia menghajarku,,, suara erualan mengiringgi pukulan yang menghantam dadaku.aku di tarik ke lokasih perumahan, kemudian kami berdua di ikat di sebuah pohom jambu dr depan rumah sang kepala desa.



semua warga berkumpul dan bergantian meludahi wajah kami.



kutukan demi kutukan terarah ketelinga kami. ,malam itu kami di ikat sampai pagi di tengah derasnnya hujan. aku melihat dia tersenyum sebelum aku tertidur lelap dalam psungn itu.



sekitar jam 3 pagi ada seseorang yang datang menghampiti, mamaku,pelan2 dia membuka ikatanku " pergi dan bawalah ia jauh dari sini".



kami berlari mengarungi hujan lebat, berjalan di hutan yang sunyi.



3 hari perjalanan kami sampai dis ebuah desa kecil di seberang gunung.aku mengendong dia yang telah lemah. " bertahanlah kita sudah smpai"



hari itu aku sedikit lega. sebuah keluarga menerima kami. namun itu bukanlah akhir dari semua derita.



satu bulan kemudian aku mendengat kabat kalau ibuku di pncung di desa.



aku terkaget dan satu minggu setelah itu beberapa penduduk desa datang ke desa kam. meyadari itu aku membawanya kabur menjauh dari bahaya namun sayang sebelum jauh sebuah anak panah telah menembus bahu kekasihku. aku berlari mencoba mengendongnyam namun rasanya aku tak kuat lagi.



darah mengalir deras membasahi punggungku " bertahanlah sayang"



"tinggalkan aku pergilah jauh,,," dia berucap pelan." tidak aku tak akan meningalkanmu". di sebuah jembatan aku terhenti, kuliha penduduk desa sudah mendekat. aku kehabisan tenaga. kupandang pelan aus sungai yang deras, mataku mencucutkan air mata, kupandang keatas" tuhan engkau mengijinkan cinta ini, jagalah aku dan kekasih hatiku."



dangan doa itulah aku meloncat kedalam sungai.



sebelum sampai kesungai aku sempat mendengr kutukan2 itu lagi.



dalam derasnya air sungai aku tetap memegang tanganya. kuliha matanya terbuka. dan darah mengalir menberi warna pada air sungai itu.



ku peluk dia erat erat, didalam air terinat jelas ketika aku menciumnya. terasa indah.



kami terhanyut begitu lama hingga disuatu tempat kami tersangku dan bisa menyingkir ke pingiran sungai.



kutaril dia ke pingiran, kucoba menarik panah namun dia merintih kesakitan.



kulihat matanya terbua mulutnya berucap pelan" nikahi aku sekarang"



aku berteriak keras kueluk dia dan kumenciumnya. " dalam nama mu yang telah menciptakan cinta berkatmu mengalir tanpa pendeta, maka aku berucap berkat darimu menyetuhkan kami dakam percintaan, dan mulai sekarang kami adalah satu yang tudak akun terpisahkan kecuali oleh maut."



lupeluk dia sekali lagi ' aku tak kuat lag sayang,, terimakasih atas cintamu..



pelan2 matanya tertutup distulah untuk terakhirkalinya aku mendengar suaranya. dia pergi untuk selamanya.

Sayang aku datang dan duduk menemanimu si sini. Akan kucoba menghiburmu dengan lagu2 merdu tentang cinta. Akan kucoba meniuplan nafas kerinduaan lewat lantunan irama lagu.


lihatlah aku sayang aku kini terduduk tak berdaya, mulutku penuh dengan kata2 cinta yang tertunda, namun sampai sekarang aku bekum menemukan penganti mu, dan aku tahu aku tidak akan perna bisa mengantikamu.


sayang semalam aku baru dari sekolah kita, sekolah kita waktu sma dulu. Banyak hal telah berubah bungga2 indah yang dulu kau tanamin di taman kelas kita kita telah layu. Namun kupu2 yang dulu berterbangan masih tetap ada di sana meskipun tiada lagi bunga. Sayang aku masih ingat ketika kau dilempar kapur oleh guru karna lau ngantuk. Saat itu aku tertawa terbahal. Katna pada saat itu aku benci padamu karna perasaan cinta yang tak mungkin kuungkapkan. Pertama kali aku merasa bahwa kau juga sayang padaku, itu ketika diadakanya lomba dangsa antar kelas di sekolah kita, dan aku senang bangat bisa berpasangan denganmu. Aku merasakan tanganmu gemetaran memegang bahuku. Irama lagu yang sangat indah sungguh sampai sekarang gerakan dance yang kita pelajari selama dua bulan masih tersusun rapi di kepalaku. Sesekali kalau aku merindukanmu maka aku akan berdansa sendirian sambil membayangkanmu.


sayang aku juga masih ingat ketika kita pernah dihukum lomcat kodok keliling lapangan, waktu itu aku tahu kalau kau tida membawa baju praktekmu, sebenarya waktu itu aku bawah baju namun aku sembunyian biat kita dihukum sama2. Dan aku senang bangat menjadi seekor kodok bersamamu. Waktu itu kita hanya sebatas teman yang saling mencintai.


satu hal yang selalu aku rindukan saat-saat duduk berdua di depan sekolah setelah semua orang pada pulang. Kau tidak akan penah lupa dengan bontot kecilmu yang selalu kita habiskan berdua.


aku rahu beberapa orang yang perna melihat kita terlalu dekat curiga dengan kedekatan kita itu. Namun aku tidak peduki yang kupikirkan saat itu aku mencintamu, dan mungkin aku tidak akan pernah bisa memilikimu atau mengatakan cinta padamu. Meskipun aku mulai sadar kalau kau juga sayang padaku.


sayang kini semua itu tinggal kenangan, kenangan yang tak akan mungkin kembali lagi, saat2 tertawa, menangis, tersenyum dan terdiam semuanyan indah kla bersamamu. Satu hal yang selalu aku bawah dalam doalu kuharap engkau tenang bersama dia di alam sana. Salam bahagia sayang, aku akan tetap disini, duduk menemanimu, aku tidak akan meningalkanmu lagi, aku akan tertidur disini, dan aku berharapa kau tidak akan pernah terbangun lagi. Tapi sebentar sayang saya minum dulu...biar nanti aku tidak kehausan. Minuman bergambat tengkorank ini akan terasa manyenangkan, dan aku akan tenang hingga aku berjumpa denganmu. Selamat bertemu wahai kekasihku....

cerpen cinta, dalam perjamuan cinta

Penulis : Dr. Taufiq El-Hakim "Cinta."Ya. Cinta. Kata itu tiba-tiba terlontar dengan derasnya dari mulut si Gadis bagiakan peluru yang muntah dari selongsong senapan. Sangat cepat, meyakinkan, dan langsung menembus jantung sasaran. "Cinta?" kata ketiga lelaki itu serempak, persis seperti ucapan aamiin yang keluar dari mulut orang-orang yang sedang shalat berjamaah. "Ketahuilah, cinta sangat penting bagi kalian semua. Cinta sangat penting bagi seorang wartawan. Anda, hai Wartawan, apa anda akan membantah bahwa berita paling menghebohkan di abad keduapuluh adalah cinta Raja Inggris kepada Lady Simpson, cinta yang membuatnya harus turun dari singgasana kerajaannya? Anda, wahai Penyair, apa Anda hendak membantah bahwa cintalah yang menyebabkan terjadinya Perang Troya dan memberi inspirasi Homerus untuk membuat syair perang yang selalu dikenang sepanjang zaman? Anda, wahai Musisi, apa Anda hendak membantah kenyataan bahwa sejak ditemukannya seruling dan biola, maka keduanya tak pernah berhenti menyenandungkan lagu cinta?"kata si Gadis. "Ya.Kau benar!" Si Gadis terdiam sejenak, diam kemenangan. Sementara ketiga lelaki di depannya hanya bisa terpaku. Namun tidak lama kemudian, ketiga lelaki itu serempak bertanya, "Dan bagaimana dengan kamu?" "Aku!?" kata si Gadis gugup dan bingung. Apakah mereka sudah gila? Seorang perempuan seperti dirinya yang sudah mengerti tentang cinta masih perlu ditanya lagi tentang kepentingannya terhadap cinta? Sesaat si Gadis menenangkan diri kemudian berkata, "Cinta? Aku tidak tahu apa arti cinta? Hai Wartawan, dan kau, wahai Penyair dan Musisi, coba katakan padaku tentang arti cinta? Siapa yang bisa memberikan jawaban yang tepat untukku, dialah yang bisa menjadi kekasihku!" Si Gadis menundukkan kepalanya untuk bersiap mendengar pendapat mereka tentang arti cinta. Sementara ketiga lelaki itu berebut untuk berpendapat terlebih dulu, demi meraih anugerah terbesar; menjadi kekasih idaman hati si Gadis.

cerpen cinta cara aakhi menyatakan cinta

Saudara atau musuh, mungkin hanya itu pertanyaan besar yang ada di benakku sejak aku datang ke palembang, bahkan sampai saat ini, sama sekali tiada keindahan ukhuwah atau hangatnya rasa bersaudara,sama sekali tiada canda tawa seorang kakak terhadap adiknya, walau keinginan itu berat sekali menggebu, ah.. hanya tinggal impian, mungkin aku harus berkaca pada sebuah pepatah, bahwa cintailah ia sekedarnya saja karena bisa jadi yang engkau cintai akan menjadi orang yang paling di benci begitupun sebaliknya, bencilah ia sekedarnya saja, sebab bisa jadi orang yang selama ini kamu benci bisa jadi menjadi sesosok orang paling engkau sukai, itu adalah bukti nyata yang menimpa pada diriku.

***
sejak aku duduk di SMA dulu ada kerinduan yang mendalam sekali aku ingin melanjutkan kuliahku bersama saudaraku di palembang, panggil saja dia akhi namanya, aku sendiri namaku fariz, jadi bisa saja sih di gabung akhi fariz hehehehe. penantian demi penantian waktu SMA akhirnya akupun lulus dalam ujian negara, Hhhhhhhh.. rasanya hatiku sudah tenang, kini tingal aku melanjutkan planing baru dan mencari suasana baru, aku benar-benar bahagia saat orang tuaku menyetujiku untuk melanjtukan kuliah di palembang, dari lahir sampai SMA aku di jawa barat, kini saatnya aku merantau, pikirku….. aku membayangkan kuliah bersama akhi saudaraku, akhi adalah adiknya ibuku, jadi kami betul-betul saudara yang ada ikatan hati tentunya, sungguh aku rindu berukhuwah bersama dalam jalan dakwah, manisnya tolong menolong, indahnya diskusi dan canda tawa, toh.. sama saudara, enggak mungkinlah akhi tidak mengakui keberadanku di sana, justru akan merasa bahagia karena kedatangannku??? Tentunya.

***
kini aku sudah bada di pulau orang, orang jawa barat asli (sunda gituloh), aku pertama kali aku menginjak kaki dari bandara melangkahkan kaki ke daerah yang konon penuh dengan kekerasan, dan kekasaran, tapi aku tak peduli karena aku pikir bahwa hidupku kini untuk adaptasi toh, ada saudara ku juga yang mau menemaniku, siapa lagi kalau bukan akhi, rasanya aku ingin melepas rindu, memeluk erat saudaraku yang sudah lama tak berjumpa, kangeeeen.
tok.. tok… tok…. “Assalamu’alaikum” saat tepat berada di depan pintu, sungguh aku baru tau rumah itu, tapi orang tuaku sudah mengetahuinya sejak lama, hanya karena aku saja yang belum pernah kesini.
“wa’alaikum salam”
cklek… pintu terbuka
kami di sambut dengan penuh rasa kangen dan sayang oleh keluarga akhi, sungguh disinilah kami melepas kangen, ah.. awal yang indah pikirku, tapi… di manakah akhi, saudaraku yang selama ini aku harapkan pertemuannya, di manakah dia???
“mba’ di mana akhi? Tanyaku takk sabar
“ oh, lagi ke kampus registrasi ulang”
ooooh.. rupanya ke kampus toh, jam berapa datang?
“ah, sebentar lagi tunggu saja”
sambil menunggu saudaraku akhi, aku melepas lelah, bayangkan dari perjalanan jawa-sumatera, sungguh lelah, aku ingin sekali berkjumpa dengan beliau dan memang benar apa yang di katakan bibi ku, tak berapa lama akhi yang selama ini aku unggu muncul juga.
“asalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam”
rasanya aku ingiiin sekali memeluknya melepas kangen, tapi apa yang terjadi??? oh, my god, akhi hanya bersalaman dan ngeloyor ke dapur entah mau ngapain, iiiiiih, dingin banget, sama sekali seolah dia tak ada kerinduan terhadap saudaranya, di mana ukhuwah yang selama ini aku dambakan? Di mana kerinduan yang aku idamkan?? Di manaaa???? Sungguh aku kecewa berat melihat respon akhi terhadapku, aku jadi teringat novel alabasternya azzuradayana tentang kedatangan fandi yang di sambut dingin oleh clark, betul-betul mirip kasus iu dengan diriku, suerrrr.

***
kuranng dari sebulan di palembang, ke dua orang tuaku kembali ke jawa barat meninggalkanku bersama keluarga akhi di palembang, saat mengetahui cueknya akhi terhadap diriku, bayangkan saja, apaun yang ia lakukan akhi tak mau melibatkan diriku, misalnya mau jalan-jalan atau apalah boro-boro mengajakku memperkenalkan situasi keadaan palembang, sebagai anak baru ingin sekali mengetahui di mana tempat-tempat penting berada, tapi… lagi-lagi, akhi terlalu cuek, ia hanya ingin berjalan dengan dirinya sendri saja,dan jangankan makan bareng, tidurpun ia tak mau seranjang dengan ku, entah apa maksudnya? Apa aku ini najis dalam pandangannya? Atau itu salah satu acara supaya membuat aku tidak betah tinggal di palembang atau apalah yang jelas aku tak ingin lebih berpikir negatif lagi karena selama ini bukan hanya saja sebatas pikiran, tapi.. sebuah tindakan menjadi kenyataan kalau akhi cuek terhadap keberadaanku. bahkan saat teman-temannya datang kerumah tak pernah mengenalkan padaku, kecuali mereka sendiri yang nyerobot kenalan denganku (karena mereka ikhwan kaleeee), itu lah yang aku herankan, kok ada karakter ikhwan yang segitu cueknya, apa tarbiyahnya kurang beres?? Ah, masa bodoh, toh dia juga cuek terhadapku. rasanya aku langsung berontak tidak betah berada di kota ini, walau aku harus kuliah tapi aku harus betul-betul sendiri, mana mau sih… akhi bareng dengan aku, toh. Dia secuek itu,
karena keberadaan itulah… akhirnya aku tak bertahan lama serumah dengan akhi, aku putuskan ingin mencari kotsan dan . atas beberapa alasan dan pertimbangan yang cukup masuk akal sebenarnya di buat-buat, akhirnya aku memutuskan diri untuk tinggal di kotsan bersama teman ku di DK, ah… lebih baik alu begini dari pada capek hati memikirkan kecuekan ini terhadapku, sampai kapaaaan?? Aku tak kuat lagi kalau hidup serumah dalam kecuekan, emangnya gue ikhwan apaan, pikirku

***
sebulan, dua bulan, tiga bulan aku perhatikan sama seklai tak ada perubahan yang jelas pada diri akhi, sungguh menyebalkan. Lalu kemana hati nurani.?? Mungkin aku saja yang egois, tapi aku berusaha ingin ngobrol panjang lebar dengannya, tapi… tak kunjung tiba, capek deeeeeh.,….
Di kampus aku berusaha aktif di LDK, dan akhi pun sama di LDK bahkan sedepertemen dengan ku yaitu syi’ar, ah… sama sekali tak berjalan dengan mulus, syuro’ hanya sekedar syuro’ dan yang lainnya lagi-lagi cuek, bahkan saking cueknya, makan pun tidak pernah mau bareng, apakah aku najis?? Capek deeeeeeh…
Ternyata hidupku tanpa dia juga bisa berjalan, aku bisa beradaptasi dengan teman-teman ikhwahku di di kampus, keberadaan teman-teman di sisiku lumayan menghiburku, dan merek itulah (temen ngaji) yang membuatku betah di palembang.

***
tak terasa, aku di palembang sudah 2 tahun lamanya, selama itulah dia cuek terhadapku, boro-boro bermuta’ba’ah padaku tentang tilawah berapa juz atau qiyamulail berapa malam, sama sekali tak ada ungkapan itu, pokoknya masih seperti semula lah…. Saat ini, sekarang aku tak memikirkan masalah dengan akhi lagi, karena aku sedang di rundung maslah baru yang lebih besar, aku kehabisan uang, tabunganku habis sedangkan meminta lagi pada orang tua aku malu, ingin sekali aku membebaskan orang tua dari bebanku, makanya sedarurat apapun aku tak pernah menelepon kepada orang tua untuk mentransfer sejumlah uang, sungguh aku tak mau jadi beban dalam hidup orang tuaku, tapi.. entah harus ke mana aku mencari sejumlah uang untuku, sedangkan aku sendiri memerlukannya, di samping untuk uang keperluan kuliah, makalah atau yang lain termasuk uang makan sendiri, sungguh berat aku memikirkan hal ini, capek banget….
Setelah habis shalat zhuhur, aku duduk termenung memikirkan nasibku entah sampai kapan aku akan merasakan kemalangan nasib ini, sungguh aku bingung, paling satu-satunya cara adalah meminjam kepada sohib ku, tapi…. Inikhan tanggal tua, atau minjam ke akhi kali yah?? Ehem… no, no banget deeeeh…
Saat aku sedang khusyu bengong, tiba-tiba aku di kejutkan dengan sesosok yng selama ini aku benci, yang selama ini membuatku capek hati, siapa lagi kalau akhi, langkah akhi lahan tapi pasti menghampiriku, betulkah? Aku seakan tak percaya,
“assaalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam”
“katanya antum lagi habis duit yah”
“enggak ah, kata siapa?”
“sudahlah jangan bo’ong, nih kakak ada uang” “kata akhi sambil menyodorkan uang senilai 100 seratus ribu, dia mengepalkan pada tanganku yang terrtutup, sungguh aku tak percaya sabaik itukah pada diriku, beginikah cara akhi menyatakan cinta padaku, tidak harus memberikan pesona yang romantis, tidak harus ada kedekatan interaksi, tapi.. di mana ada kesusahan di sanalah ia berada, di mana ia di perlukan di situlah ia datang, oh.. beginikan sesosok akhi menyatakan cintanya pada sauadara????


ssssstt… kemarin baru saja melaksanakan ujian negara, aseliii murni dari siswa, sama sekali tidak ada bantuan deh dari sekolah, objektif banget pokoknya, karena aku sudah lama konsentrasi untuk sekolah, makannya aku tenang tenang saja menanti pengumuman kelulusan, aku yakin deh,… karena orang tua ku juga selalu mendoakan anak tercintanya,
akhirnya, saat-saat pengumuman pun tiba, ada kebahagiaan terpancar dari senyumku, saat pengumuman juara umum, aku mendapat penghargaan penuh oleh kepala sekolah sebagai juara terbaik dan lulus dengan nilai terbesar, sungguh kini aku merasakan kebahagiaan yang mendalam, aku berhasil membahagian orang tua, Dodi, Didi, meraih prestasi ke dua dan ke tiga , kebetulan mereka berdua adalah teman-teman rohisku juga, alhamdulilah kami luluuuus dengan memuaskan, sungguh di sini aku melihat tangis kebahagiaan dari orang tuaku, mereka memeluk erat mensyukuri prestrasi yang ku dapat, sungguh aku merasa menjadi orang yang paling beruntung, alhamdulilaah… sedangkan di sisi lain, ada muka kesedaihan yang mendalam, dion teman sebangkuku yang selalu sibuk dengan curhat romantisnya dengan pacara, kini berwajah murung, tentu bisa ketebak apa yang terjadi, lima orang sekelas kami tidak lulus , salah satunya adalah dion yang selalu sibuk beromantis ria, ya allah.. baru kali ini aku merasakan kebahagiaan hakiki, kebahagiaan yang terdalam atas kelulusan murni dari hasil keringat ku sendiri, orang tuaku sangat senang dengan ini… sungguh, kini aku baru faham, kenapa orang tuaku mendeportasikanku ke tempat angker itu???? Inilah SEBENARNYA CINTA orang tuaku pada diriku, thank you for all you trows,

cerpen, cinta di ujung jalan

Malam Senin yang basah.Hujan turun sejak pukul enam sore tadi. Derasnya tidak berkurang dan menimbulkan suara berisik di atap rumah. Angin malam yang masuk melalui kisi-kisi jendela menusuk tulang punggungku. Beberapa kali ketukan ujung ranting pohon di kaca jendela memberikan irama sela di tengah derasnya hujan.Lima belas menit jelang tengah malam. Sepertinya aku akan menjadi makhluk malam lagi, seperti dua tiga malam sebelumnya.Monitor komputer berkedap-kedip dengan cepat. Proposal Praktikum Pembuatan Kompos ini baru selesai separuh, belum masuk ke Tinjauan Pustaka padahal buku-buku referensi sudah siap dibuka. Tinggal mencari halaman sekian agar isinya bisa aku salin. Namun kesepuluh jari tanganku hanya mengambang di atas keyboard komputer.Aku duduk diam.Satu menit, dua menit… dua setengah menit berlalu tanpa sedikit pun memindahkan kursor komputer. Pendar-pendar sinar monitor yang memenuhi ruang mataku seakan-akan mengurungku supaya tetap tidak bergerak.Aku buntu. Miskin ide.
Tiba-tiba aku ingat dia. Hei, kenapa mesti dia? Bukankah aku sekarang sudah punya pacar, bahkan sudah siap menjadi calon suami? Seharusnya yang sekarang-lah yang aku ingat, bukan yang tertinggal.Sedang apa kamu di sana? Di sana, entah di mana. Tentu saja aku tidak tahu karena kamu menghilang sejak enam tahun lalu. Tanpa alamat, tanpa berita. Surat-surat yang sengaja aku tulis tak pernah dikirim untukmu. Menumpuk begitu saja di dalam kotak harta (begitu kita pernah menyebutnya) bersama foto-foto kita yang sudah mulai menguning.Semua karena aku masih ingin mengenangmu. Jangan salahkan aku. Tolong, jangan larang aku. Yang sesungguhnya aku rasakan tidak pernah kamu tahu. Apalagi mengharapkan kamu untuk lebih mengerti. Karena kamu begitu jauh. Ataukah karena sebenarnya kamu terlalu dekat di hatiku?Whoooahmm…Aku menguap sekali. Angin menerobos ventilasi, membelai leherku. Dingin. Agaknya hujan mulai reda. Tidak terdengar suara berisik lagi. Mouse kugeser ke kiri, ke kanan, lalu melingkar-lingkar. Sekali lagi aku menguap.Aku kembali mengetik. Entahlah, apa benar yang sudah aku ketik. Peduli amat.Pluk.Seekor cicak jatuh di atas printer. Aku kaget. Ternyata mataku nyaris tertutup. Sampai mana ketikanku tadi?Ugh, kenapa malam memaksa aku berpikir bukannya menuntunku untuk tidur? Lagu. Bodoh, kenapa tidak memutar lagu saja? Barangkali mampu meredam kantukku. Banyak kaset di laci lemariku. Pop Indonesia, Barat, India -nyaris ada semua- kecuali dangdut dan keroncong. Kaset-kaset itu aku koleksi sejak SMP. Bahkan ada beberapa yang sudah jamuran namun tetap aku simpan.Bryan Adam. Terlalu lembut. Firehouse. Yah, lumayan menghentak. Megadeth? Eh, kaset siapa yang nyasar di sini? Bukan milikku, barangkali salah seorang teman kampusku meninggalkannya di sini. Atau Ebiet G. Ade? Enggak ah, nanti tambah ngantuk. Oh, gimana kalau Bon Jovi? Tidak apa bukan? Mendengarkan slow rock tidak akan menganggu penghuni kamar sebelah yang mungkin sudah hanyut dalam sungai mimpi.This romeo is bleeding, but you can’t see his blood… It’s nothing but some feelings, that this old dog kicked up… It’s been raining since you left me, now I’m drawning in the flood… You see I’ve always been a fighter, but without you I give up…Aduh, kenapa Always yang pertama keluar? Hanya akan mengingatkan aku tentangnya. Bukankah ini lagu yang kamu nyanyikan saat malam perpisahan SMU? Yang khusus kamu persembahkan untukku, membuat aku tersanjung.Kamu masih suka memetik gitar tua itu, yang kau sebut pacar kedua -setelah aku- itu? Tentu saja, musik adalah duniamu, setelah panjat tebing dan hiking. Menurutku hobimu yang lain (pasti kamu enggak sadar) adalah menaklukkan hati para gadis. Dengan senyum tanpa dosa tidak akan ada yang menolak ajakanmu. Termasuk aku.Salahkah bila aku sering membayangkan wajahmu. Dosakah? Cuma membayangkan saja, bukan suatu pengkhianatan, kan? Sungguh, sebesar apa pun keinginanku untuk menghapus ingatan tentangmu, sebesar itu pula ketidakmampuanku untuk melakukannya. Sungguh, aku masih sangat mencintai kamu.
Memang benar kata orang, cinta pertama itu tidak akan pernah mati. Yang paling berkesan. Paling manis. Sekaligus juga pahit. Seperti itulah yang pertama, bukan?Mungkin jalan satu-satunya adalah aku ikut program pencucian otak.Saat tidak ada kerjaan, lebih senang mengingatmu. Saat bertengkar dengan pacarku, lebih nyaman bersama bayanganmu. Menggambar jengkal demi jengkal bagian tubuhmu, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menuangkannya ke dalam kanvas hatiku. Rambutmu yang panjang menggelitik, sepasang mata elang di bawah naungan alis hitam, serta bibir tipis yang selalu basah dan mengurai senyum meneduhkan. Aku hapal wajahmu. Setiap gurat di sana bisa aku ingat, berharap wajah yang aku lukis selalu tersenyum dan menyapaku di ujung malam. Tapi, apakah waktu enam tahun merubah semuanya?Aku kangen kamu.Kangen sapaan ‘selamat pagi’ yang selalu kamu berikan di depan pintu kelas. Kangen genggam tanganmu yang menuntunku turun dari sepeda saat mengantarku pulang. Kangen bisikan lembutmu saat membujuk hatiku. Juga lelucon konyolmu yang tidak pernah habis.Aku kangen semua tentang kamu. Benar-benar.Bed of Roses terdengar. Sejak kapan lagu demi lagu berganti? Rupanya aku keasyikan melamun. Keasyikan melukis kamu. Ah, peduli amat.
Tengah malam.Aku benar-benar menjadi makhluk malam.Sudah empat kali dalam seminggu ini. Banyak tugas baca, makalah, dan presentasi yang menguras isi kepala dan energiku. Aku sering tertidur pukul satu dinihari kemudian terjaga sejam berikutnya. Tidak mimpi. Tidak ada yang membangunkan. Ya, otomatis saja. Sudahlah, pergilah semua bayangan tidak diundang dari kepalaku. Aku harus menyelesaikan tugas. Besok harus sudah presentasi di hadapan dosen dan teman-teman sekelas. Harus bagus, atau aku tidak boleh ikut midsemester.Tiga buku setebal lima senti menenggelamkan kepalaku. Ini semuanya akan aku baca? Berbahasa Inggris pula. Di antara tiga buku hanya satu yang berbahasa Indonesia. Gila, memangnya aku kamus berjalan? Kalau kamu, mungkin iya. Di SMP dan SMU, semua guru bahasa Inggris memuji kepintaranmu. Kosakata yang kamu kuasai jauh melebihi kemampuanku.‘Dengan cara menghapal sepuluh kata setiap hari, tinggal dikalikan, maka kamu tidak akan percaya hasilnya.’Seperti itulah yang kamu bekalkan untukku. Kamu memang pintar, kok. Salah satu kelebihanmu yang sukses menjerat hatiku.Lagi-lagi aku memikirkannya. Ada apa ini? Lupakan. Berusahalah ingat yang lain. Ingatlah seseorang yang nun jauh di sana, yang sedang berjuang untuk kebahagiaan dan masa depanku.Nggak bisa. Hhh, aku memang nggak mau.Aku bosan memikirkan yang sekarang. Terlalu sering. Senyum untuk dia, waktu, bahkan sampai airmata. Aku mau penyegaran. Suasana lain, bersama yang lain. Lagipula aku tidak bersama wujud nyata, hanya lamunan. Kan, tidak salah? Becanda dengan bayangan, tidak akan ada yang tahu, kan? Kecuali Dia tentunya.
Kepalaku ini sulit dikontrol rupanya. Sekali dibiarkan bebas maka akan berkelana sebebas-bebasnya. Tidak perlu mengerti kesusahan pemiliknya. Aku sedang sibuk. Aku sedang menguras isi otakku. Mencari-cari kalimat yang pas buat proposalku.Tombol-tombol keyboard mulai aku tekan dengan kecepatan luar biasa. Isi otakku mengalir deras dan tidak mau aku stop, karena sekali aku stop maka selamanya akan hilang. Mumpung masih segar dan mumpung pikiranku sedang konsen ke satu hal saja, kerjakan sekarang juga.Pengertian Sampah… Pembagian Sampah… Sumber Sampah…Apa ini? Bahasa Inggris lagi. Mana kamusku? Di mana aku letakkan tadi? Aduh, aku begini ceroboh dan tergesa-gesa. Selalu ada yang berantakan dan tertinggal. Tidak pernah teratur dan rapi. Ah, sebodo amat. Aku tidak perlu berdiskusi tentang ini.Cepat, tinggal dua paragraf lagi. Setelah itu masuk ke Metodologi Pembuatan Sampah. Gampang, sudah ada konsep. Tinggal aku ketik dengan penambahan di sana sini sebagai pemanis. Ketua kelompok sungguh baik hati, bersedia menulis serapi ini. Mungkin dia sudah tahu kalau aku bakal kelelahan.Krriiiinnngg!Siapa lagi malam-malam begini? Krriiinngg! Pantatku terangkat. Tanganku terulur siap meraih knop pintu. Sialan, tak ada suara lagi. Siapa pula yang usil. Sukanya mengganggu ketenangan orang.Aku duduk kembali. Lho, sepi? Ternyata kaset Bon Jovi side A sudah habis sejak lima menit yang lalu. Aku segera membaliknya. I wake up in the morning, and I raise my weary head… I’ve got an old coat for a pillow, and the earth was last night bed… I don’t know where I’m going only God knows where I’ve been… I’m a devil on the run, a six gun lover a candle in the wind, yeah… Setiap beat lagu itu memberikan stimulus agar aku bekerja kembali.Jemariku terpaku di atas keyboard. Sial, ke mana semua kalimat yang sudah aku susun tadi? Pasti gara-gara dering telepon kurang ajar itu!Kalau saja dia ada di sini pasti aku dibantu. Tangannya ringan dalam membantuku. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah bertanya kenapa, atau pun memberikan nasihat sepanjang Jabotabek.‘Lain kali lebih teliti.’Hanya itu katanya. Tidak lebih.Cinta pertama. Tidak akan pernah habis untuk diceritakan. Seperti sebuah drama teve yang sekarang sedang booming di kalangan remaja dan orang tua. Apa itu judulnya? Meteor Garden? Setiap kuliah kosong, di setiap sudut kelas membicarakannya. Setiap tangan memegang gambar atau fotonya. Bla, bla, bla….Lho, malah ngelantur? Yah, cinta pertamaku memang tidak akan habis atau memudar. Kalau dijadikan bahan novel, bisa setebal 200 halaman bolak-balik. Belum ditambah cover eksklusif dan halaman persembahan.Waduh, otakku kacau lagi. Mungkin aku memang harus masuk program cuci otak.Lalu kenapa putus?Pertanyaan simpel tapi jawabannya serumit benang wol yang dijadikan mainan si Pussy. Bukan mauku untuk putus. Bukan rencanaku untuk meninggalkannya. Semua bukan bermula dari aku. Andai masih bisa memilih, aku akan memilihnya.Bermula dari seseorang yang aku sebut ‘ibu’ dalam keluarga. Yang sudah mempertaruhkan nyawa agar aku melihat dunia, bangun di tengah malam karena aku menangis minta susu, dan mengajari ucapan ‘ayah, ibu’ sampai lidah rasanya kelu. Ibu. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.Semua orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anaknya Begitulah kata nenek, tiga hari sebelum beliau berpulang. Apalagi untuk anak semata wayang yang diserahi tanggung jawab total membawa nama baik keluarga, seperti aku. Harus begini, harus begitu. Jangan bergaul dengan ini, jangan dengan itu. Aku boleh memilih tapi tetap menyesuaikan dengan keinginan ibu. Sama saja bohong, kan? Ibu mengharapkan yang terbaik untukku, tapi ‘terbaik’ menurut beliau.Dia pintar. Dia siswa teladan. Dia luar biasa baik hati. Bak pangeran negeri antah berantah. Tidak pernah mabuk-mabukan. Mencium bau bir saja membuatnya muntah. Bukan pecandu narkoba, seperti yang sekarang merebak di kalangan pelajar. Dia bersih lahir bathin. Lalu apanya yang salah?Keluarganya.Menurut penilaian orang-orang di sekitarku, ayahnya bukan contoh yang baik. Seorang laki-laki yang telah menanamkan benih ke wanita yang bukan istri sahnya. Ialah ibunya. Tapi dia bukan anak haram. Dia cuma anak yang kurang diinginkan.Napasku tersendat, sudut mataku terasa hangat.Sungguh cengeng. Kembali ke masa-masa itu akan memaksaku untuk menangis. Bukan terharu pada keluarganya yang broken home, namun sedih akan kenyataan yang aku anggap tidak adil. Perpisahan yang tidak aku mau, begitu jauh, begitu lama…Aku tidak yakin dia ingat bentuk wajahku. Ingat lekuk tubuhku saat melintas di dekatnya. Ingat suaraku saat aku menyapa. Atau bagaimana aroma rambutku yang dulu sering diciuminya. Waktu sudah habis demikian banyak, memberi kesempatan untuk suatu perubahan. Dan setiap manusia pasti akan mengalami perubahan, bukan?Sudahlah.Berhenti memikirkan hal-hal yang sentimentil. Berhenti sok romantis. Sok puitis. Hanya akan membuka luka lama. Membuatnya menganga dan berdarah lagi.Bukan ini yang aku harapkan. Tidak. Aku juga ingin lepas dari belenggu masa lalu. Lepas dari ikatan benang merah yang pernah ia ikatkan di kelingking kiriku. Melepaskan bola-bola cinta yang merantaiku ini.Tolong, bantu aku. Jangan hanya kau pandangi aku dari kejauhan. Jangan hanya bergerak sebagai bayangan membisu. Genggamlah tanganku untuk terakhir kali. Bisikkan suara lembutmu untuk terakhir kali.Untuk mengucap kata ‘selamat tinggal’ untukku.Pipiku membasah. Selalu berakhir begini.Monitor komputer tetap berkedap-kedip. Pendar sinarnya tetap menyeruak ke dalam mataku, menambah panas.Bon Jovi tetap menyanyi.Dan aku tetap duduk, mencoba menyelesaikan tugasku hingga akhir.Biarlah seperti ini. End
Posting cerpen by: ekaratna89

cerpen cinta segi empat

Ku letakan gelas yang masih terisi setengah coklat panas. Kembali ku hisap rokoku ketika tangan Rendy memegang lembut tangan Nabila. ”Hem, mesrah sekali!” Bisiku dalam hati. Jujur aku sangat cemburu. Aku sadar bahwa aku sangat sayang kepada Nabila, tapi aku tak mau menghancurkan persahabatan kami. Karena sudah dari semester satu sampai saat ini kami berteman. Dulu Rendy dan Nabila tidak pacaran, tapi mungkin karena akrab dan seringnya ketemu jadinya mereka pacaran deh. Jadi ingat waktu dulu nih, waktu hujan-hujan di sebuah restoran prancis, aku dan Nabila janjian buat ketemuan. Niatku dalam hati sih ingin mengungkapkan cintaku, tetapi ketika aku baru mau mulai berkata dia langsung berkata, ”Aku udah jadian sama Rendy tadi siang.” Memang hatiku sangat hancur saat itu, tetapi aku sadar bahwa persahabatan adalah segala-galanya. Lamunanku terbuyar saat lembut tangan Nabila mencubit lembut lenganku. Aku terperanjat dan langsung salah tingkah. ”Lagi ngelamunin apa nih?” Nabila berkata dengan manis sambil tangannya menarik-narik sedotan dari gelas yang dia pegang. ”Nggak, aku lagi mikirin mata kulia nih!” Jawabku dengan agak gugup. ”Pasti lagi ngelonjor tuh, alias ngelamun jorok!!! Ia kan?” Ketus Rendy dengan suara besar dan agak terbahak. Aku hanya bisa diam dan kembali menyedot coklat panas yang sudah dingin sambil memandangi Rendy dan Nabila tertawa mesrah. Saat tepat jam 4 sore, kami pulang ke rumah. Seperti biasa, Nabila pulang sendiri dan aku bersama Rendy pulang ke kos-kosan kami. Di tengah perjalanan tiba-tiba rendy mengajak aku ngomong serius. Dalam hati aku bertanya, ”Rendy mau ngomongin apa? Jarang-jarang dia serius kaya gini.” ”Rik, gua besok mau pulang ke Surabaya.” Rendy berkata dengan nada rendah. ”Ngapain lo ke Surabaya, kulia aja belum selesai?!” Aku menjawab sambil menyalakan rokoku yang kedua. ”Gua mau nerusin usaha bokap ki! Bokap udah sakit-sakitan!” Rendy bicara dengan agak serak, sepertinya dia menahan sesuatu. Aku tidak menanggapi langsung, aku asyik melihat anak kecil di depanku sedang meniup sedotan pelastik sambil mengosok-gosokan kepalanya ke pundak ibunya. ”Gua serius!!!” Teriak Rendy mengagetkanku. ”Sory gua ngelamun” Jawabku mencari alas an. ”Terus?” Rendy bertanya dengan wajah serius. ”Terus apanya?” Aku bertanya balik karna bingung. Jujur aku baru sekali ini melihat Rendy kaya gini. Selama ini dia orangnya ketimpringan, suka ketawa-ketiwi, dan rame banget deh!! Dalam catatan pertemanan aku sama Rendy, tidak pernah dia serius seperti ini. ”Nabila” Jawab Rendy dengan agak lemas sambil mengusap rambutnya yang sedari tadi kusut. ”Kenapa Nabila?” Aku bertanya lagi. ”Gua nggak mungkin mbawa Nabila” Rendy berkata sambil membuka kaca angkot yang kami tumpangi. Tiupan angin segar seketika masuk dari kaca jendela. ”Terus Nabila gimana?” Aku kembali bertanya. Tadinya aku nggak serius, tetapi setelah mendengar nama Nabila aku langsung tanggap dan serius. Aku nggak tau setiap aku mendengar nama itu hatiku jadi bergetar. Aku selalu cemburu ketika aku ngedengar cowo lain menyebut nama itu. ”Gua mau nitipin Nabila ke lo” Rendy berkata sambil melihat ke lantai angkot. Rambutnya yang berantakan dan panjang melambai-lambai di tiup angin dari jendela mobil. ”Dititipin sama gua?” Aku kembali bertanya. Jujur aku sangat senang mendengar kata itu. Dalam hati aku ingin sekali Rendy cepat pulang ke Surabaya agar aku bisa berdua bersama Nabila. Ia, hanya berdua saja. Memang kalau dirasa aku sangat jahat, tetapi itulah yang ada dalam hatiku saat ini. Aku langsung membayangkan aku bersama Nabila berjalan berdua, makan berdua, mengerjakan tugas bersama dan ”Hoi!!!!!! Ngelamun aja lo!!!!!!” Teriakan Rendy mengagetkan aku. Rupanya dari tadi Rendy berbicara tetapi tidak aku dengarkan. ”Lo ngomong apaan?” Tanyaku lagi. ”Gua ngomong jangan bilang-bilang ke Nabila kalau besok gua bakal pergi. Lo boleh bilang saat gua sudah berangkat. Dan jangan suruh dia untuk ngehubungi gua karena gua nggak mungkin akan balik ke sini lagi.” Rendy bicara sambil mengambil uang kertas dari saku celananya. ”Kenapa?” Aku kembali bertanya. ”Soalnya pas sampai di sana gua di tunangkan.” Rendy berkata sambil mengetok atap angkot karena kami sudah sampai. Jedak-jeduk jantungku mengiringi langkahku. Aku tak habis piker, kenapa keadaan bisa seperti ini? Dulu aku berpikir bahwa aku nggak bisa sama sekali memiliki Nabila, tetapi bila keadaannya seperti ini, harapan itu spontan muncul kembali dan mengusik setiap pikiran diri. Aku tersentak ketika aku dikejutkan oleh suara perempuan di hadapanku. Rupanya kami bertabrakan. ”Kalau jalan liat-liat dong!!!” Suaranya terdengar melengking di telingaku. Kupandangi saja sosok di depanku yang sedang memungut buku di lantai kos. ”Maaf” aku berkata sambil ikut membantu memunguti buku yang sedari tadi berantakan. Sosok itu berdiri sambil merapikan buku-buku di kedua tangannya. Aku baru sadar bahwa dia sangat cantik. Kulitnya yang putih mulus, bibirnya yang merah dan alisnya yang berbaris rapi di atas kedua matanya sangat mempesona. Dalam hati aku bertanya, ”Siapa dia?” Mungkin dia keponakannya ibu kos. Ah daripada penasaran, lebih baik aku tanyakan langsung kepadanya. ”Kamu keponakannya ibu kos ya?” Aku bertanya agak sedikit gugup. ”Aku anak kos baru.” Dia bicara dengan nada rendah. ”Oh anak baru…” Aku berkata dengan santainya. Dia berlalu di depanku dan kurasakan aroma sejuk menusuk penciumanku. ”Aroma Mawar!” pikirku dalam hati. Saat sosok indah itu menghilang di balik pintu aku baru sadar kalau aku sangat gembira. Aku berkenalan dengan gadis yang sangat cantik dan tanpa disengaja aku tinggal satu atap dengannya. Dan bodohnya lagi aku belum tau namanya. Ah sudahlah, nanti juga bertemu lagi, lagi pula diakan tinggal di sini. Aku berlalu meninggalkan ruangan tengah, dan menerobos gorden yang setenga terbuka. Aku langsung naik ke kasur dan meloncat-loncat. ”Asyik!!!!! gua ketemu cewe cakep!!!!” aku meneriakan kata-kata itu. Di muka pintu aku melihat ibu kos memelototiku. ”Dasar anak brengsek!!!! Kaya anak kecil aja, lo kira gua beli kasur nggak pake duit apa? Kasur gua diinjek-injek pakek sepatu!!!” Aku hanya bisa diam dan menunduk sambil tidak menghiraukan ocehan demi ocehan dari ibu kos. ”Dasar nenek sihir!” jeritku dalam hati. Aku melepaskan sepatuku dan membiarkan ibu kos mengoceh di depan pintu. Lama dia mengoceh, dan setelah puas dia berlalu meninggalkanku. Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang ditutupi seprei yang lusuh. Mungkin sudah tiga minggu aku tak mencuci seprei ini. Bayangan Nabila tiba-tiba mencul di pelupuk mataku yang setengah terpejam. Dia menggapai-gapaikan tangannya ke arahku. Aku datang menyongsongnya, dan kami bertemu ditengah taman yang indah. ”Ki, aku sayang padamu.” ”Nabila, akupun begitu.” ”Ki, aku ingin memilikimu!” ”Aku juga.” Ku lihat Nabila memejamkan matanya dan tak sabar aku ingin memeluknya. Dengan penuh kasih sayang aku mencium halus keningnya dan dia kembali membuka kedua matanya yang mulai berkaca. ”Tapi kita tak mungkin bersatu!” bisiknya seakan tidak terdengar. ”Kenapa tidak?” belum sempat aku melanjutkan, jarinya yang harum menutup bibirku. ”Walaupun Rendy pergi, aku tak mungkin dapat kau miliki” Aku baru mau bertanya tapi dia menutup mulutku lagi. ”Karena aku…” Aku dikagetkan oleh suara Rendy yang berteriak di telingaku. ”Hoi, sauuuuuuuur!!!!” Aku sangat kesal, tega-teganya dia membangunkan aku, padahal aku sedang bermimpi indah. ”Hoi coi, udah magrib! Masa lo mau tidur mulu! Shalat donk!!!!” Rendy kembali berteriak. Aku hanya bisa diam dan berusaha bangkit. Kulihat jam dinding, ”Sudah jam enam!” seruku dalam hati. Aku bangkit dan mengambil handuk yang tergantung di balik pintu. Kulihat lagi gambar porno yang ada di balik pintu, ”Seksi abis” pikirku dalam hati. Aku bergegas menuju kamar mandi dan kubanting pintu kamarku supaya Rendy kesal, tapi kayanya dia fine-fine aja tuh sambil tertawa lirih. Ku gosok-gosok mataku yang masih agak kabur sambil tanganku menenteng handuk merah. Bila melihat handuk ini aku teringat Nabila, karena dia yang memberikan handuk ini kepadaku. Saat aku diospek, aku disiram oleh seniorku, sehingga aku harus mandi di kampus. Tetapi aku tidak bawah handuk, dan dengan penuh kasih sayang ”menurutku”, Nabila meminjamkan handuknya kepadaku. Lamunanku terbuyar saat kepalaku menyentuh sesuatu. ”Aduh!!!!” kepalaku terkena jemuran ibu kos. Aku menyandarkan tubuhku ke dinding, dan sayup-sayup kudengar langkah kaki mendekat ke arahku. ”Kamu nggak apa-apa?” Suara itu, aku kenal suara itu! ”Pasti anak baru itu!” seruku dalam hati. Sepontan rasa sakit itu hilang dan berubah menjadi perasaan yang tak karuan. Sosok itu muncul di hadapanku. ”Masih cantik” bisiku dalam hati. Gadis itu hanya dibalut oleh handuk hijau tua yang bermotif garis-garis biru, anting-antingnya yang berwarna putih perak dan bertahta permata yang berkerlap-kerlip sangat tampak di kulitnya yang putih dan mulus. ”Kamu?…” dia tidak jadi berkata. ”Kenapa?” aku balik bertanya. ”Tidak apa-apakan?” dia berkata seraya tangannya mengusap benjolan yang ada di keningku. Aku dapat merasakan tangan itu. Ya, sangat halus! Itulah kata-kata yang bisa ku utarakan. Kunikmati sentuhan tangan itu, dan dengan liarnya aku memandangi tubuh yang hanya dibalut oleh handuk itu. ”Mau kuambilkan obat?” lamunanku buyar saat dia berkata. ”Engg… nggak usa! Lagipula aku mau mandi nih!” aku berkata sambil ikut menggosok benjolan yang ada di keningku. Sebenarnya aku bukan ingin menggosok benjolan itu, tetapi aku ingin memegang tangan itu. Dia melepaskan tangannya dari keningku, tetapi tanganku tetap memegang tangannya. ”Maaf” dia berkata sambil melepaskan tangannya dari tanganku. Aku agak malu, tapi langsung kubuang rasa itu. Dengan penuh percaya diri aku menanyakan namanya. ”Nama kamu siapa?” ”Aldila” dia menjawab dan balik bertanya kepadaku. Tapi belum sempat dia bertanya aku menjawab, ”Riki!” aku mengucapkan itu sambil menyodorkan tanganku. Sambil tersenyum dia menyambut tanganku dan sekali lagi aku bisa merasakan halusnya tangan itu. ”Nama kamu cantik!” dan aku menambahkan dalam hati ”Secantik orangnya.” Dia hanya tersenyum seraya berkata, ”Terima kasih!” ”Oh ya, katanya mau mandi, tuh aku udah selesai makai kamarmandinya!” dia berkata sambil berlalu dan berbelok di ujung lorong. Aku tidak langsung menuju ke kamar mandi, tetapi aku melihat dia menghilang, dan sebelum menghilang dia tersenyum seraya melambaikan tangannya kepadaku, dan aku membalas lambayan tangan itu. Tanpa sadar, handukku terlepas dari tubuhku dan ku lihat Aldila tertawa sambil berlalu dari ujung lorong. Aku terkejut dan kulihat aku masih memakai celana pendek. ”Alhamdulillah” bisiku dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala dan bergegas menuju kamar mandi. Aku membuka pintu kamar mandi dan terdengar suara nyaring yang mengilukan saat pintu itu kututup. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil aku mengamati benda di pojok bak mandi. ”Hemh, ada sabun cair, punya siapa nih!” aku bergegas mengambil botol sabun yang berwarna merah dan membuka tutupnya. ”Wangi mawar, berarti ini punya Aldila, asyik gua pakai ah!!!” Aku menyiram tubuhku dan bersiul-siul kecil. Setelah aku selesai mandi, aku dikagetkan oleh Rendy yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Dia sepertinya agak bingung melihatku. ”Ngapain lo senyum-senyum?” Rendy bertanya sambil menenteng handuk yang tak layak itu. ”Ada deh, mau… tau… aja deh!!!!” aku tertawa dan berlalu dari hadapan Rendy dan kulihat rendy menutup pintu yang nyaring mengilukan itu. Aku teringat sesuatu, oh ya, aku ingin mengembalikan sabun cair milik Aldila, ya hitung-hitung pdkt gitu! Saat aku tiba di depan pintu kamar Aldila, dia sedang asyik membaca buku. Aku dapat melihat ekspresinya saat aku datang. Di samping tempat tidurnya aku melihat koper yang belum dibuka. ”Lagi baca apaan?” Tanyaku basa-basi sambil duduk di kasur yang empuk dan rapi. ”Nggak!” jawabnya sambil menyembunyikan bukunya ke dalam pelukannya. Sekilas aku berpikir, aku ingin menjadi buku yang dipeluk itu. ”Ada apa?” tanyanya curiga. ”aku mau ngembaliin sabun cair kamu yang ketinggalan di kamar mandi.” Jawabku tanpa ekspresi. ”Oh, makasihya, tapi ngomong-ngomong kamu wangi sabunku, kamu make sabunku ya?” dia berkata sambil tertawa kecil dan kulihat dia menaro bukunya di bawah tempat tidur. ”oh, dikit!!!” aku menjawab sambil menyerakan botol sabun tersebut. Kulihat dia mengambil botol sabun itu dari tanganku, dan nampak jelas cincin yang terpahat di jari manisnya berkilauan. ”Makasih” dia berkata manis sekali, hingga tak tahan jiwa ini melihatnya. Aku mengangguk sambil mataku menatap tepat ke wajahnya dan aku tak tau siapa yang memulai, kami telah berpelukan dan bercumbu di atas kasur yang rapi itu. Setelah itu aku hanya bisa diam membisu. Aku duduk di samping tempat tidur sambil menunduk menatap lantai kamar Aldila. Aku tak habis piker mengapa aku melakukan hal terlarang itu. Di dalam pengelihatanku yang tak bertumpu itu aku menangkap bayangan buku yang ditaroh Aldila di bawah tempat tidur. Dengan perlahan aku meraih buku itu. Pelan dan dengan tatapan kosong mataku menjelajahi buku itu, ”Oh, rupanya ini buku porno!” aku bergumam dalam hati. ”Pantas saja Aldila sangat bergairah.” Pikirku dalam hati. Kembali kupandangi tubuh Aldila yang berbaring di atas tempat tidur yang tadi rapi tapi kini sudah sangat lusuh. Dia tampak cantik dalam keadaan apapun, termasuk saat tidur. Tapi sekali lagi aku menyayangkan kejadian ini, ”mengapa ini bisa terjadi?” aku bertanya dalam hati. Aku mencium kening Aldila dan bergegas meninggalkan kamarnya. Kumasuki kamarku dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur yang berantakan. Kulihat gambar porno itu masih setia menjaga pintu kamarku. ”Dari mana aja lo?” Rendy bertanya sambil merapikan barang-barangnya. Aku tak menghiraukan Rendy, aku masih mengingat kejadian yang baru saja aku alami. ”Ki, gua nitip Nabila ya!” Rendy bicara dengan nada renda, matanya menatap tepat ke wajahku sambil mengeratan tali yang membalut barang-barangnya. Sejenak aku terkesiap, Nabila! Aku melupakan Nabila. Aku merasa aku menghianati hatiku dengan kebodohan yang baru aku lakukan. ”Ren, lo percayain aja Nabila ama gua, pasti gua akan menjaganya.” Aku berkata sambil bangkit dan menepuk pundak Rendy. ”Gua tau lo pasti bisa Ki, karena lo emang sahabat gua. Tapi gua harap lo bisa nggantiin posisi gua di hati Nabila.” Rendy berkata sambil tangannya dirangkulkan kepundaku. Aku diam sekejap, sampai keluar kata-kata spontan, ”Ok man, gua akan berusaha menjadi lo di hati Nabila.” Aku tau maksud Rendy, dia menyerahkan Nabila sepenuhnya kepadaku. Di sisi lain aku gembira, tapi di lain sisi aku merasa ditampar oleh keputusan Rendy, karena aku merasa sangat berdosa kepada Rendy, Nabila dan Aldila. Dalam hati aku menangis, sampai tangisanku tertahan saat Rendy menjemput kopernya dan berpamitan kepadaku. ”Man, gua pergi, gua harap lo bisa pegang janji lo. Ok!” Rendy merangkulku erat dan aku hanya bisa diam. ”Ok Ren, lo ati-ati ya di Surabaya, gua do’ain lo sukses abis di sana.” Aku berkata dengan agak terbata dan Rendy meninggalkanku sambil mencopot gambar porno yang ada di belakang pintu kamar kosku. ”Benda ini harus disingkirin” Rendy berkata dan berlalu. Diluar ku dengar Rendy berpamitan kepada ibu kos dan sayup-sayup kudengar ibu kos menangis. ”Nenek sihir bisa nangis juga!” Seruku dalam hati. Setelah itu aku dikagetkan oleh suara ketukan di pintu kamarku. Dengan malas kubuka pintu yang suda tidak didampingi oleh gambar porno itu lagi, dan betapa kagetnya aku saat aku lihat siapa yang datang. Aldila berdiri tepat di depan pintu dengan berpakaian rapi serta koper yang duduk disebelah tempat dia berdiri. ”Rik maafin aku ya,” aku mendengar ucapan itu seraya berbisik. ”Memangnya kenapa Dil? Kamu…” belum sempat aku menjawab, Aldila menutup mulutku dengan jemarinya yang dihiasi cincin bertahtakan permata. ”Aku harus pergi.” ”Tapi mengapa?” Aku bertanya tak mengerti. Belum sempat Aldila menjawab, Rendy berjalan ke arah kami seraya berkata, ”Sayang kita berangkat sekarang yok!” Rendy berkata sambil merangkul pundak Aldila. Aku tercengang, aku bingun dengan keadaan sekarang ini. ”ki, ini Aldila tunangan Gua. Cantik kan?” Rendy berkata seraya mengelus cincin di jari manis Aldila. ”Ini cincin pertunangan kami!” Dia menambahkan. ”Ayo sayang kita berangkat! ki gua balik ya!!!!” Rendy dan Aldila berlalu menuju pintu keluar kosku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa terdiam, tak percaya dengan apa yang aku alami. Aku melihat Aldila menatap sedih ke arahku, dan sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu. Lama aku berdiri di muka pintu, aku tak tau pasti sudah berapa lama aku dalam kebisuan, hingga akhirnya aku dikagetkan oleh ibu kos yang menepuk pundaku. ”Kenapa, lo pengen kawin kaya Rendy ya?” Aku tak memperdulikan ucapannya. Aku memasuki kamar dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pikiranku tak karuan. Aku masih memikirkan apa yang telah terjadi. ”Pertama Rendy menitipkan Nabila kepadaku, lalu aku bertemu dengan Aldila, lalu aku melakukan itu dengan Aldila, lalu Rendy meminta agar Nabila menjadi kekasihku, lalu Aldila adalah tunangannya Rendy, lalu……. Aku tersentak dari bayangan-bayangan yang menyelimuti diriku saat aku melihat Aldila di sudut kanan pelupuk mataku. Dia tersenyum manis dan memanggilku mesrah. ”Riki!” Dengan bergegas aku menghampirinya. Aku merasakan aroma mawar itu, dan tanpa kusadari aku telah berhadapan dan berpegangan tangan dengannya. ”Aku hanya ingin memberi tau bahwa sebaiknya kamu lupakan apa yang terjadi tadi. Anggaplah itu dosa termanis yang pernah kau lakukan. Dan….” Sayup-sayup kudengar suara ibu kos. ”Rupanya sudah pagi!” seruku dalam hati. Aku bergegas mandy dan berpakaian. Hari ini aku ingin bertemu Nabila. Memang benar kata Aldila dalam mimpiku, bahwa sebaiknya aku menganggap semua kejadian tadi malam tidak pernah terjadi. Aku meninggalkan kamarku saat kulihat jam dinding menunjukan pukul sembilan, dan ketika melihat kebelakang pintu aku agak canggung karena si Porno penjaga pintu sudah tidak ada. Sesampainya di kampus, aku langsung mencari Nabila. Mataku yang liar mencari dari sudut ke sudut, dan akhirnya aku menemukan Nabila sedang duduk di koridor kelas sambil membaca buku. ”Nabila” kataku pelan. Nabila hanya menatapku sebentar dan tersenyum. ”Rendy mana?” ”Kamu belum tau?” aku balik bertanya dan kami saling berpandangan dan Ku lihat wajah Nabila agak bingung. ”Memangnya ada apa?” Lalu aku menceritakan semuanya, bahwa Rendy telah pulang ke Surabaya dan dia akan menikah dengan Aldila, tetapi aku tidak menceritakan perihal aku dengan Aldila tadi malam. Mendengar ceritaku wajah Nabila mendadak pucat, pandangannya kosong, tetapi tidak meneteskan air mata. ”Kamu tidak apa-apa?” Lalu Nabila memelukku.” Aku merasakan getaran lain di pelukan itu. Mungkin menurut Nabila itu pelukan biasa, tetapi bagiku ini sangat berharga. Aku mulai mendengar isak tangis dari Nabila yang semakin lama semakin kencang. Aku melepaskan pelukan kami dan berusaha menenangkannya. ”Nabila, kamu jangan sedih. Walaupun tidak ada Rendy di sini, bukankah masih ada aku?” ”Aku tidak sedih karena tidak ada Rendy!” ”Lalu?” Aku bertanya penuh harap. Dalam hati aku berkata, ”Apa yang terjadi? Mengapa kepergian Rendy tidak membuatnya sedih? Lalu apa yang membuatnya sedih?” Pertanyaan itu melintas begitu saja. ”Kenapa Bil?” aku mendesak. Lalu ku dekap Nabila yang menangis lebih keras, dan ia berkata dengan agak terbata, ”Aku hamil!” Otakku hampir meledak saat kudengar kata-kata itu. Dalam hati aku mengutuk Rendy, ”bisa-bisanya Rendy meninggalkan nabila pada saat dia hamil. ”Apakah Rendy tau kalau kamu hamil?” aku bertanya agak gugup sambil menarik rumput liar di depanku. ”Belum, hari ini aku baru ingin memberitaunya.” Otakku berputar mencari jalan keluar. ”Rendy sudah tidak mungkin kembali ke sini, dan dia telah menyerahkan Nabila sepenuhnya kepadaku.” Pikirku dalam hati. Lalu dengan tegas aku berkata, ”Baik, aku mau bertanggung jawab!” Nabila agak kaget mendengar pernyataanku, sejenak dia berpikir dan selanjutnya dia memeluku sambil menangis. Keputusan ini bukan semata karena Rendy dan cintaku kepada Nabila, tetapi ini menyangkut masa depan Nabila dan persahabatan kami. Satu tahun telah berlalu. Kini statusku adalah suami Nabila dan aku bekerja di perusahaan ayahnya. Perkawinan kami sangat bahagia, walaupun kami tau anak kami yang pertama bukan hasil dari hubungan kami. Aku mengaduk-aduk berkas-berkas yang ada di meja kerjaku. Aku mencari sepucuk surat yang ditaroh sekertarisku. Tiba-tiba pandanganku berhenti saat aku melihat amplop putih di atas buku jurnalku. Perlahan aku buka dan mulai ku baca. Surabaya, 24-8-2005 Dear Riki, Apa kabar lo? Gua harap lo baik-baik sama kaya gua di sini. Oh ya, gua dengar lo udah nikah dengan Nabila dan udah punya anak ya? Cerdas juga lo! Dalam hati aku berkata, ”Dia tidak tau kalau itu anaknya!” Lalu aku mengambil kaca mata, karena tulisan Rendy mulai berantakan dan tak jelas di mataku. Bagaimana Nabila, apa dia masih cantik? Gua harap lo bisa membahagiakan Nabila. Ok! Oh ya, tepat saat gua nulis surat buat lo, anak gua yang pertama lahir! Laki-laki dan ganteng. Tapi gua amat-amati mirip banget ama lo. Mungkin ibunya ngeliatin photo lo mulu saat ngidam. Udah dulu ya sobat, kita sambung lain waktu. Regards Di dalam amplop, aku menemukan dua photo, yang satu photo pernikahan Rendy dan Aldila, dan yang satu lagi photo bayi yang sangat tampan. Aku mengamati photo bayi itu, ”Benar kata Rendy, dia sangat mirip denganku!” seruku dalam hati, dan aku mengambil kesimpulan bahwa dia adalah anakku. Aku tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Anak Rendy ada padaku, dan anaku ada pada Rendy. Ya, ini sangat lucu cekali! Ini bagaikan cinta segi empat antara dua keluarga. Ah sudahlah, kenangan ini biar kupendam dalam hati. Yang jelas hidupku akan kujalani bersama istriku tersayang yang sangat ku sayangi! Selesai Jakarta, 29 Maret 2006

cerpen cinta

Aditya dan Ardian… dua nama itulah yang selama 3 bulan terakhir mengisi hari-hariku.

Ardian…
Dia datang pada saat dimana aku sedang merasa sangat kehilangan, hari-hariku sedang membosankan dan menyedihkan. Aku baru saja putus cinta. Awal aku mengenalnya karena tidak sengaja mengirim sms. Setelah itu kami sering bertukar cerita, bertelpon ria.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu hadir dalam hatiku dan aku juga tak mengerti mengapa cinta itu datang begitu cepat. Dan yang lebih aku tak mengerti mengapa aku harus mencintainya, padahal kita tak pernah bertemu.

Aneh bukan? Tapi itulah cinta, bila cinta tidak gila itu tidak dikatakan cinta…
Cinta itu harus gila.

Entahlah, apakah dia merasa hal yang sama dengan apa yang kurasa? Aku tak tahu. Hubunganku dengan ardian tak pasti, bertemankah atau berpacarankah…
Berteman…mungkin dia akan jadi seorang teman yang baik, yang selalu mau mendengar keluh kesahku setiap hari
Berpacaran…mungkin dia akan jadi seorang pacar yang setia,
Berteman atau berpacaran aku tak peduli. Aku merasa nyaman… mendengar suaranya dan mendengar tawanya, dia selalu menjalani kehidupannya dengan santai, seolah dia tidak pernah merencanakan hidupnya esok akan bagaimana, dia biarkan hidupnya mengalir. Tapi itulah yang ku suka, tapi hal itu pula yang pada akhirnya membuat aku benci.

Ardian datang lebih awal daripada adit, mungkin jika adit datang lebih awal, aku akan jatuh cinta padanya.

Aditya…
Aku mengenalnya karena perjodohan orang tua. Saat itu aku sedang menikmati kedekatanku dengan ardian.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu datang di hati adit, aku tak mengerti mengapa adit sangat ingin menikah denganku, padahal perkenalan ini amat singkat. Entahlah, apakah aku merasa hal yang sama dengan adit? Aku tak tahu. Tapi yang pasti aku kagum akan kegigihan dan perhatian dia.

Hubunganku dengan adit juga tak pasti, yang pasti aku pernah menyakitinya karena aku menolaknya

Tapi hingga saat ini seolah dia tak menyerah untuk mengejarku..
Atau mungkin karena target hidup dia yang sudah tersusun rapi dari tahun ketahun. Dia manargetkan menikah pada tahun ini, pada usia dia yang ke 27. itulah adit, dia selalu menyusun rencana hidupnya jauh kedepan. Bahkan 10 tahun, 20 tahun kedepan sudah disusunnya secara terperinci. Tapi itulah yang membuat aku menolaknya, aku belum lama mengenalnya, aku pernah bertanya padanya, apakah saat dia menulis target hidupnya untuk menikah tahun ini, dia membayangkan wanita yang akan di nikahi itu siapa? Aku yakin, wanita yang dia bayangkan bukan aku, tapi orang lain, entah aku tak pernah mau tahu siapa wanita itu. Aku tak pernah ada dalam rencana hidup dia, karena perkenalan kita masih sangat singkat, tapi mengapa harus aku yang harus terjebak dalam target hidupnya?

Sungguh adit dan ardian adalah dua pribadi yang bertolak belakang, walaupun inisial nama mereka sama

Aku adalah seorang wanita, yang selama 3 bulan ini dilema dengan perasaanku sendiri. Secara jelas aku menjelaskan perasaanku terhadap 2 laki-laki itu pada perkenalan mereka. Aku seorang yang sangat simple dalam hal mencintai seseorang, aku selalu jatuh cinta karena hal-hal yang sederhana, tapi seringkali jatuh cinta tanpa sebuah alasan. Kadang perasaan itu datang tanpa aku tahu dan mengapa harus pada orang tersebut.

Aku sudah bosan menjalani kegagalan perjalanan cintaku, beberapa bulan sebelum aku mengenal ardian dan adit, aku memutuskan untuk menyerahkan kepada orangtuaku utuk memilih seseorang untukku, oleh karena itu mereka mengenalkanku pada adit, anak seorang teman bapak. Karena sudah terlanjur berjanji akan mencoba untuk menerima siapapun yang mereka pilih aku menyetujui untuk bertemu dan mencoba untuk mengenalnya.

Selama beberapa bulan aku mengenal mereka, aku semakin yakin akan perasaanku. Tapi saat aku menolak lamaran adit, keadaan sudah terbalik, ardian tidak lagi menginginkan aku menjadi bagian hidupnya. Aku tak tahu apakah alasan yang dia berikan adalah benar atau tidak, aku tak tahu. Saat aku menolak adit, banyak yang terluka, mama, bapak, adit, mbak tanti bahkan mungkin yang paling terluka adalah aku. Aku hanya memikirkan dan mengikuti perasaanku tanpa mau peduli perasaan orang lain, tapi apa yang aku dapat??? sekuat apapun aku meyakini perasaanku terhadapnya, toh sekarang dia mengabaikannya. Mungkin ini karma untukku…

Aku ingin sekali melupakan 2 nama itu dalam hidupku. Karena mereka membuat aku pusing. Aku merasakan apa yang adit rasa, aku merasakan bagaimana rasanya diabaikan, mengharapkan sesuatu yang tak pasti, tapi aku juga tak ingin mengabaikan perasaanku, karena hubunganku dengan ardian tak seperti yang aku harapkan. Dengan jelas dia mengatakan tidak mencintaiku, dia mungkin hanya mengganggap aku sekedar teman, seorang teman yang kesepian. Kisah ini bagaikan kisah cinta segitiga yang tak berujung. Jika aku tetap mementingkan perasaanku, ada seseorang yang terluka. Dan jika aku menerima cinta adit, aku sendiri yang akan terluka. Sampai akhirnya aku harus memutus untuk melupakan keduanya, agar tak ada yang merasa menang, agar semua merasakan perih yang sama. Tapi mungkin perih itu hanya untukku dan adit, karena kami sama-sama melibatkan perasaan yang dalam…

Entah apa yang aku harus ku ucapkan dipenghujung kisah ini, maaf atau terimakasih, yang pasti aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga dari kisah ini, aku akan mengucapakan 2 kata itu sebagai kata terakhirku. Maaf untuk semua yang secara sengaja atau tidak sengaja terluka karena masalah ini, untuk mama n bapak, maaf jika masalah ini membuat suasana kita sedikit berkurang keharmonisannya, maaf untuk adit yang sangat jelas terluka, maaf untuk ardian karena aku memaksakan sesuatu yang sudah pasti ku tahu itu tak mungkin.

Terimakasih untuk semua yang telah ikut mengukir sebuah kisah ini untukku.

Saat ini aku sedang mencoba untuk mengistirahatkan hati dan pikiranku, aku harus berusaha agar aku tak berkubang lagi pada kisah yang sama dan orang yang sama… walau sulit, aku harus bisa merelakan dan melupakan semua…
Aku ingin menuliskan sebuah puisi sebagai akhir dari kisah ini…

Mencinta…(ku menunggu)

Kadang, Tuhan yang mengetahui yang terbaik
Akan memberi kesusahan untuk menguji kita
Kadang, Ia pun melukai hati kita
Supaya hikmahnya bisa tertanam amat dalam
Jika kita kehilangan cinta..
Maka ada alasan dibaliknya
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
Namum kita tetap harus percaya
Bahwa ketika ia akan mengambil sesuatu
Ia telah siap memberi yang lebih baik…
MENGAPA MENUNGGU????
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan
Kita tak ingin tergesa-gesa…
KARENA…..
Walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tak ingin sembrono…
KARENA…..
Walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai…
Kita tak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian cinta
Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu…
BAGIKU….
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan…
Ketimbang memilih apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai
Ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidupku terlampau singkat untuk dilewatkan bersama
PILIHAN YANG SALAH
Karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius
PERLU KAU KETAHUI
Bahwa bunga tidak mekar dalam semalam
Kehidupan dirajut dalam rahim selama 9 bulan
Cinta yang agung terus tumbuh selama kehidupan ini
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal iman, keberanian dan pengharapan….
Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan
PADA AKHIRNYA TUHAN…
Dalam segala hikmah dan kasihnya….
Meminta kita menunggu….
KARENA…
Alasan yang penting!!!!!!

Sumber

Code:
www.wismacinta.com

cerpen cinta, luka di sini

Oleh
HERU KURNIAWAN

"Aku mencintaimu," kata ini meluncur dari seorang pemuda yang berpakaian rombeng dan belepotan kotor. Ia nyengir, seperti tak ada beban berkata seperti itu. Dan perempuan yang diajaknya bicara hanya cengar-cengir, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terbalut kain kotor. Ia senyam-senyum, cengengesan dan mengulum ibu jarinya.
"A.....pa, akang mencintaiku," kata perempuan itu pelan dan lenjeh, "aku juga mencintai akang," lanjutnya.
Pemuda itu tersenyum, cengengesan, dan segera berlari. Aneh, tapi itulah yang selalu diperbuatnya. Ia lari kencang sekali, tak peduli. Lari tanpa arah, yang dibenaknya hanya ada kata: sungai. Dan, di sungai yang kotornya tak ketulungan pemuda itu menceburkan diri,"byuuuurrrrr"
"Ha...ha...ha....," rupa-rupa anak gelandangan yang melihat kejadian ini tertawa.
"Sungai inikan habis kita kencingi"
"Tadi, aku juga buang tahi"
"Orang gila itu hebat, berani mandi dengan kencing dan tahi kita"
Kata-kata anak gelandangan itu bersahutan. Menertawakan.
Pemuda itu tak peduli, terus mandi dan berenang ke tepian. Seterusnya ia mengusir anak-anak gelandangan itu.
"Dasar anak-anak gila, edan, gila...," teriak pemuda itu.
"Kamu yang gila, ceritanya lagi jatuh cinta...ha..ha..ha.." ledek anak-anak itu.

***
Di perkampungan kumuh itu, siapa yang tidak mengenal pemuda gila itu. Orang-orang memanggilnya pemuda gila. Tingkahnya yang selalu aneh semakin melegitimasinya sebagai pemuda gila; suka mandi di kali yang kotor, berteriak memanggil nama-nama perempuan, nyanyi-nyanyi sendiri, bicara sendiri semuanya sudah jadi kebiasaan setiap hari. Tapi, ada penghargaan terhadap pemuda gila itu, ia pintar, cerdas, dan dermawan sekalipun hidupnya sangat hina dan miskin. Jangan menyebutnya miskin, karena dalam dunia orang gila yang hina tak ada yang memikirkan harta, yang ada hanya pikiran mengisi perut untuk hari ini. Hebat, tak pernah memikirkan uang untuk jadi kaya.
Ceritanya pemuda gila itu lagi jatuh cinta. Sama siapa? Sama gadis gila yang biasa berkeliaran di jalan. Siapa namanya? Tidak tahu. Rumahnya? Juga tidak tahu. Di mana ketemunya? Di tepi jalan. Waktu itu, gadis gila itu lagi nyanyi-nyanyi dengan menggendong boneka. Di matanya boneka itu adalah anaknya.
"Mau ke mana, Neng?"
"Cari ayah, untuk anak ini"
"Emangnya siapa ayahnya?"
"Tidak tahu. Tapi, kamu kok mirip juga dengan pemuda yang memerkosaku dan mengambil anakku."
"Masak!"
"Iya bener, wajahmu, matamu, hidungmu, tubuhmu, iya mirip benar dengan orang yang kucari"
Sejak itu, pemuda itu merasa bangga dengan dirinya. Ia merasa lelaki, sebab ada perempuan yang mencari. Dan dia jatuh cinta, saban hari yang selalu dilakukannya adalah berkata tentang Cinta. Cinta. Cinta. Tak mengherankan bila sebagian teman-temannya yang gelandangan dan gila juga mengatakan ia semakin gila karena Cinta. He...he...he...
Pemuda itu terus berlari, anak-anak gelandangan mengikutinya di belakang.
"Hidup Cinta, hidup Cinta, hidup Cinta," teriak anak-anak itu layaknya suporter kesebelasan yang mendukung timnya bermain pertandingan sepak bola.
Di depan warung penjual es, semua berhenti. Dan, pemuda itu memesan es sejumlah dengan pengikutnya. Semua ditraktir es oleh pemuda gila itu. Asyik kan.
"Wah, hebat. Cinta itu hebat, ya. Bisa bikin kaya, buktinya si Gila ini mentraktir kita hanya karena Cinta," seru salah seorang anak.
Pemuda itu tersenyum. Nyengir. Bego.
"Cinta itu sebenarnya apa sih, Gila," tanya seorang anak pada pemuda gila itu.
"Cinta itu,...nanti dech kutunjukkan. Sekarang habiskan dulu es-nya."
Setelah selesai pesta es, pemuda gila itu berkata, "apa kalian pingin tahu, Cinta itu apa?"
Serentak anak-anak gelandangan itu menganggukkan kepala.
"Ayo, sekarang ikut aku. Akan kutunjukkan pada kalian Cinta itu apa," kata pemuda gila itu. Dan berlari. Semua anak mengikuti dengan perasaan penasaran. Di tepi jalan raya yang dipadati kendaraan pemuda gila itu berhenti. Anak-anak gelandangan itu mengikuti. Berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Kesal.
"Ayo, dong katakan Cinta itu apa, Gila?" kata salah seorang anak.
"Cinta itu tidak bisa dikatakan, tapi hanya bisa ditunjukkan," kata pemuda gila itu. Menegaskan.
"Kalau begitu tunjukkan dong, biar kita tahu Cinta itu apa?" tanya anak yang lainnya.
"Baiklah, lihat ini"
Pemuda itu segera berlari menyeberang jalan raya itu. Dan...
"Ha!"
Semua mata anak-anak gelandangan itu terbelalak. Gila, seru mereka dalam hati. Melotot, mereka tak percaya. Menyaksikan pemuda gila itu menabrakkan tubuhnya sendiri pada sebuah mobil yang melaju sangat kencang. Darah berhamburan membuncah. Tubuh pemuda gila itu berkeping-keping hancur. Pisah. Kepala pemuda itu menggelinding ke arah gerombolan anak gelandangan itu.
"Inilah Cinta," lirih kata kepala pemuda gila itu. Kemudian menutup matanya. Mati.
"Lari....!" seru salah seorang anak.
Mereka berhamburan pergi. Berlari dan salah seorang anak itu membawa kepala pemuda gila itu.
Di padang perkebunan yang luas anak-anak gelandangan itu berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Dan ingatan mereka terus terbayang kematian pemuda gila itu yang tragis.
"Itulah Cinta anak-anak, sama dengan kematian," kata ruh pemuda gila itu yang merasuk ke batin anak-anak gelandangan itu. Semua pikiran anak gelandangan itu sedang berkecamuk, menafsirkan arti Cinta yang tadi dijawab oleh pemuda gila itu dengan kematian.
Anak-anak, Cinta itu mati. Cinta itu mengorbankan nyawa. Cinta itu bunuh diri. Cinta itu membinasakan. Cinta itu memisahkan tubuh menjadi bagian-bagian kecil. Cinta itu sama dengan kematian. Ha...ha...ha...bisik ruh pemuda gila itu pada anak-anak gelandangan itu.
"Apa yang kau bawa"
"Kepala si Gila"
"Ha!"
Semua anak terperanjat kaget, melihat teman mereka yang membawa potongan kepala pemuda gila itu. Kepala itu diletakkan di tanah, sebagian anak-anak menutup matanya takut melihat potongan kepala pemuda gila itu yang masih segar dan berlumuran darah.
"Untuk apa kau bawa kepala pemuda gila itu?"
"Untuk kuberikan pada gadis gila itu"
"Maksud, kamu, pacar si Gila ini"
"Ya"
Semua mata anak-anak gelandangan itu menatap kepala pemuda gila itu. Tenang. Hening. Seperti sedang terjadi penghormatan atas kematian pemuda gila itu.

***
Di tepi jalan ramai, seorang anak kecil menyerahkan sebuah bungkusan plastik pada gadis gila itu.
"Ini untukmu, Gila"
"Hore..hore...ada anak edan ngasih hadiah padaku. Hore.."
"Dasar gila," gerutu anak itu seraya pergi. Berlari.
Di rumahnya yang kotor, berlantai tanah, berdinding kertas kardus dan beratap plastik gadis gila itu membuka bungkusan plastik itu. Darah tersegap. Berhenti sejenak, mata gadis gila itu membulat seperti bumi. Muka memerah dan air mata berurai. Tarikan napasnya mengisyaratkan tekanan batin yang luar biasa memilukan.
Seketika ia mengamuk, rumah kotornya diobrak-abrik dan dibakar, tak ayal api merambat cepat dan membakar seluruh isi perkampungan kumuh itu. Api membara melahap semua yang menghadang, dan ratusan orang berteriak-teriak minta tolong seraya berusaha memadamkan api dengan air. Tapi sia-sia, api kadung sudah gila pula.
Gadis gila itu lari. Hilang. Entah ke mana.
"Lihat, itu ada mayat, di tepi sungai" seru seorang anak gelandangan. Segera, teman-temannya melihat yang ditunjuk anak itu. Dan, semua kaget saat mengetahui kalau mayat itu adalah gadis gila pacar dari pemuda gila itu.
"Inikah Cinta, Gila" seru hati setiap anak gelandangan itu.

***
Masanya terus beranjak, kini usia anak-anak gelandangan itu bertambah dua puluh tahun. Mereka telah dewasa. Tapi, aneh tak satu pun di antara mereka yang mau menikah atau pacaran. Kenapa? Mereka bilang takut dengan Cinta. Kenapa? Cinta itu Gila. Maksudnya? Dua manusia Gila itu telah mengajari Cinta, sungguh Cinta itu benar-benar Gila. Mematikan. Mereka tak mau mati. Tapi, apa kalian tidak melihat ibu-ibu kalian yang selalu resah menantikan kehadiran cucu, demi kelangsungan hidup manusia-manusia gila. Dunia perlu ekosistem, ada yang mulia, harus ada juga yang hina! Ha, apa benar, kita harus bagaimana?
Desa Mengger, 10 April 2005

cerpen cinta video

kahitna - cerita cinta


Cerita Cinta By Noryn Aziz Music Video


Glenn Fredly - Akhir cerita cinta


Cerita Cinta Lima Bintang (Demi Bumi) "Ke Gedung"

cerpen cinta yang aneh

<>Oleh Fahrur Rozy

<> Aku melihat sesuatu yang berbeda dalam keheningan dan kedamaian matanya. Terlalu cantik, ah mungkin sangat anggun ah... tidak pantas dia bagiku karena sangat terlalu. Kokok ayam jantan menghentikan putaran tasbih cintaku.

”Suwarno, aku melihatmu tadi malam. Engkau tampak gelisah tak bisa tidur, adakah yang engkau sembunyikan dari Bundamu.”

”Entahlah Bunda, ada sesuatu yang membuat aku tersenyum sendiri. Tapi sesuatu itu... aku tidak bisa menamakannya. Jika namanya jauh aku merasa kesepian dan aku merasa tidak dikehendaki.”

”Tenanglah. Aku tahu apa yang membuat pemuda seusiamu menjadi gelisah. Bundapun pernah merasakan waktu dengan Ayahmu. Itu adalah cinta Nak. Hmm.. tampaknya putraku bertambah besar. Eh kalau Bunda boleh tahu siapa gerangan gadis yang telah membuat putraku ini sekarat dalam cintanya.”

Aku tak menjawab, aku takut Bunda akan menertawakanku.

”Tidak mau cerita pada Bunda ya. Tapi Bunda sudah tahu nona mana yang engkau sembunyikan itu?”

”Siapa Bunda?”

Nih undangan ulang tahun dengan aroma melati yang memikat dari Eliah, putri Pak Lurah temanmu sewaktu SD. Waktu SMP dia dapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya sampai kuliah di Amerika karena memenangkan olimpiade Fisika. Kini Eliah pulang, dia ingin merayakan ulang tahun di desanya daripada di Amerika. Bagaimana wajahnya sekarang ya calon menantuku tersebut. Eh apakah kamu masih menyimpan surat cinta pertamanya sewaktu SD dan kamu minta ibu pakai lipstik untuk dikecupkan pada surat balasanmu. Ha... ha...”

Aku tersipu malu. Bunda terus menggoda yah hanya bunda dan bapakku yang aku cintai dan kekasihku yang tiap malam mendatangiku hingga kuberpaling dengan cinta yang lain. Aku ingin sekali bertemu dengannya, telah ribuan kali aku berkirim surat cinta padanya dan merayunya. Tapi entah kenapa dia masih menggodaku dan membuatku penasaran. Sudahkah cintaku diterima? Hanya kalimat itu yang terus terngiang dalam rindu tak tertahankan.

”Betulkan tebakan Bunda?”

Aku mengangguk-angguk serta tersenyum dalam lamunannku yang penuh kedamaian, aku merasa dalam taman surga.

”Ha ha akhirnya rahasiamu terbongkar. Kamu pasti memikirkan kenangan-kenangan indah dengannya,” teriak Bunda yang melihat anggukan kepala dan senyumanku. Bunda mendekapku, yang kutahu dekapan itu adalah dekapan yang tidak ingin berpisah denganku bukan karena tebakannya. Aku merasakan irama jantungnya berdetak tenang, tenang dan tenang walaupun jantungnya terserang kanker ganas.

”Ingat nanti malam kamu jangan pernah berpikir apapun karena yang didamba telah mendatangimu. Inilah yang namanya jodoh.”

”Baik Bunda, aku harus ke sawah. Bapak telah menungguku.”

########################

<> Malam itu aku pergi ke tempat yang paling kusukai, gubug di tepi air terjun dengan pemandangan angkasa yang indah dan hamparan sawah menguning yang makin ber-emas dengan sinar purnama. Di sinilah aku menemukan kekasihku, diantara pohon-pohon, gemercik air, bintang, hingga di jasadku. Aku mulai memikirkan kekasihku....lagi

”Jika hanya nyawa ini yang engkau inginkan untuk mendapatkan cintamu, ambillah. Jika tersiksanya badan ini agar engkau menjadikanku sebagai kekasih, siksalah badan ini. Kirimkanlah surat cintamu, wahai pesona.”

”Mas, ada apa. Merindukanku?”

Aku tersadar ada yang mengutitku dan mendengarkan keluhanku sejak tadi. Logatnya kebarat-baratan.

”Ternyata you masih menepati janji waktu kita kanak-kanak”

”Siapa kamu?” Aku bertanya pada sosok gadis elok di depanku berambut pirang terurai dengan asesoris gaya kawula muda barat tapi masih sopan untuk ukuran kesusilaan desaku. Senyumnya yang menawan dari bibir tipis membuat aku sedikit mengenalnya.

”Waktu selalu berubah. You boleh melupakanku tapi gubug ini adalah aku. Yah gubuk ini you buat untuk menunjukkan cintamu padaku dan you berjanji akan menjaganya sampai aku pulang. Ha ha tapi itu dulu ya mas?!”

”Bunga Bangkai! Kapan datang dari Amerika,” sontakku kaget.

”Ha ha, baru saja aku datang dan langsung ke sini. Bunga Bangkai! You masih ingat nama panggilan sayangmu kepadaku yang kita rahasiakan. Ah panggilan itu kan muncul waktu si Kalim memberikan bunga mawar untukku. Dan si Wirai memberikan untaian tunas pakis. You cemburu dan mengajakku masuk ke dalam hutan. You menunjukkan bunga Bangkai. Dan you berkata bahwa bunga mawar dan tunas pakis tak akan mampu mengalahkan bunga Raflies karena kekokohannya. Katamu cinta adalah kekokohan bukan dari aromanya dan semainya.”

”Ha.. ha...,” kami berdua tertawa. Dan kami bercerita sampai ayam berkokok memberikan titik akhir cerita. Tapi entah kenapa aku merasakan cinta masa kecilku itu tak membuat aku tentram.

”Hai you sudah punya pacar?”

Aku terdiam. Eliah sangat cepat perubahannya, dia kini lebih agresif. Aku merasa dia bukan Eliah kecilku lagi.

”I’m sorry. Nanti you harus datang ya. Ini juga reuni SD kita. Mas Kalim dan mas Wirai juga diundang. Pasti seru ya ada cemburu-cemburuan kayak masa kecil dulu. Aku juga membawa teman dari Amrik nanti aku kenalkan. Mereka anggota band terkenal lho dikampusku. Dah...”

Kami berpisah, kumemandangnya dengan terpaksa. Belum beberapa meter melewati pematang sawah, Eliah berbalik arah menujuku yang masih terpaku di dalam gubug.

”Perdengarkanlah suara serulingmu karena itulah yang sangat aku rindukan darimu.”

Aku mengeluarkan seruling dari balik baju dan kuperdendangkan lagu kebangsaan cinta kita. Eliah meneteskan air mata, tubuhnya mulai merapat pada tubuhku. Kepalanya bersandar pada bahuku. Hingga secercah sinar fajar terpaksa muncul sebelum waktunya hanya untuk menyaksikan cinta yang lama bersatu kembali. Lagi-lagi aku merasa dia bukanlah yang aku rindukan selama ini. Tak tentram hatiku. Siapakah gerangan engkau wahai penyiksa hatiku...Aku yakin bukan yang di sampingku.

##################

Pesta yang sangat meriah. Musik khas kawula muda Amrik menghentak diiringi tepuk tangan undangan. Aku datang terlambat melaui pintu dapur, ada sesuatu yang menyiksa dan memaksaku untuk menyebut namanya beribu-ribu kali pagi itu. Kedua orang tuaku membantu pesta Ultah Eliah sudah menungguku. Wajahnya tampak kelelahan menyambutku di dapur.

”Anakku kenapa engkau tampak lesu. Bukankah engkau sudah mendapatkan cintamu kembali?”

”Dia memang cintaku Bunda, tapi semenjak kepergiannya aku merasakan ada cinta yang lebih hebat dari cintanya. Entahlah, cintanya membuat aku tidak mau berpaling darinya”

”Cintanya gadis mana yang membuat engkau tersiksa. Adakah yang lebih indah di desa ini dari Eliah?”

”Dia lain dari yang lain Bunda. Jika dia menjadi kekasihku aku yakin aku adalah orang yang paling beruntung.”

Ugh. Itulah kenapa cinta sulit dinalar. Tapi ingat jangan paksakan cinta, sebab cinta adalah keliaran. Pergilah ke ruang pesta mungkin kekasih tak sejatimu sedang menunggu”

Aku mencoba menenangkan diri, merapikan setelan jasku yang pernah dipakai Bapak waktu menikah dengan Bunda.

”Oh yang kutunggu dari tadi,” sambut Eliah.

Mataku menatap parasnya, sangat luar biasa cantiknya. Tubuhnya dibalut gaun rancangan desainer muda temannya yang bisa menghabiskan tanah di desa ini untuk desainnya saja.

”Maaf ya terlambat. Aku ucapkan selamat ulang tahun yang ke 25. Semoga Allah menjagamu”

Tank you. Mau berdansa denganku?”

”Aku tidak bisa berdansa”

Eliah menyambar tanganku. Dengan lagu yang romantis dia memelukku dan mulai berdansa. Bunda dengan mata sayunya mengintip dari nako ruang tamu. Bunda mengerti apa yang sedang terjadi padaku. Aku berharap Eliah tidak mencintaiku walaupun aku masih menyimpan benih cintanya karena aku telah menduakanmu. Maaf...

Lagu berhenti seluruh yang hadir bergerombol di depan panggung. Di sana telah berdiri Pak Lurah Matgiso seorang paripurna Jenderal TNI dan istrinya, Bu Dar. Tak lama kemudian Eliah melepaskan genggaman tanganku. Lilin ditiup dan muncullah pemuda Jepang memberikan ciuman hangat di keningnya. Aku terperanjat, ada sedikit rasa cemburu tapi kembali redup saat aku yakin itu adalah budaya Barat. Pak Lurah memegang mikrofon memberikan sambutan. Awalnya datar tapi pada saat kalimat ini....

”...Pemuda ini adalah salah seorang profesor muda bidang Fisika dan Biologi terkemuka di Amrik. Einstien Asia julukannya. Dia yang selalu membimbing Eliah dan mengajarinya banyak hal. Pemuda bernama Fain Caing Bo Gail ini telah masuk Islam dan berganti nama menjadi M. Sudin Sukardi. Dia akan.... menikahi putriku, Eliah”

Kenangan indahku masa kanak-kanak bersama Eliah berhamburan keluar dari ingatanku. Bundaku tersenyum terpaksa, dia menghampiriku dan mendekapku. Jantungnya menenangkanku dan seolah berkata; kini engkau putraku terbanglah bersama kekasih yang engkau puja setiap malam itu bukankah itu yang engkau harapkan. Eliah tersenyum kepada seluruh undangan tapi dia melewatkanku dalam pandangannya. Aku berpamitan pada Bunda tak tahan juga melihatnya berdua bermesraan di atas panggung.

”Bunda tolong kasihkan bunga di belakang rumah padanya. Aku tidak berani membawanya ke sini, baunya akan merusak pestanya.”

#######################################

Aku berlalu menuju gubug. Kumainkan suling pada alam, kuberitahu pada mereka bahwa aku tidak patah hati karena Eliah. Tapi kerinduan pada cinta kekasihku yang lain. Malam itu kerinduanku memuncak dan cinta sudah pada titik nadzir. Aku mulai berjalan menjauh dari gubuk. Namanya telah menghilangkan kesadaranku, semakin jauh sudah aku berjalan meninggalkan desaku. Entah berapa jauh aku berjalan hingga kakiku bengkak dan pakaianku kumal. Namanya dalam hati terus ku sebut tak sekedip matapun hatiku melupakannya. Sekelilingku seakan semua semu, hampa, tak ada kesejatian. Dari lemparan buah busuk warga yang kulalui sampai teriakan bahwa aku aku ini gila tak membuat hati ini goyah dalam dekapan cintanya. Rindu tak tertahankan akhirnya terobati, surat cintaku terbalas. Tubuhku kini adalah tubuhnya, kakiku adalah kakinya dan setiap inci dari tubuh ini adalah dia. Aku telah bertemu sedikit aromanya, aku tersenyum dan dunia semakin jauh meninggalkanku.

Sepuluh tahun sudah aku mencium aroma kekasihku, kurengkuh kenikmatan cintanya yang luar biasa. Kekasihku telah membuka cadar rahasianya yang membuat aku semakin tergila dibuatnya. Sangat indah...andai engkau merasakannya. Saat masa-masa indah bersama aroma kekasihku itu aku memutuskan pulang, kurasakan detak jantung bundaku dari ribuan kilo ini mulai melemah...

<>#######################
Tibalah aku di desaku, semuanya berubah. Penduduk menyaksikanku tampak aneh, dengan rambut panjang yang gimbal, kumis dan jenggot tumbuh tidak terawat. Di sana telah berdiri Universitas Fisika yang megah. Aku tidak berani memasuki desa lebih jauh, takut menakuti anak-anak desa. Kuputar haluan menuju gubug, kuharap tak berubah. Ternyata gubugku terawat dengan puluhan bunga raflies. Aku mengeluarkan seruling, kuharap alam desaku masih bisa mengenalku. Malam telah tiba, aku membersihkan diri di air terjun. Dengan mengedap-endap aku menuju rumah, bersama kekasihku untuk aku kenalkan pada Bunda.

”Assalamualaikum, Bunda, Bapak”

”Waalaikum salam. Siapa gerangan itu?”

”Aku dan kekasihku”

”Suwarno. Kaukah itu putraku. Sudahkah engkau mendapatkan cinta kekasihmu”

<>”Benar Bunda, dia mengajakku untuk bertemu Bunda dan Bapak”
”Kemarilah Nak”
Bunda dan Bapak menyongsong dan mendekapku sangat erat, aku rasakan jantungnya berdetak kembali. Kami bercakap-cakap menanyakan keadaan masing-masing. Bunda terbebas dari kankernya, Eliah membawanya berobat ke Amerika.
”Eliah bagaimana keadaannya?”
”Dia kini menduda, Sudin Sukardi terbakar di labnya saat melakukan riset untuk mendapatkan hadiah Nobel. Dua bulan kemudian kandungan Eliah keguguran. Dia sempat frustasi dan sering menyendiri di gubug. Dia bercerita padaku bahwa dia terbebas dari keputusasaannya saat meneliti alam disekeliling gubug, ternyata ada yang kuasa menentukan nasib. Engkau menghilang karena mendengarkan alam disekitar gubug. Begitu simpulnya,” kata Bunda.
”Dia kini menjadi rektor. Tahukah kamu, sebenarnya dia sangat mencintaimu, cintanya tidak pernah padam sejak kanak-kanak. Dia menikah karena Sudin Sukardi berjanji akan menemukan formula untuk menjaga kualitas hidup Bunga Raflies. Sudin Sukardi berhasil, bunga Raflies hidup sampai dua tahun. Mungkin dia ingin cintanya padamu selain kokoh juga tahan lama. Eh kamu masih ingat hadiah ulang tahunnya, Bunga Raflies itu. Dia sendiri yang menanamnya di gubug dan mencoba formula Sudin Sukardi. Eliah dan Sudin Sukardi telah mencarimu kemana-mana,” lanjutnya.

”Dan apakah kamu telah menemui kekasihmu. Ke mana dia, kenapa tidak diajak masuk?”tanya Bapak.

”Dia hanya mendekat saat kita dekat dan dia akan jauh saat kita jauh”

”Apakah yang kau maksud kekasih sejatimu itu...”

”Allah. Benar Bunda, aku sangat mencintaianya. Dan Dialah yang menuntunku pulang. Aku sangat mencintaiNya Bu”

Aku menerawang jauh mata Bunda. Dan kembali Bunda memelukku. Orang tuaku menangis...

”Besok Eliah ulang tahun. Engkau bisa datang”
##################
Acara mewah di audotorium kampus di kemas dalam konsep pribumi. Puluhan Limosin berdatangan, para tamu negara juga banyak yang datang. Penjagaan amat ketat hanya yang membawa undangan yang boleh masuk. Aku lihat teman-teman SD ku banyak yang datang. Acaranya sangat Islami. Ada Rebana dan gambus. Dari balik panggung aku lihat Eliah melakukan sambutan, matanya tampak lebam dan berkaca-kaca.

<> <>”Terima kasih Anda telah datang. Terima kasih juga kepada kedua kekasihku, andai engkau datang kali ini...” Eliah tak kuasa menahan tangis, dia pingsan. Dengan cepat tim medis membopongnya seolah sudah terbiasa Eliah mengalami itu. Sebegitu rindukah engkau padaku Bunga Bangkai... Aku menyelinap menuju podium seluruh mata memandangku mungkin karena penampilanku yang berbeda. Alunan musik gambus berhenti untuk menghormati suasananya. Aku memulai memainkan seruling dengan alunan lagu kebangsaan cintaku pada Eliah. Alunannya melengking, yang hadir diam seribu bahasa, berlahan meneteskan air mata. Eliah siuman, Bunda dan Bapak serta orang tua Eliah membopongnya menuju panggung. Aku berhenti. Kudekatkan mulutku pada mikrofon.
<>”Para hadirin. Dialah calon istriku. Kekasihku yang menghendaki dia jadi istriku
<>Eliah tersenyum padaku. Aku menyebut kembali kekasihku dalam hati, ”Ihdina sirathal mustaqim. Allah, Allah, Allah...!”

cerpen cinta, cinta mati

Akhirnya….selesai juga mandi mataharinya” keluh Koko, sambil mengelap keringatnya yang sudah membasahi hampir semua baju seragamnya, ini upacara yang paling lama ia ikuti sepanjang 8 tahun ia sekolah.
“Enggak seperti biasanya juga sebuah sekolah yang terletak di kota hujan Bogor, di selimuti cuaca yang panas. Aku bisa mati kepanasan kalau setiap hari seperti ini,” Koko lagi-lagi mengeluh.
Cowok berbadan subur seberat 82kg, memang bukan tipe cowok yang kebule-bulean yang suka berjemur dengan panas matahari, ia asli sunda tapi enggak bisa bahasa sunda sedikitpun. Badan gempalnya sering jadi ledekan semua temannya, banyak yang mengatakan kalau ia mirip mobil tangki pertamina, gas elpiji, lebih parahnya lagi ia disamakan mirip Ruben Studdart pemenang American Idol itu (eh salah ding, kalau itu sih pujian).
“Pecundang, butelan kentut…ngapain loe bengong disitu…”Aldo ketua osis keren, tampang model, neriakin Koko yang masih bengong sendirian dilapangan.
“eh…oh…,”Koko baru sadar dari lamunannya, ia berlari dengan segera ke kelasnya yang ada di lantai tiga, parahnya lagi ia harus menaiki tangga untuk menaiki kelasnya dan tidak ada lift seperti gedung-gedung mewah di sebelah sekolahnya. Walaupun ada keuntunganya juga ia menaiki dan menuruni tangga, ia bisa menurunkan berat badannya yang sudah segede karung beras. Tapi kali ini kerugian di depannya ia bisa telat memasuki kelasnya, yang pelajaran pertama dimasuki oleh guru antropologi yang super killer.
”My God…, ini mungkin hari terakhir kehidupan gue” Ucap Koko tersengal-sengal kehabisan tenaga ketika ia sudah di depan pintu kelasnya.
Kreeekkk….pintu kelas ia buka, AAAAAHHHHH……..jerit Koko kaget, asli kaget, sebuah penghapus papan tulis sudah melayang siap mengenai wajahnya, “Heeiiitt…..mirip Sthepen Cou difilmnya Kungfu Hustle, Koko menghindari penghapus papan tulis itu, apesnya penghapus itu mengenai kepala sekolah yang kebetulan lagi lewat.
“Mampus loe Killer” ucap Koko dalam hati kesenengan.
“Maaf, Pak Tedjo bisa menghadap saya sekarang,”Si Tedjo, wong killer itu di panggil oleh Ibu kepala sekolah kekantornya.
Anak-anak yang lainnya di dalam kelas langsung berteriak senang, termasuk Koko sendiri, pertama ia bisa terhindar dari hukuman Si Killer, kedua ia bisa enggak mengikuti pelajarannya yang asli ngebosenin banget.
Sayang, beberapa menit kemudian, tawa semua anak sekelas dan kehidupan surga yang diterima oleh Koko karena Bebas dari hukumannya harus terhenti sekarang, karena Si Killer balik lagi, tapi bukan dengan Ibu Kepala Sekolah melainkan dengan Angel, malaikat kepagian yang langsung membuat mata dan hati Koko dan belasan murid laki-laki lainnya lumer.
“Kamu Koko jangan ketawa dulu…..hukuman kamu masih berlaku”Tunjuk Si Killer, tepat mengarah kemuka, seolah ia ingin menggigitnya buas.
Koko Cuma tertunduk mengucap mantra-mantra penyelamat jiwanya, ia berharap jin penghuni kelas bisa mengubah kata-katanya Si Killer.
“Perkenalkan, kali ini Bapak membawa teman baru kalian semua, ia pindahan dari kalimantan, perkenalkan nama kamu” suara serak ala mbah dukun keluar dari bibir hitam Killer yang pengidap linting putih alias rokok.
Cewek kuning langsat, manis, cantik, ayu, dan proposional banget, itu maju selangkah dari tempat ia berdiri, ia mulai membuka mulutnya.
“Nama aku…, Luna Prisma.
“eleh….pemain aktris Cinta Silver jeung Ruang nyak, eleh-eleh geulis pisan euy, meni ayu”celetuk acep warga penghuni lembah kerak bumi yang sunda teuing.
“Hemm, bukan aku cuma orang biasa, hobby aku berburu sama friendster, tapi karena disini enggak ada hutan lebat kayaknya harus di tunda, dan …aku harap kalian bisa bantu aku selama disini” suara lembutnya memenuhi isi kelas, yang membuat orang dapat tertidur seketika. Luna pun, berjalan menuju kursi kosong yang ada di depan tempat duduk Koko.
“Mang…..laler tah rek asup, liat cewek sampe mangap kos kitu, tah ti depan situ bidadarina diuk” Gorli membangunkan Koko yang terlena melihat kemolekan Luna.
Ketika istirahat, semua isi sekolah langsung menyerbu kelasnya Koko daya tampung ruang yang cuma 40 siswa berubah jadi lautan kaum adam yang ingin melihat paras ayu wanita kalimantan.
Banyak yang memasang wajah mupeng ketika ia sudah melihat Luna.
“Minggir-minggir…,”Aldo dan komplotannya datang, ketua osis yang super jago taekwondo ini menarik semua orang yang menghalanginya.
“Ngehe’ loe”celetuk salah seorang siswa yang enggak tahu siapa.
“Hai….gadis manis……, pindahan ya….dari mana…?”tanya Aldo basi dan enggak berbobot.
“Dari kalimantan” Jawab Luna singkat dan males-malesan.
“Kamu……
“Sorry aku mau ke toilet” Belum sempat Aldo meneruskan kata-kata-nya, Luna langsung berdiri beranjak pergi, tapi tetep aja mata keranjang kaum adam, pengikut buaya darat mengikutinya.
Inilah enggak enaknya jadi anak baru, bingung mau kemana-mana juga, semua masih asing.
“Eh….sorry toilet dimana….?”Luna menepuk bahu Koko dari belakang, dan itu malah membuat Koko terbengong-bengong.
“Hei…hei…”Luna melambaikan tangannya di depan wajah Koko yang mirip orang mati dan kaku.
“Ohh..o…sorry kamu kesana aja lurus terus ruang sains belok kanan sampe,”tunjuk Koko gelagapan.
“Makasih ya…, kamu yang duduk di belakang aku kan”Koko Cuma bisa mengangguk”Nanti kita ngorbrol-ngobrol daaahh…..”Luna berlalu dari hadapan Koko, tapi tidak di hatinya.
“Ini baru cinta”desis Koko pelan.
“Plaak…..”kepala Koko di pukul dari belakang.
“Anjing….”Koko mengelus-elus kepalanya.
“Mimpi loe, cinta-cinta”Gorli menarik Koko balik kekelas.
Sejak dari itulah Koko yang tadinya, enggak semangat buat kesekolah, males ngerjain Pr, tidur dikelas, sekarang berubah 1800 . Ia jadi anak yang rajin dan tepat waktu, seolah setengah nyawanya yang kemarin hilang kini sudah kembali. Ia pun semakin dekat dengan Luna, Luna yang mempuyai sedikit banget teman karena ia bukan orang yang gaul, lebih memilih Koko sebagai teman bicaranya karena Koko memang orang yang banyak tahu tentang semua hal. Sayang enggak untuk hal kewanitaan.
Setiap hari, waktu dan itu membuat perasaan cinta Koko makin membuatnya sering berdebar-debar ketika sedang berdua dengan Luna dan itu membuatnya sedikit tersiksa, kadang ada perasaan dan keinginan buat nembak Luna tapi selalu ditunda oleh Koko karena urusan fisiknya. Oleh karena itulah kemarin siang ketika jam pelajaran selesai Koko iseng nanya.
“Luna kok’ belum dapet pacar udah dua minggu disini ?,”tanya Koko yang gemetaran.
“Masih belum nemu yang cocok aja, mungkin nanti, tapi Koko tau enggak cowok yang pake jaket putih itu siapa,”Luna menunjuk Arvi maskot sekolahnya Koko.
“Oh….itu Arvi, tapi jangan sekali-kali deketin dia,”larang Koko dengan mimik serius.
“Kok’,emang kenapa ?,”Luna penasaran.
“Dia pemake….narkoba,”Koko terpaksa ngejelekin Arvi.
“Ya, udah deh pulang yuk…..
Lega sudah hati Koko saingannya telah hilang, tapi ia masih sangat merasa bersalah banget udah ngejelekin Arvi yang aslinya super duper baek. Tapi ini demi cinta pertamanya di dunia dia siap ngelakuin apa aja.

Sebulan sudah Luna ada di kota Bogor kota hujan yang akhir ini lebih sering panas, ia dan Koko semakin dekat seolah mereka sudah berteman sejak puluhan tahun yang lalu.
“ Ko, jalan aja ya…!, gak usah naik angkot, panas”Ajak Luna.
“Terserahlah…..”jawab Koko, santai.(dalem ati gugup tuuuhh…)
“Tadi lu bilang Arvi, jahat tapi kok dikantin tadi dia baik banget, kayaknya dia perhatian banget gitu”Cerocos Luna.
“oh…masa..sih…?”Koko sok-sok gak tau.
“Lu salah kali Ko,”
“Mungkin sih…”Koko ngalah.

bEsok di Skul
“Ko………Koko……..”teriak Luna.
“Hai…pagi, ceria banget….”Koko seperti biasa tersenyum sumringah.
“Gue kekantin dulu ya…Ko…pulang jangan lupa bareng lagi…”Luna berbelok kekantin..sedangkan Koko terus berjalan kekelasnya sambil terus memandang Luna….menghilang dibalik tembok.
Koko yang sejak pertama kedatangan Luna sudah memendam cintanya, berniat pulang sekolah ini mau nembak, Luna. Kenapa enggak pikir Koko, lagipula mereka udah deket banget buat pegangan tangan sama cepika-cepiki udah biasa, pulang sekolah adalah saat yang tepat,”pikir Koko yakin.
Pulang sekolah Koko pulang bersama Luna sesuai rencananya Koko ingin nembak Luna di taman bunga dekat sekolahnya. Mereka berjalan berdua seperti biasanya yang membuat mata kaum adam dan pria berjakun lainnya menelan ludah, pengen. Banyak diantara yang lainnya maki-maki Koko, Pecundang bajingan loe, bangsat, tapi Koko Cuma nanggepin dengan senyum-senyum aja.
“eh….Lun…, gue jadi ngerasa akhir-akhir ini kayaknya malaikat lebih sering turun siang…ya…dari pada malem,”Koko, mengeluarkan jurus lelaki buaya darat (Ratu kaleeee…)
“Masak…sih…..kok bisa ?
“Ya…gue ngerasa…malaikat-malaikat itu banyak beri gue pencerahan ma gue akhir-akhir ini kalau lagi siang”Koko ngeles.
“Lucu yaa……,”Luna menanggapi dengan bercanda.
“Gue juga, ngerasa pelangi selalu muncul tiap hari makin hari makin terang lebih berwarna cerah, pokoknya selalu ngasih kenyamanan kalau gue selalu deket sama pelang itu,”Koko, sok romantis.
“Loe kenapa sih Ko, kayaknya hari ini omongan lu tuh puitis gimana…gitu, kenapa sih……
Mereka berhenti di pinggir jalan. Di bawah pohon Pinus, yang rindang….adem.
“Mau ngapain Ko…?”
“Kamu tunggu disini diem dulu jangan kemana-mana nanti aku mau ngomongin sesuatu,”Koko memegang bahu Luna, dan ia bersiap menyebrang ke taman bunga yang ada di seberang untuk mengambil beberapa tangkai bunga untuk di berikan pada Luna.
“TIIIIIIIIIITTT…….GUBRAK…AAAAAAH………..
“KOKO……………..”teriak Luna kaget ia langsung menghambur ke tengah jalan, darah mengucur deras dari kepala Koko, denyut nadi terhenti, jantung diam, mata tertutup ia mati, KOKO, sang pecundang, pengungkap cinta tertunda.
“I LUV U KOKO……..”bisik Luna di telinga Koko……..tanpa nyawa, dengan mata berderai. Aku juga sangat mencintaimu, aku juga sudah mengerti dengan kata-katamu tadi…….tapi sekarang aku harus menangis, aku harus sedih……tawamu yang beberapa menit tadi menghilang, kata-katamu yang puitis tadi jadi bisu, dan kini cintamu kau bawa mati. Cinta aku dan kamu mati. Miss u KOKO.

My hoz
14-02-2006
FEBRIANSYAH